Artikel Umum

now browsing by category

 

USAHA PENGGEMUKAN DOMBA SAAT WABAH PMK (PENYAKIT MULUT DAN KUKU)

Kenali Gratifikasi

Tentunya kita sudah sering mendengar kata gratifikasi baik itu dilingkungan dikantor, di media cetak, media elektronik maupun media sosial. Namun tahukah kamu sebenarnya apa itu gratifikasi dan bagaimana cara melaporkannya terkhusus di lingkungan BBPP Batu, Yuk simak penjelasan dibawah ini.

Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. (Penjelasan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undnag-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi).

Unsur-unsur Gratifikasi

  1. Gratifikasi diperoleh dari pihak yang memiliki hubungan jabatan dengan penerima. Makna dari unsur “berhubungan dengan jabatan” tersebut ditafsirkan oleh Arrest Hoge Raad (Putusan Mahkamah Agung Belanda) tanggal 26 Juni 1916 sebagai berikut:
  2. Tidaklah perlu pegawai negeri/penyelenggara negara berwenang melakukan hal-hal yang dikehendaki atau diminta oleh pihak pemberi akan tetapi, cukup bahwa jabatannya memungkinkan untuk berbuat sesuai kehendak pemberi;
  3. “Berhubungan dengan jabatan” tidak perlu berdasarkan undang-undang atau ketentuan administrasi, tetapi cukup jabatan tersebut memungkinkan baginya untuk melakukan apa yang dikehendaki pemberi.
  4. Penerimaan gratifikasi tersebut bertentangan dengan kewajiban atau tugas penerima.
  5. Penerimaan gratifikasi dilarang oleh hukum yang berlaku. Hal ini tidak dibatasi aturan hukum tertulis semata, namun juga menyentuh aspek kepatutan dan kewajaran yang hidup dalam masyarakat;
  6. Unsur ini tidak menghendaki berbuat/tidak berbuatnya pegawai negeri/penyelenggara negarasebelum ataupun sebagai akibat dari pemberian gratifikasi;
  7. Penerimaan yang memiliki konflik kepentingan.
  8. Gratifikasi yang diterima tersebut tidak dilaporkan pada KPK dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi diterima.

Sanksi

Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)

Wajib Lapor

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme pada Bab II, Pasal 2 menyebut penyelenggara negara yang wajib melaporkan gratifikasi yaitu: Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara. Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara Menteri, Gubernur, Hakim. Pejabat Negara Lainnya : Duta Besar Wakil Gubernur Bupati / Walikota dan Wakilnya. Pejabat lainnya yang memiliki fungsi strategis : Komisaris, Direksi, dan Pejabat Struktural pada BUMN dan BUMD Pimpinan Bank Indonesia. Pimpinan Perguruan Tinggi. Pimpinan Eselon Satu dan Pejabat lainnya yang disamakan pada lingkungan Sipil dan Militer. Jaksa. Penyidik. Panitera Pengadilan. Pimpinan Proyek atau Bendaharawan Proyek. Pegawai Negeri.

Berdasarkan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan No. 20 tahun 2001 meliputi : Pegawai pada : MA, MK Pegawai pada L Kementrian/Departemen &LPND Pegawai pada Kejagung Pegawai pada Bank Indonesia Pimpinan dan Pegawai pada Sekretariat MPR/DPR/DPD/DPRD Propinsi/Dati II Pegawai pada Perguruan Tinggi Pegawai pada Komisi atau Badan yang dibentuk berdasarkan UU, Keppres maupun PP Pimpinan dan pegawai pada Sekr. Presiden, Sekr. Wk. Presiden, Sekkab dan Sekmil Pegawai pada BUMN dan BUMD Pegawai pada Badan Peradilan Anggota TNI dan POLRI serta Pegawai Sipil dilingkungan TNI dan POLRI Pimpinan dan Pegawai dilingkungan Pemda Dati I dan Dati II.

Tata Cara Pelaporan Gratifikasi

Tata Cara Pelaporan Gratifikasi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 Pasal 12c Ayat 2 dan UU Nomor 30 tahun 2002, Pasal 16 menyebutkan, setiap Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang menerima gratifikasi wajib melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, dengan cara sebagai berikut : Penerima gratifikasi wajib melaporkan penerimaanya selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja kepada KPK, terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima.

Dilingkungan BBPP Batu, telah disediakan beberapa saluran pengaduan terkait dengan pelaporan baik itu indikasi gratifikasi, suap, pungli, dan pelanggaran lainnya yaitu berupa tim Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) atau menguhungi Halo Mbatu 08113731110 atau juga dapat mengunjungi langsung Kantor BBPP Batu.

 

Sumber:

Mengenal Gratifikasi: Definisi, Dasar Hukum dan Tata Cara Pelaporannya.

Kenali Gratifikasi dan Sanksinya.

UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

BIOSEKURITI DAN POLA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI POTONG DI SAAT WABAH PMK (PENYAKIT MULUT DAN KUKU)

Sugino, SP. M.Si. Widyaiswara Ahli Madya

 

Kementerian Pertanian menyarankan kepada peternak Salah satu agar penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) tidak menular ke ternak adalah melalui budidaya atau pemeliharaan ternak dengan baik yang diperketat dengan biosecurity. Pada dasarnya, manajemen budidaya dilakukan untuk menghasilkan ternak yang sehat. Hanya saja memang ada perlakuan khusus selama wabah PMK ini, terutama dengan pengetatan biosecurity kepada pelaku utama dan pelaku usaha di bidang peternakan khususnya sapi potong.

Biosekuriti merupakan salah satu solusi pencegahan penularan dan penyebaran PMK

Penyakit mulut dan kuku (PMK) juga dikenal sebagai Aphtaee epizootecae (AE), adalah jenis penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan oleh virus dan tidak zoonosis (tidak menular dari hewan ke manusia)

Gejala Klinis Hewan Tertular PMK

  1. Hipersalivasi, saliva terlihat menggantung, air liur berbusa di lantai kandang.
  2. Hewan lebih sering berbaring dan demam tinggi mencapai 41 o
  3. Vesikel/lepuh dan atau erosi di sekitar mulut, lidah, gusi, nostril, kulit sekitar teracak dan putting.
  4. Yang bersifat akut terjadi kepincangan

Masa inkubasi dari penyakit 1-14 hari yaitu mulai dari virus masuk sampai timbulnya gejala penyakit. Tingkat kemetian pada pedet antara 1-5% sedang angka kesakitan pada semua umur bisa mencapai 90% dan angka kematian tinggi.

Sapi potong salah satu hewan yang peka terhadap Penyakit Mulut dan Kuku. Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit hewan menular yang paling penting dan paling ditakuti oleh semua negara di dunia. Penyakit ini dapat menyebar dengan sangat cepat dan mampu melampaui batas negara serta dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat tinggi.

Penyebaran virus sangat cepat, dan virus dapat ditularkan ke hewan ada beberapa cara :

  1. Melaui tersebar lewat udara (Airbone Disease)
  2. Melalui kontak tidak langsung melalui bukan vektor hidup (terbawa mobil angkutan, peralatan, alas kandang dll.)
  3. Melalui kontak tidak langsung melalui vektor hidup yakni terbawa oleh manusia. Manusia bisa membawa virus ini melalui sepatu, tangan, tenggorokan, atau pakaian yang terkontaminasi.
  4. Melalui kontak langsung (antara hewan yang tertular dengan hewan rentan melalui droplet, leleran hidung, serpihan kulit)

Menuntut kewaspadaan untuk dapat mencegah penularan PMK karena penularan sangat cepat, salah satu langkah biosekuriti sebagai garda terdepan untuk mencegah atau memutuskan rantai penyebaran virus merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan.

Biosekuriti

Biosekuriti adalah kondisi dan upaya untuk memutuskan rantai masuknya agen penyakit ke induk semang dan/atau untuk menjaga agen penyakit yang disimpan dan diisolasi dalam suatu laboratrium tidak mengkontaminasi atau disalahgunakan, misalnya untuk tujuan bioterorisme. Dengan kata lain, biosekuriti merupakan sejenis program yang dirancang untuk melindungi ternak dari bebagai serangan penyakit atau sebagai langkah awal dalam pengendalian wabah penyakit.

Tujuan biosekuriti

Sebagai bagian dari system manajemen maka biosecurity sangat penting khususnya untuk mencegah penyakit ternak pelihararaan. Menurut Dirjen Peternakan (2005) tujuan dari biosekuriti adalah mencegah semua kemungkinan penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Namun, pada dasarnya biosekuriti merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit pada ternak, tetapi dapat dikatakan bahwa biosekuriti merupakan salah satu garda terdepan terhadap penyakit. Dapat pula dikatakan bahwa biosekuriti bertujuan untuk menimalkan keberadaan penyebab penyakit, menimalisir kesempatan agen penyakit berhubungan dengan induk semang, menekan tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit.

Prinsip dasar biosekuriti adalah yaitu menjauhkan hewan dari kuman (virus) dan menjauhkan kuman (virus) dari hewan, ada 3 (tiga) prinsip dasar dari Biosecurity  adalah (1) Isolasi; (2) Pengendalian Lalu Lintas dan (3) Sanitasi,

Menerapkan Biosekuriti

  1. Melakukan Isolasi/Pemisahan

Isolasi merupakan suatu tindakan untuk mencegah kontak diantara hewan pada suatu area atau lingkungan. Tindakan yang paling penting dalam pengendalian penyakit adalah meminimalkan pergerakan dan kontak dengan hewan yang baru datang. Tindakan lain adalah  memisahkan hewan yang sakit dengan yang sehat, memisahkan ternak berdasarkan kelompok umur atau kelompok produksi, pemisahan hewan yang lama dengan yang baru.

  1. Melakukan Desinfeksi

Desinfeksi adalah proses perusakan, pembasmian, atau penghambatan pertumbuhan mikroba yang bisa menyebabkan penyakit atau masalah lainnya.

Desinfektan senyawa kimia yang bersifat toksik dan memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme yang terpapar secara langsung oleh disinfektan.

Desinfektan yang baik adalah (1) Tidak toksik terhadap hewan dan manusia (2) Tidak meninggalkan warna dan bau (3) Tidak korosif.

Tindakan yang dapat dilakukan adalah desinfeksi secara teratur kandang, peralatan dan kendaraan serta menjaga kebersihan pekerja (mencuci tangan, mencuci kaki, mencuci sepatu, dll)

Cara mendesinfektan adalah Hilangkan bahan-bahan biologis dan Semprotkan desinfektan

  1. Mengendalikan lalu lintas Hewan

Pengendalian lalu lintas, meliputi pengendalian lalu lintas manusia, hewan, bahan/peralatan dan kendaraan masuk dan keluar area peternakan. Terhadap semua yang dilalullintaskan harus dilakukan desinfeksi

  1. Mengendalikan hewan dan hama

Penting dilakukan pengendalian terhadap hama seperti rodensia (tikus) atau serangga yang dapat menjadi vektor penyebaran penyakit, serta jauhkan dari hewan-hewan lain seperti anjing/kucing dan lain-lain

  1. Mengubur hewan yang mati

Hewan yang mati akan meningkatkan agen penyakit dikandang sehingga perlu tindakan pencegahan seperti :

  • Keluakan segera dari kandang ke lubang kubur yang di gali sedalam 2 meter agar tidak di dali oleh hewan liar /buas dan lubang kubur di tambah kapur.
  • Mencuci tangan dan kaki setelah proses penguburan bangkai hewan

MANAJEMEN PEMELIHARAAN  

Peningkatan kesejahteraan penduduk berdampak pada meningkatnya kebutuhan produk hewani disebabkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi terus meningkat meliputi menigkatkan kebutuhan daging. Salah satu solusi untuk memenuhi hal tersebut meliputi : 1) meningkatkan populasi ternak 2) meningkatkan produksi ternak 3) meningkatkan produktivitas ternak.

Dalam budidaya ternak sapi manajemen pemeliharaanya meliputi :

  1. Pola Pemeliharaan Intensip (dry lot fattening) : sistem pemeliharaan ternak sapi dengan cara dikandangkan secara terus menerus dengan sistem pemberian pakan secara cut and curry. Sistem ini dilakukan karena lahan untuk pemeliharaan secara ekstensif sudah mulai berkurang. Keuntungan sistem ini adalah penggunaan bahan pakan hasil ikutan dari beberapa industri lebih intensif dibanding dengan sistem ekstensif. Kelemahan terletak pada modal yang dipergunakan lebih tinggi, masalah penyakit dan limbah peternakan.
  2. Pola pemeliharaan Semi Intensif (Campuran) : system pemeliharaan ternak sapi dikandangkan dan di gembalakan tetapi kebutuhan pakan dan minumnya tidak disediakan seluruhnya. Keuntungan biaya pakan lebih murah
  3. Pola Pemeliharaan Ekstensif (pasture fattening) : system pemeliharaan ternak sapi tidak di kandangkan, pakan dan air minum seluruhnya dari padang penggembalaan. Keuntungan biaya produksi rendah, biaya pakan rendah, cocok daerah yang masih luas lahannya.

Pemeliharaan Ternak Disesuaikan Kondisi Fisiologis, Umur dan Jenis Kelamin

Pemeliharaan Induk : Pemeliharaan induk sapi potong harus dipandang sebagai sebuah usaha yang menguntungkan. Pemeliharaan induk sapi potong dalam jangka panjang bertujuan untuk menghasilkan pedet berkualitas dan memiliki harga jual yang tinggi. Sehubungan dengan hal tersebut, faktor reproduksi sangat penting diperhatikan. Efisiensi reproduksi memiliki peran yang besar dalam meningkatan keuntungan usaha pemeliharaan induk sapi potong. Mengatasi permasalahan reproduksi yang menjadi kendala efisiensi penting untuk diperhatikan. Salah satu ukuran efisiensi reproduksi adalah jarak beranak calving interval (CI). Idealnya seekor induk melahirkan anak satu kali dalam satu tahun atau CI = 12 bulan. Banyak faktor penyebab CI menjadi panjang, baik yang bersumber dari kekurangan pada induk betina pejantan atau pengelola. Penyebab CI menjadi panjang dalam prakteknya adalah karena terlambat kawin pasca melahirkan, kawin berulang dan kegagalan memelihara kebuntingan hingga lahir. Terlambat kawin pasca melahirkan dapat terjadi karena berahi yang tak kunjung datang, tidak mampu melihat tanda-tanda berahi dan tidak tersedia pejantan. Kasus kawin berulang terjadi disebabkan oleh kegagalan pembuahan dan kematian embrio dini. Berdasarkan hasil survey di lapangan terhadap kasus induk betina yang tidak menunjukkan gejala berahi, paling sering disebabkan oleh hipofungsi ovarium. Hipofungsi ovarium sebagian besar akibat kekurangan asupan nutrien, sehingga permasalahan ini juga berakar pada pengelolaan. Berikut adalah beberapa hal yang harus dilakukan pengelola/peternak untuk dapat memperpendek CI. 1) Berusaha munculnya birahi normal pasca melahirkan 2) Mengawinkan induk tepat waktu 3) Memastikan Terjadinya Kebuntingan 4) Mencatat aktivitas reproduksi.

Pemeliharaan Pejantan : Sapi pejantan sebagai pemacek atau maupun sebagai sumber semen seharusnya adalah pejantan yang memiliki libido dan kualitas semen yang baik serta secara morfologis unggul dibandingkan dengan pejantan di lingkungan sekitarnya.
Beberapa permasalahan yang sering muncul pada pejantan diantaranya rendahnya libido dan kualitas semen. Rendahnya kualitas semen dapat berpengaruh terhadap efisiensi reproduksi pada sapi-sapi induk, diantaranya turunnya angka konsepsi sehingga nilai conception rate rendah. Tingkat fertilitas pada perkawinan menggunakan inseminasi buatan sangat ditentukan oleh kualitas semen segar yang digunakan. Kualitas dan kuantitas semen sangat dipengaruhi oleh faktor bangsa, individu, metode penampungan, dan manajemen pemeliharaan.

Exercise merupakan suatu aktivitas fisik yang dilakukan pada sapi jantan dengan atau tanpa menggunakan alat bantu. Perlakuan ini dapat mendukung stamina sapi jantan tetap baik.

Pemeliharaan Induk Bunting : Sapi betina yang sudah bunting harus dipisahkan dari kelompok sapi yang tidak bunting dan pejantan. Jika ada lebih dari satu sapi yang bunting, Anda bisa memisahkan sapi-sapi bunting di kandang berbeda. Memelihara induk sapi bunting tidak boleh dengan cara kasar.

Pakan yang diberikan harus benar-benar diperhatikan, seperti mengandung cukup protein, mineral, dan vitamin. Selama masa pemeliharaan, sapi-sapi bunting bisa disatukan di dalam kandang. Sementara itu, saat menjelang masa-masa melahirkan, sapi dipisahkan ke kandang sendiri yang bersih, kering, dan terang.

Induk yang akan bunting memiliki beberapa tanda : tidak kembali birahi (Hh IB), ambing yang sudah terlihat membesar, membengkak, dan mengeras, namun harus tetap di periksa kebuntingan oleh petugas. Urat daging di sekitaran pelvis terlihat mengendur, pada bagian sekeliling pangkal ekor terlihat mencekung. Terlihat pada bagian vulva juga membengkak dan mengeluarkan lendir.

Pemeliharaan Pedet sampai Dara/Bakalan : Sapi yang akan melahirkan cenderung mengalami penurunan nafsu makan, tampak gelisah, sebentar berdiri, sebentar berbaring, dan berputar-putar. Tanda terakhir dari sapi akan melahirkan, yaitu sapi jadi lebih sering kencing. Jika sudah keluar tanda-tanda tersebut, segera pisahkan sapi ke kandang khusus melahirkan.

Pedet yang baru dilahirkan akan diselubungi oleh lendir yang menutup lubang hidung dan mulut. Segera bersihkan lendir tersebut agar tidak menghambat pernapasan pedet. Selain itu, tekan-tekan dadanya untuk merangsang pernapasan pedet.

Saat pedet sudah bisa berjalan, upayakan pedet tersebut menyusu sendiri dengan puting induk. Namun, pastikan puting dan ambing induk sudah dibersihkan. Pedet yang baru dilahirkan harus diberikan tempat pembaringan yang diberikan alas jerami atau rumput kering yang bersih dan hangat.

Sebelum diternakkan sapi masih pedet perlu penanganan yang penuh ketelitian. Pedet yang baik, memiliki bobot lahir 35 sampai 51,5 kg tergantung jenis sapi, dengan bulu yang mengkilat, dan kondisinya sehat. Selain kelahiran yang baik, manajemen penanganan setelah lahir juga sangat penting, diantaranya: 1) Memeriksa alat pernafasannya sesegera mungkin; 2) Memotong tali pusar dengan menyisakan 2 cm dari pangkal pusar dan diberikan desinfektan tali pusar dengan menggunakan yodium tintur 10% untuk mencegah peradangan; 3) Pedet setelah 30 menit akan menyusu induknya yaitu susu kolostrum, bila sampai 1 belum menyusu segera kita kasih kolustrum dari induknya; 4) Tempatkan pedet dan induknya pada kandang pemeliharaan.

Kolostrum adalah susu yang keluar setelah melahirkan. Peternak wajib memeberikan kolostrum sesegera mungkin tidak lebih dari 2 jam pada pedet karena kolostrum menyediakan zat antibodi bagi pedet, sehingga melindungi pedet yang baru lahir terhadap infeksi. Zat antibodi pada kolostrum ini sangat mudah diserap oleh tubuh pedet yang baru lahir. sapi potong, pedet membutuhkan perlakuan khusus agar dapat tumbuh optimal menjadi bakalan sapi potong yang bagus.

Pemeliharaan pedet dengan induk menyusui sampai 3-4 bulan, pada saat induk sapi birahi ke dua atua ketiga antara 60 hari setelah melahirkan ternak bila birahi segera dilakukan perkawinan. Pedet umur 3-4 bulan dan induk mulai bunting segera dilakukan penyapihan. Pedet setelah 2 minggu melahirkan akan mulai belajar makan rumput atau hijauan dan setelah satu bulan mulai belajar makanan tambahan yang halus dan setelah umur 3 bulan sudah pintar makan rumput dan makanan tambahan.

Sapi potong setelah umur 4-6 bulan bisa dilakukan pengeluhan (memasang tali di hidung ) atau tali khusus untuk di mukanya. Bertujuan ajar semakin besar mudah untuk di kendalikan dalam pemeliharaan.

Pedet setelah umur 6 bulan perlu dilakukan pemisahan dalam pemeliharaan jantan dan betina bila dalam pemeliharaan system kandang kelompok, karena pedet sudah mulai dewasa kelamin. Sapi dara atau sapi bakalan antara umur 6-12 bulan perlu diberikan pakan sesuai kebutuhan dan fisiologis ternak sebagai calon induk atau calon bakalan penggemukan.

Kementan RI Tingkatkan SDM Pertanian Melalui Penumbuhan P4S Wilayah NTB

Pemberdayaan Masyarakat Tani merupakan proses perubahan pola pikir, perilaku dan sikap petani dari subsistem tradisional menjadi petani modern yang berwawasan agribisnis melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan. Kementan RI terus berupaya untuk menumbuhkan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya).

Kementerian Pertanian memiliki program untuk mewujudkannya. Program ini meliputi tiga aspek, yaitu pemberdayaan sumberdaya manusia petani; pemberdayaan kelembagaan petani; dan pemberdayaan usaha tani.

Petani belajar dari petani adalah praktek pembelajaran di lingkungan masyarakat tani dan sudah berlangsung lama dan berkembang secara alamiah. Model pembelajaran petani seperti itu diakui memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dalamen capaian hasil belajarnya.

Hal ini terwujud karena petani lebih mudah belajar apa bila pengetahuan dan pengalaman disampaikan dengan menggunakan “bahasa” petani, dimana keterampilan dipelajari secara langsung dan dapat dipraktekkan sehingg lebih meyakinkan petani yang sedang dalam proses pembelajaran

P4S mempunyai potensi yang besar bagi pembangunan pertanian nasional. P4S berasal dari, oleh dan untuk masyarakat yang berbasis di pedesaan. Oleh karena itu upaya-upaya pemberdayaan perlu lebih ditingkatkan agar mampu menghadapi tantangan baik masa kini dan maupun masa yang akan datang teruatama pada masa pandemi Covid – 19 ini. Selain itu tuntutan teknologi 4.0.

Mengingat peran kelembagaan P4S yang sangat strategis tersebut, maka Pemerintah terus mendorong penumbuhkembangan P4S dalam rangka mempercepat proses pembangunan pertanian dan perdesaan. Selain itu, pemerintah juga terus berupaya untuk memberdayakan P4S melalui pembinaan secara berkesinambungan, baik dari aspek manajemen pelatihan/permagangan maupun pengembangan usaha. Sehingga diharapkan P4S dapat menjadi mitra kerja pemerintah dalam mengembangkan SDM pertanian.

Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu meupakan salah satu UPT dibawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian – Kementerian Pertanian mempunyai wilayah binaan P4S yang berada di Nusa Tenggara Barat, Bali, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. BBPP Batu bertugas untuk mengidentiifkasi, menumbuhkan dan membina P4S diwilayah tersebut.

Happy Aprillia, S.Pt, M.Pt dari BBPP Batu didampingi oleh H. Nurhain Koordinator Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian Kab. Lombok Timur berserta tim melakukan identifikasi terhadap P4S yang berada di Desa Tebaban, Kecamatan Suralaga, Kab. Lombok Timur, Kamis (10/2/2022).

Pada kesempatan tersebut, salah satu Duta Petani Milenial dari Provinsi NTB, Dedi Irawan, S.Pd menyampaikan mempunyai keinginan yang kuat untuk mendirikan P4S. “P4S Gudang IR ini mempunyai komoditas pembibitan Cabe dan pembuatan pupuk organik serta media tanam organik, harapannya adalah dengan mendirikan P4S ini, masyarakat dapat mencontoh untuk melakukan pertanian organik,” ungkap DPM yang akrab dipanggil Irawan tersebut.

Selain itu Irawan mengungkapkan bahwa P4S yang diketuai oleh Mijahamuddin Alwi, M.Pd salah satu dosen jurusan biologi Universitas Hamzanwadi Kab. Lombok Timur telah sering dijadikan tempat magang mahasiswa, selain itu petani sekitar juga telah banyak belajar bagaimana melakukan pembibitan cabe dan tidak menggunakan pupuk organik.

Bagaimanapun juga petani perlu beralih ke pertanian organik. Mijahamuddin beranggapan bahwa menggunakan pupuk kimia juga dapat berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

H. Nurhain dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa daerah Suralaga merupakan sentra pertanian cabe dan selalu ada setiap musim. Keinginan P4S Gudang Ir untuk melakukan pembibitan dan pertanian cabe secara organik sangatlah baik, dan tentunya Dinas Lombok Timur akan mendukung penuh.

“Semoga P4S Gudang IR dapat segara dikukuhkan oleh Kementerian Pertanian,” harap H. Nurhain.

Bentuk Dukungan pada Usaha Binaan, BRI Serahkan Mesin Pengolahan Keju Mozzarella

Bank Rakyat Indonesia memberikan bantuan mesin pengolahan keju mozarella ke P4S Permata Ibu Kota Padang Panjang, Minggu (10/1/2022). 

P4S Permata Ibu sebagai salah satu klaster usaha binaan unggulan daerah, menandakan keju mozzarella hadir di Kota Padang Panjang.

Hadir dalam kesempatan ini, Walikota Padang Panjang H. Fadly Amran B.B.A, Pimpinan BRI Padang Panjang Yori Verdian, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Padang Panjang Ade Nefrita Anas, SP. 

Untuk menunjang keterampilan dan transfer teknologi kepada P4S Permata Ibu, praktik pembuatan keju mozzarella dipandu langsung oleh Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Dr. Dodik Suprapto, S.Pt, M.Sc.

Hilirisasi produk peternakan, seperti halnya pengolahan keju mozzarella adalah langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dan solusi atas melimpahnya produksi susu segar di Kota Padang Panjang.

Dodik menuturkan bahwasannya untuk menghasilkan 1 kg keju mozzarella dibutuhkan sekitar 9-10 liter susu segar berkualitas. Jika produk ini diterima oleh masyarakat dan dapat dipasarkan secara luas, maka akan dibutuhkan susu segar dalam jumlah besar. “Pemberdayaan masyarakat, khususnya peternak sapi perah akan meningkat dan penciptaan lapangan pekerjaan juga akan bertambah,” jelasnya. 

Tak hanya keju mozzarella, dalam dua hari pendampingan di P4S Permata Ibu juga dilakukan praktik pembuatan ice cream, nugget susu dan es lilin yoghurt. Diharapkan dengan adanya diverifikasi produk olahan susu tersebut, dapat menjadi bekal bagi P4S Permata Ibu dalam menyerap susu peternak sekitar, menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mengembangkan pasar. Hal ini sejalan dg outcame yang diharapkan atas dibentuknya klaster usaha oleh BRI. 

Agar program yang telah dirintis ini dapat semakin berkembang, selanjutnya dilaksanakan penandatanganan MoU antara BBPP Batu dan BRI Padang Panjang tentang pendayagunaan SDM ketenagaan pelatihan yang kompeten dalam pengolahan susu. Yori Verdian selaku pimpinan BRI Padang Panjang sangat mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas dukungan BBPP Batu dalam mewujudkan Padang Panjang sebagai sentra UMKM berbasis olahan susu di Sumatera Barat.

Ridwansyah selaku pengelola P4S Permata Ibu menyatakan bahwa dalam waktu dekat akan segera memasarkan keju mozzarella Padang Panjang. “Dalam minggu ini kami akan selesaikan formulasi produknya, InsyaaAllah dengan bimbingan Widyaiswara BBPP Batu prosesnya akan berjalan lancar,” imbuhnya. Rencananya akan dibuat beberapa varian keju mozarella agar sesuai dengan permintaan pasar.

© 2022: Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu | GREEN EYE Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress