Perkuat Kompetensi Penyuluh Pertanian Kalbar, UPT Pelatihan Kementan Gelar Pelatihan Dasar Fungsional Penyuluh Pertanian

Batu – Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu menyelenggarakan Pelatihan Dasar Fungsional Penyuluh Pertanian (Blended Learning) pada 21 Juli hingga 10 September 2026. Kegiatan yang diikuti sebanyak 260 peserta yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat ini dilaksanakan dengan metode blended learning.

Pelatihan yang berlangsung selama 21 hari efektif ini menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan kompetensi penyuluh pertanian agar mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional serta memberikan pendampingan yang optimal kepada petani.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penyuluh memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan program ketahanan pangan nasional.

“Penyuluh adalah penggerak utama di lapangan,” ujar Mentan Amran.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penyuluh memiliki posisi penting dalam memastikan inovasi dan teknologi pertanian dapat diterapkan di tingkat petani.

“Penyuluh menjadi jembatan antara inovasi teknologi dengan petani. Pendampingan yang berkelanjutan akan mempercepat adopsi teknologi, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat kapasitas petani dalam menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian,” ujar Idha.

Penguatan kompetensi penyuluh menjadi bagian penting dalam pembangunan sektor pertanian. Penyuluh tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan komunikasi, fasilitasi, pendampingan kelompok tani, serta kemampuan mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusi bersama petani.

Pelatihan ini juga dilaksanakan untuk mendukung pengembangan kompetensi penyuluh sesuai dengan kebutuhan di lapangan, perkembangan teknologi, komoditas yang dikembangkan, serta tantangan pertanian di masing-masing wilayah.

Kepala BBPP Batu, Ugik Romadi, mengatakan bahwa peningkatan kompetensi penyuluh perlu dilakukan secara berkelanjutan agar penyuluh mampu mengikuti dinamika pembangunan pertanian.

“Penyuluh memiliki peran penting dalam mendampingi petani. Karena itu, kompetensi penyuluh harus terus diperkuat, baik dari sisi teknis maupun kemampuan dalam berkomunikasi dan melakukan pendampingan. Harapannya, ilmu yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi petani di wilayah kerja masing-masing,” ujar Ugik.

Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pembelajaran dari widyaiswara, fasilitator eksternal, dan praktisi secara daring. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan Praktik Kerja Penyuluhan Pertanian (PKPP) selama lima hari secara luring di wilayah masing-masing.

Melalui PKPP, peserta mengimplementasikan materi yang telah diperoleh selama proses pembelajaran. Hasil pelaksanaan praktik selanjutnya dipresentasikan dalam seminar sebagai bagian dari proses evaluasi dan penguatan kompetensi peserta.

Materi pelatihan mencakup berbagai aspek yang mendukung pelaksanaan tugas penyuluhan pertanian, mulai dari teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, pengelolaan sumber daya air, pascapanen, kewirausahaan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam penyuluhan. Selain kompetensi teknis, peserta juga diperkuat dengan kemampuan dalam membangun komunikasi dan fasilitasi, mendampingi kelompok tani, serta mengidentifikasi permasalahan dan merumuskan solusi yang sesuai dengan kondisi petani.

Pada akhir pelatihan, sebanyak 260 peserta dinyatakan lulus, terdiri atas 98 peserta Penyuluh Pertanian Terampil dan 162 peserta Penyuluh Pertanian Ahli.

Melalui pelatihan ini, BBPP Batu berharap kompetensi yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas di lapangan, sehingga mampu memperkuat pendampingan kepada petani, mempercepat penerapan inovasi dan teknologi, serta mendukung peningkatan produktivitas dan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. (Catur)