Kasus Terkini pada Sapi Peternakan Rakyat

 

Oleh :
Iskandar Muda
Widyaiswara BBPP Batu – Jawa Timur

    Pelaku pembangunan  bidang peternakan dituntut untuk selalu uptodate kondisi peternakan yang ada di lapangan khususnya di tingkat peternak. Peternakan sapi di Indonesia di dominasi oleh peternakan rakyat. Sampai saat ini masih sangat sulit untuk mendapatkan informasi terkini kasus kesehatan hewan pada sapi. Informasi terbaru selalu ditunggu oleh setiap pelaku pembangunan peternakan baik di tingkat peternak, swasta, pemerintahan maupun akademisi. Penulis berharap dengan adanya tulisan ini akan memberikan manfaat bagi pembaca dan ada tambahan info lainnya dari para penulis lain untuk semakin menyemarakkan dunia peternakan khususnya informasi pembangunan peternakan sapi di Indonesia.
    Pada kesempatan kali ini penulis sharing informasi kasus kesehatan hewan pada sapi yang terjadi pada bulan November 2013. Sampel diambil dari 22 wilayah pelaku peternakan yang melayani peternak rakyat. Data yang dikumpulkan dari hasil wawancara kemudian diolah secara sederhana untuk mendapatkan deskripsi kasus kesehatan hewan yang ada di lapangan. Kondisi cuaca di lapangan pada saat pengambilan data berawan dan hujan sedang pada siang dan sore hari. Hujan sedang artinya intensitas hujan 5,0 – 10,0 mm/jam atau 20 – 50 mm/hari.
    Berdasarkan hasil pengolahan data kasus kesehatan hewan pada sapi yang terjadi meliputi prolaps, distokia, infeksi saluran reproduksi, syndrome ambruk, diare, kembung/bloat, keracunan, BEF, mastitis, myasis dan pincang. Besarnya prosentase dari setiap  kasus disajikan seperti tabel berikut:

NO. Kasus Prosentase
1

BEF

73

2

Bloat/Kembung

59

3

Diare

41

4

Pincang

41

5

Sindrom sapi ambruk

36

6

Mastitis

27

7

Infeksi saluran  reoproduksi

23

8

distokia

18

9

prolaps

9

10

keracunan

9

11

myasis

5

 

    Dapat diketahui dari data di atas bahwa kasus lapangan yang tertinggi adalah BEF sebesar 73%, kemudian bloat / kembung  59%, diare dan pincang 41%, sindrom sapi ambruk 36%, mastitis 27%, infeksi saluran reproduksi 23%, distokia 18%, prolaps dan keracunan 9% serta myasis 5%. Penggalian informasi lanjutan menunjukkan bahwa kasus yang terjadi sangat berhubungan dengan kondisi cuaca yang terjadi dan managemen pemeliharaan ternak yang dilakukan oleh peternak. Khsus pada kasus keracunan disebabkan ternak makan urea yang ada dikandang peternak sedangkan kasus lainnya akibat pemberian jamu yang terlalu banyak kurang lebuh 1 kg bawang merah dan 1 kg bawang putih). Adanya luka pada ternak yang tidak segera diobati menyebabkan ternak mengalami myasis.
    Seperti yang telah diketahui bahwa besarnya kasus infeksi saluran reproduksi kemungkinan besar disebabkan masih kurang aseptisnya pelaksanaan inseminasi atau penanganan kasus reproduksi. Besarnya kejadian gangguan reproduksi disktokia dan prolaps berhubungan dengan managemen perkandangan dan managemen pemeliharaan. Sampai saat ini sangat jarang adanya potong kuku pada sapi di tingkat peternak rakyat, hal ini memungkinkan masih besarnya kasus pincang pada sapi disamping juga disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor dan basah.
    Semoga sharing informasi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terus bersemangat membangun peternakan rakyat. Pada kesempatan selanjutnya semoga informai yang tersaji semakin lebih lengkap dan luar biasa. Salam sukses luar biasa peternakan Indonesia.
    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *