Dorong Transformasi Digital dan SDM Pertanian Unggul, Widyaiswara Kementan Tampilkan Inovasi di JAMNAS WI 2026
MATARAM – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian sebagai bagian penting dalam mewujudkan pertanian modern dan berdaya saing. Penguatan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) dilakukan melalui pengembangan pembelajaran yang adaptif, inovatif, serta pemanfaatan teknologi dalam mendukung peningkatan kapasitas SDM pertanian.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kualitas SDM menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan pembangunan pertanian yang maju dan modern.
“SDM adalah elemen krusial dalam pembangunan pertanian. Kita bertanggung jawab mencetak SDM berkualitas dan kompeten,” ujar Mentan Amran.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi SDM untuk mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berdaya saing.
“Kami ingin meningkatkan kemampuan SDM untuk mendukung pengembangan pertanian yang berkelanjutan dan berdaya saing,” ujar Idha Widi Arsanti.
Komitmen tersebut tercermin dalam partisipasi Widyaiswara Kementan pada Jambore Nasional (JAMNAS) Widyaiswara ke-IV Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (DPP APWI) di Hotel Lombok Garden, Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 19–21 September 2026.
Mengusung tema “Widyaiswara sebagai Penggerak Inovasi dan Kinerja ASN Unggul untuk Birokrasi Adaptif dan Berdaya Saing Global Menuju Indonesia Emas 2045”, JAMNAS WI ke-IV menjadi ruang bagi Widyaiswara dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk berbagi pengetahuan, praktik baik, karya ilmiah, serta inovasi dalam pengembangan kompetensi ASN.
JAMNAS WI ke-IV diikuti 114 peserta dengan 170 karya inovasi dan kreativitas. Forum tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat peran Widyaiswara sebagai penggerak pembelajaran dan inovasi dalam menjawab dinamika pengembangan kompetensi ASN di tengah transformasi teknologi dan birokrasi.
Dalam forum nasional tersebut, sebanyak tujuh Widyaiswara Kementan dari empat UPT Pelatihan turut berpartisipasi sebagai pemrakarya ilmiah. Salah satunya adalah Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu yang mengutus dua Widyaiswara, yakni Eko Saputro dan Achiriah Febriana, untuk mempresentasikan karya ilmiah dan gagasan inovatif di bidang peternakan serta pengembangan pembelajaran berbasis teknologi.
Kepala BBPP Batu, Ugik Romadi, mengatakan keikutsertaan Widyaiswara BBPP Batu dalam JAMNAS WI 2026 merupakan bagian dari komitmen Balai dalam mendorong pengembangan kompetensi, budaya ilmiah, dan inovasi pembelajaran.
“Widyaiswara tidak hanya memiliki peran dalam menyampaikan materi pelatihan, tetapi juga dituntut untuk terus mengembangkan pengetahuan, menghasilkan karya inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan pembelajaran yang terus berkembang,” ujar Ugik.
Menurutnya, karya yang dihasilkan Widyaiswara diharapkan tidak berhenti sebagai produk ilmiah, tetapi dapat memberikan manfaat bagi pengembangan metode pembelajaran dan peningkatan kompetensi SDM bidang peternakan.
Dalam JAMNAS WI 2026, Eko Saputro, Widyaiswara Ahli Madya BBPP Batu, mempresentasikan enam karya yang terdiri atas tiga e-book terbitan Pertanian Press periode 2024–2026 serta tiga artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional periode 2025–2026.
Tiga e-book yang dipresentasikan mengangkat tema standardisasi keterampilan teknis dan tata kelola daging sapi, yaitu “Teknik Memisahkan dan Memotong Daging Sapi”, “Peralatan dan Perlengkapan Juru Potong Daging (Butcher) Profesional”, serta “Standar Perdagangan Internasional untuk Daging Sapi (Nama, Kode, dan Batas Potongan)”.
Ketiga karya tersebut memberikan penguatan literasi teknis terkait proses pemotongan daging, penggunaan peralatan dan perlengkapan kerja juru potong, serta pemahaman terhadap standar dan klasifikasi potongan daging dalam perdagangan.
Selain karya berbentuk e-book, Eko juga mempresentasikan tiga karya ilmiah yang telah dipublikasikan dalam jurnal nasional.
Karya pertama berjudul “Tinjauan Pustaka: Konsumsi Daging dan Implikasinya Terhadap Pencegahan Stunting pada Anak” yang diterbitkan dalam Jurnal Kewidyaiswaraan LAN RI. Karya tersebut mengulas keterkaitan konsumsi protein hewani dengan pemenuhan kebutuhan gizi sebagai salah satu bagian dalam upaya pencegahan stunting.
Karya kedua berjudul “Solein Pangan Baru Berprotein Tinggi” yang diterbitkan dalam Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian Kementan RI. Artikel tersebut membahas potensi Solein sebagai sumber protein alternatif dalam pengembangan pangan masa depan.
Sementara itu, karya ketiga berjudul “Sistem Kerja Fleksibel: Tempat Kerja Dan/Atau Waktu Kerja yang Fleksibel (Tinjauan Naratif)” yang diterbitkan dalam Jurnal Cendekia Niaga Kementerian Perdagangan RI. Karya ini mengulas perkembangan konsep fleksibilitas tempat dan waktu kerja dalam kaitannya dengan dinamika dunia kerja modern.
Beragam karya tersebut menunjukkan peran Widyaiswara tidak hanya dalam proses pembelajaran, tetapi juga dalam menghasilkan pengetahuan dan literasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan SDM, pangan, gizi, serta perkembangan dunia kerja.
Sementara itu, Achiriah Febriana, Widyaiswara Ahli Pertama BBPP Batu, membawa gagasan inovasi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pengembangan kompetensi ASN bidang peternakan.
Gagasan tersebut berjudul “Model Pembelajaran AI-LAPANG (Artificial Intelligence Assisted Learning melalui Pengalaman Lapangan): Model Pembelajaran Berbasis Corporate University untuk Penguatan Kompetensi ASN Bidang Peternakan.”
AI-LAPANG memadukan pemanfaatan kecerdasan buatan dengan pengalaman pembelajaran berbasis lapangan dalam kerangka Corporate University (CorpU). Model tersebut dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan ASN bidang peternakan.
Melalui pendekatan tersebut, AI dimanfaatkan untuk mendukung proses analisis informasi dan permasalahan yang ditemukan di lapangan. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori, tetapi juga diarahkan untuk menghubungkan pengetahuan dengan persoalan teknis yang dihadapi dalam praktik peternakan.
Partisipasi Widyaiswara Kementan dalam JAMNAS WI 2026 menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi ASN tidak dapat dilepaskan dari kemampuan untuk terus belajar, berinovasi, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Bagi BBPP Batu, keikutsertaan Eko Saputro dan Achiriah Febriana menjadi bagian dari upaya untuk terus memperkuat kapasitas Widyaiswara melalui karya ilmiah dan inovasi pembelajaran. Kehadiran keduanya juga memperlihatkan bahwa pengembangan SDM peternakan perlu berjalan beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melalui penguatan budaya ilmiah, pemanfaatan teknologi digital, dan inovasi pembelajaran, BBPP Batu berkomitmen mendukung lahirnya SDM pertanian dan peternakan yang kompeten, adaptif, serta mampu menjawab tantangan pembangunan pertanian di era transformasi digital.