Swasembada Daging dan Susu Melalui Optimalisasi Peran Reproduksi dan Perbibitan Ternak

SWASEMBADA DAGING DAN SUSU

MELALUI OPTIMALISASI PERAN REPRODUKSI DAN PERBIBITAN TERNAK

oleh Divisi Reproduksi Ternak – BBPP Batu

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan dari hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah dan Kerbau (PSPK) 2011 diketahui jumlah sapi secara nasional mencapai 15,4 juta ekor. terdiri dari sapi potong 14.805.053 ekor dan sapi perah 597.135 ekor. Jika dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian 2003 yang sebanyak 10,2 juta ekor, maka selama 2003-2011 rata-rata pertumbuhan populasi sapi mencapai 5,32 persen per tahun atau bertambah 635,1 ekor setia tahun. Pada tahun 2014 kebutuhan daging sapi diprediksi 593.040 Ton.  Keberhasilan yang terpapar di atas cukup menggembirakan, dan harus dipertahankan serta di tingkatkan. Untuk terus mendorong pertumbuhan populasi ternak sapi potong  maka pengetahuan dan ketrampilan tentang reproduksi ternak harus terus di tingkatkan, hususnya ketrampilan Inseminasi Buatan (IB) sehingga angka kelahiran pedet dapat terus ditingkatkan.  

Disposisi semen pada C-4

 

Teknologi Inseminasi Buatan (IB) sangat penting,  dalam upaya mendorong kelahiran/pertumbuhan ternak, karena dengan teknologi Inseminasi Buatan (IB) petani mendapat beberapa keuntungan anatara lain; indukan ternak terhindar dari penularan bibit penyakit dari pejantan yang sakit, variasi pilihan bibit lebih banyak, memperbaiki mutu genetis. Inseminasi harus di dukung dengan skills inseminator yang tinggi, untuk menghindari kawin berulang. Tahapan prinsip dalam Inseminasi Buatan (IB), semenjak distribusi semen, penyimpanan semen, pengetahuan siklus birahi ternak, penentuan cervic, tawing, Disposisi semen, palpasi rectal, mutlak harus di pahami dan di laksanakan sesuai dengan Standart Operasional Pekerjaan (SOP) yang ditentukan.

Divisi Reproduksi, Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, di ketuai oleh drh. Udik Sulijanto, pada tahun 2014 telah melaksakan diklat IB sebanyak dua angkatan yang di ikuti oleh 36 peserta. Kurikulum disusun dengan seksama, untuk mencetak petugas IB yang handal, dan professional.  Peserta diklat IB harus melaksanakan pembelajaran teori dan  pemantapan teknik  di Rumah Potong Hewan selama 7 hari,  Pemahiran selama 10 Hari di Inseminator senior, dan Uji Kompetensi selama 2 hari, baik tertulis maupun Praktek.     
Peserta IB di bimbing oleh Widyaiswara dan fasilitator  yang berpengalaman baik teori maupun praktek,  sehingga dalam peksanaan diklat selalu mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang optimal. Selain itu selama 10 hari dilapangan  peserta di Inangkan/magangkan pada  Inseminator senior, yang telah mempunyai  jam terbang IB tinggi, dengan akseptor rata-rata 7 ekor / hari.   Widyaiswara dan Fasilitaor Balai terus mendampingi melalui kegiatan supervisi  sehingga dapat dilakukan evaluasi dan motivasi selama Pemahiran, sehingga jika ada peserta yang kesulitan selama dilapangan dalam melakukan praktek pemahiran IB, segera  mendapatkan bimbingan dan bombongan sehingga peserta bangkit kembali untuk belajar secara optimal.  Dr.drh. Kresno Suharto, MP, sebagai widyaiswara senior membimbing peserta diklat dengan penuh semangat, dinamis, sehingga peserta diklat sangat antusias mengikuti jalanannya diklat.  Divisi Reproduksi BBPP Batu, akan melaksanakan diklat IB pada bulan Agustus Angkatan III, dan Bulan Oktober 2014 untuk Angkatan IV, dengan biaya diklat Rp. 7.350.000,00, selama 21 Hari, dan peserta mendapatkan IB Kits.

Peserta diklat PKB, pemahiran mendeteksi  kebuntingan, di  Malang

 

Selain diklat Inesiminasi Buatan (IB), Divisi Reproduksi dan Perbibitan Ternak, BBPP Batu juga melaksanakan diklat Pmeriksaan Kebuntingan (PKB).  Diklat PKB, lebih untuk mengevaluasi keberhasilan IB, melalui indicator evaluasi performa reproduksi (reproduction performance) yang meliputi beberapa aspek, yaitu :service per conception, conception rate, pregnancy rate, calving rate, estrous post partum dan calving interval. Indikator tersebut tentunya tidak dapat lepas dari factor status kesehatan dan reproduksi ternak, pengetahuan dan pengalaman peternak dalam mengidentifikasi status reproduksi ternaknya, factor petugas yang mendampingi peternak, dan instrument reproduksi lainnya.
Kurikulum diklat Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) di susun selama 14 Hari, 4 hari pembekalan reori, 8 hari praktek pemahiran, dan 2 hari uji kempetensi. Pembekalan teori oleh widyaiswara professional Dr.drh. Kresno Suharto, MP, dan para dokter hewan senior di BBPP Batu. Sedangkan pemahiran di lapangan dengan pendekatan satu peserta diklat satu fasilitator lapang, yaitu petugas PKB yang telah berpengalaman, dengan harapan peserta diklat dapat lebih optimal dalam menyerap teori dan praktek di lapangan. Diklat PKB rencana dilaksanakan pada bulan September 2014, dengan dibiaya diklat Rp. 5.250.000,00, selama 14 Hari.

Praktek penanganan Endometritis, dengan irigasi Uterus

 

Dari hasil observasi lapang di Wilayah Malang dan Yogyakarta, kasus reproduksi yang sering terjadi dilapangan pada umumnya ditandai dengan anestrus (birahi tidak tampak gejalanya) dan kawin berulang. Kawin berulang merupakan salah satu problem utama.  Kawin berulang adalah suatu keadaan sapi betina yang mengalami kegagalan untuk bunting setelah dikawinkan 3 kali atau lebih, tanpa adanya abnormalitas yang teramati. Hal ini disebabkan endometritis sub klinis, sista folikuler, delayed ovulation, silent heat,  subestrus dan lameness. Penanganan pre partus dan post partus yang tidak tuntas sering menimbulkan masalah yang kronis, sehingga memperpanjang Calving Interval. Penanganan yang tidak tuntas memunculkan  jamur dan bakteri dalam uterus sehinga  memunculkan Gangguan reproduksi dan penyakit reproduksi. Sehingga harus mendapatkan treatmen dan pengobatan yang tepat. Petugas Asisten Teknik Reproduksdi (ATR) adalah petugas yang bertugas mengidentifikasi gangguan reproduksi sekaligus memberikan treatmen/penanganan yang tepat dan cepat.  Untuk membentuk petugas ATR yang handal maka BBPP batu melaksakan diklat  Asisten Teknis Reproduksi (ATR). Rencana Pelaksanaan diklat ATR Adalah Bulan  September dan Oktober 2014, dengan biaya diklat Rp. 2.750.000,00 selama 7 Hari. Selanjutnya untuk diklat ATR juga menyediakan Diklat ATR Plus menjemen penangan penyakit dan gangguan reproduksi di lapangan, selama 14 hari, dengan biaya RP. 5.200.000,00.
Kami menyadari bahwa peningkatan kapasitas , ilmu, ketrampilan, pengetahuan dan teknologi bagi petugas teknis dan fungsional yang membidangi reproduks dan perbibitan akan terwujud apabila di lakukan dengan saling bekerjasama antar stake holder  baik dinas instansi, instansi, lembaga terkait. Berdasarkan paparan di atas maka bagi dinas Instansi yang minat untuk menjalin kerjasama menyelenggarakan diklat tersebut di atas maka divisi reproduksi dan perbibitan BBPP Batu, siap untuk memfasilitasi, dengan menghubung: Divisi Reproduksdi dan Perbibitan BBPP Jl. Songgoriti. No. 24 Kota Batu, Telp. 0341 591302 – Fax. [0341] 597032, 590288, 599796 Batu.  Cp: Heru Nurwanto, (081 328 823 444).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *