Gerakan Tanam Serentak di Ponorogo, Kementan Pacu LTT Hadapi Ancaman Kemarau
Ponorogo — Upaya percepatan tanam terus digencarkan Kementerian Pertanian guna mengantisipasi potensi kemarau panjang dan dampak hidrometeorologi di Jawa Timur. Salah satunya melalui Gerakan Tanam Padi yang digelar di Desa Wilangan, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, Kamis (23/04/2026).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut instruksi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menekankan pentingnya percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) sebagai langkah strategis menjaga produksi pangan nasional. Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu yang bertindak sebagai Penanggung Jawab LTT di wilayah Blitar Raya dan Ponorogo turut mengawal pelaksanaan program tersebut.
Menteri Pertanian menegaskan bahwa optimalisasi lahan, termasuk melalui pemanfaatan lahan CSR, menjadi kunci menjaga momentum peningkatan produksi padi. Selain itu, sinergi lintas sektor dinilai krusial agar target produksi dapat tercapai secara cepat, terukur, dan berkelanjutan.
Senada dengan itu, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, mendorong petani untuk lebih adaptif terhadap perubahan iklim dengan segera memanfaatkan lahan yang telah tersedia. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir agar petani tidak menunda tanam, terutama di tengah ancaman kekeringan.
Berbagai strategi juga terus didorong, mulai dari penggunaan varietas padi tahan kekeringan, optimalisasi irigasi, pemanfaatan pompanisasi, hingga penerapan teknologi pertanian modern seperti penggunaan drone oleh petani milenial.
Gerakan tanam ini dilaksanakan serentak di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Khusus di Desa Wilangan, kegiatan mencakup lahan seluas 11 hektare. Pada hari yang sama, capaian LTT Kabupaten Ponorogo mencapai 828 hektare, meningkat signifikan dibandingkan capaian harian sebelumnya sebesar 550 hektare.
Secara kumulatif, target LTT Ponorogo pada April ditetapkan sebesar 18.633 hektare, dengan realisasi hingga 22 April mencapai 13.664 hektare. Capaian ini menunjukkan progres positif, meski percepatan tetap diperlukan untuk memenuhi target akhir bulan.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, aparat setempat, penyuluh pertanian, serta kesiapan teknis di lapangan seperti ketersediaan air dan kelancaran distribusi sarana produksi.
Gerakan tanam serentak ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung target swasembada pangan secara berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.