Kewirausahaan

 

KEWIRAUSAHAAN

Oleh : Wasis Sarjono, S.Pt, M.Si (Divisi Diklat Ternak Perah)

1. Konsep Dasar Kewirusahaan
Perkembangan dunia kewirausahaan di Indonesia semakin menunjukkan perkembangan yang nyata, hal ini sangat dipengaruhi perkembangan IT, tingkat pendidikan dan permintaan masyarakat. Fenomena perkembangan kewirausahaan juga sudah merambat pada kawula muda baik didaerah pedesaan dan perkotaan. Kita menengok sejarah pertumbuhan kewirausahaan, pertama kali roh kewirausahaan dikenal abad 18 dengan munculnya dengan kegiatan – kegiatan inovasi baru seperti mesin uap, mesin pemintal. Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan dalam perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Tujuannya bukan semata memperoleh keuntungan dan kekayaan, tetapi juga kepuasan dalam aktifitas produkti.

Menurut Rhenald Kasali, entrepreneur adalah seseorang yang menyukai perubahan, melakukan temuan-temuan yang membedakan dirinya dengan orang lain, menciptakan nilai tambah, memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain, karyanya dibangun berkelanjutan (bukan ledakan sesaat) dan dilembagakan agar kelak dapat bekerja efektif di tangan orang lain (dalam Paulus Winarto, 2005)

Pengertian wirausahawan menurut Kasmir, 2007 : 18, entrepreneur adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti..

Definisi kewirausahaan dari para pakar menunjukkan secara harfiah berbeda-beda  dengan titik berat perhatian atau penekanan tidak sama, misalnya; seseorang yang menyukai perubahan (Rhenald Kasali), optimalisasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921) penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803).


Selanjutnya dibawah ini kami suguhkan beberapa definisi kewirausahaan diantaranya adalah:  

•    Frank Knight (1921)
Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan

•    Harvey Leibenstein (1968, 1979)
Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
•    Israel Kirzner (1979)
Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.
•    Jean Baptista Say (1816)
Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.
•    Joseph Schumpeter (1934)
Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahanperubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru dalam bentuk :
(1)  memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru,
(2)  memperkenalkan metoda produksi baru,
(3)  membuka pasar yang baru (new market),
(4)  memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau
(5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
•    Penrose (1963)
Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam system ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
•    Richard Cantillon (1775)
Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian
•    Zimmerer
Kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha).

Dari beberapa definisi tersebut diatas, maka diambil kesimpulan (roh) dari hakikat kewirausahaan salahsatunya sebagai fungsi yang melingkupi optimalisasi berbagai  peluang yang mampu dibaca dalam pasar. Potensi yang mampu dieksplorasi. Dalam realitasnya seorang wirausahawan selalu dihadapkan dengan peluang – peluang dan resiko seperti halnya keping mata uang yang tidak terpisahkan, sehingga dituntut adanya keberanian (wira) untuk melakukan tindakan kreatif dan innovatif.

Seorang yang memiliki jiwa wirausahawan adalah memiliki kemampuan dalam merubah potensi sumber daya, potensi tenaga kerja, bahan dan faktor – faktor pendukung menjadi lebih mempunyai nilai dibanding keadaan sebelumnya, serta wirausahawan harus mampu melakukan perubahan, inovasi dan kreatifitas, wirausahawan memiliki kemampuan manajerial secara komperhensif, sehingga tidak terjadi hal yang sebaliknya hanya bersifat kondisional.

Kewirausahaan dapat dimaknai sebagai sebuah proses yang mampu menciptakan produk (sesuatu) yang baru dan memberikan nilai dengan memaksimalkan potensi diri dan sumberdaya yang tersedia dengan meminimalisir resiko dan memaksimalkan manfaat, sehingga memperoleh jasa secara material dan tercapainya kepuasan pribadi.


Dalam memahami dan menyamakan persepsi tentang wirausaha dan wiraswasta oleh para pembaca, maka secara garis besar bisa diartikan bahwa wiraswasta adalah focus pada seseorang (individu) yang memiliki mental kuat dan cenderung memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasarn advirsity (AQ) dalam menghadapi dinamika kehidupan. Sedangkan wirausaha adalah performan kepribadian yang memiliki naluri keahlian dalam berbisnis atau mengoptimalisasi dana yang dimiliki, sehingga pribadi tersebut cenderung lebih memiliki kecerdasan finansial (FQ). Kedua aspek tersebut sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek financial maupun personal, sosial, dan profesional (Soesarsono, 2002 : 48)

2. Ciri dan Watak Wirausaha
2.1  Percaya diri Keyakinan, ketidaktergantungan, individualistis, dan optimisme
2.2  Berorientasi pada tugas dan hasil Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba,  
       ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energetik dan
       inisiatif
2.3   Pengambilan resiko Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka    
       tantangan
2.4  Kepemimpinan Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi
       saran-saran dan kritik
2.5  Keorisinilan Inovatif dan kreatif serta fleksibel
2.6 Berorientasi ke masa depan Pandanga ke depan, perspektif Dalam konteks bisnis, seorang
      entrepreneur membuka usaha baru (new ventures) yang menyebabkan munculnya produk
      baru – ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa.
3. Karakteristik tipikal entrepreneur menurut Schermerhorn Jr, 1999 :
3.1 Lokus pengendalian internal
3.2 Tingkat energi tinggi
3.3 Kebutuhan tinggi akan prestasi
3.4 Toleransi terhadap ambiguitas
3.5 Kepercayaan diri
3.6 Berorientasi pada action
4. Karakteristik Wirausahawan menurut Masykur W :
4.1 Keinginan untuk berprestasi
4.2 Keinginan untuk bertanggung jawab
4.3 Preferensi kepada resiko menengah
4.4 Persepsi kepada kemungkian berhasil
4.5 Rangsangan untuk umpan balik
4.6 Aktivitas Energik
4.7 Orientasi ke masa depan
4.8 Ketrampilan dalam pengorganisasian
4.9 Sikap terhadap uang

5    Wirausahawan yang berhasil mempunyai standar prestasi (n Ach) tinggi menurut Masykur, Winardi, adalah sebagai berikut :
5.1 Kemampuan inovatif
5.2 Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)
5.3 Keinginan untuk berprestasi
5.4 Kemampuan perencanaan realistis
5.5 Kepemimpinan berorientasi pada tujuan
5.6 Obyektivitas
5.7 Tanggung jawab pribadi
5.8 Kemampuan beradaptasi (Flexibility)
5.9 Kemampuan sebagai pengorganisator dan administrator
5.10 Tingkat komitmen tinggi (survival)
6. Jenis Kewirausahaan menurut Williamson, 1961 :
6.1 Innovating Entrepreneurship
       Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan transformasi-transformasi atraktif
6.2 Imitative Entrepreneurship
      Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating Entrepreneur
6.3  Fabian Entrepreneurship
Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang bersangkutan.
6.4  Drone Entrepreneurship
Drone = malas. Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun hal tersbut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan dengan produsen lain. Di banyak negara berkembang masih terdapat jenis entrepreneurship yang lain yang disebut sebagai Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente). (Winardi, 1977)

DAFTAR PUSTAKA
Sutjipta, Nyoman, 2001, “Manajemen Sumber Daya Manusia” Diktat: Univeritas Udayana, Denpasar.
Sumidjo, Wahyo, 1984,”Kepemimpinan dan Motivasi”, Ghalia Indonesia, Jakarta.
http://artikelrande.blogspot.com/2010/07/manajemen-kewirausahaan.html
Yukl, Gary, 1996, “Kepemimpinan Dalam kewirausahaan”, Prerhallindo, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *