Artikel Peternakan

now browsing by category

 

Perubahan Iklim Global dan Aspek Sistem Produksi Ternak yang Terdampak

Di Asia Tenggara, penurunan hasil produksi ternak hingga 20% telah diproyeksikan akan terjadi pada tahun 2050, sebagai akibat dari perubahan suhu dan curah hujan secara regional, sehingga  berdampak pada pakan dan ketersediaan pakan ternak. Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk Asia dan permintaan standard hidup yang lebih tinggi, penurunan produksi ternak ini dapat berdampak buruk pada lebih dari satu miliar orang pada tahun 2050 (Hijioka et al., 2014).

Hal yang sama berlaku untuk pulau-pulau di negara-negara kepulauan pasifik (Oseania), yang sangat rentan terhadap peristiwa cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan laut, dan pada tahun 2050, perubahan iklim diproyeksikan akan membatasi sumber daya air tawar, yang merupakan sumber daya yang sangat penting  dalam sistem produksi ternak (Nurse et al., 2014).

Peternakan di negara berkembang memberikan kontribusi yang jauh lebih tinggi terhadap pendapatan masyarakat dan memiliki peran sosial ekonomi yang penting (Thornton dan Gerber, 2010; Robinson et al., 2014). Selain itu, negara berkembang lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim global dan ternak lebih memungkinkan terkena kejadian ekstrem karena sedikit infrastruktur dan sumber daya untuk menjaga ternak tetap aman.

Di daerah yang lebih kering di Amerika Tengah dan Selatan, perubahan iklim diperkirakan akan memperburuk kondisi kekeringan dan degradasi lahan pertanian, menurunkan produktivitas ternak dan tanaman pakan penting seperti jagung dan kedelai, dengan konsekuensi merugikan ketahanan pangan (Magrin et al., 2014).

Saat ini sistem produksi ternak secara global berada di bawah tekanan yang besar. Meningkatnya permintaan protein hewani dari produk hasil ternak sebagian besar akibat pertumbuhan penduduk, urbanisasi, peningkatan pendapatan, dan perubahan pola makan (Thornton, 2010; Delgado, 2003]. Sistem produksi peternakan beroperasi pada berbagai kondisi lingkungan, menyebabkan produksi ternak semakin terpengaruh oleh perubahan iklim.

Dampak ekonomi global yang disebabkan oleh iklim ekstrem, seper-empatnya dialami oleh sektor pertanian, di mana peternakan adalah subsektor di dalamnya yang mengalami kerusakan besar dan kerugian total (FAO, 2015). Tahun 2016, sektor peternakan mengalami peningkatan produksi daging tahunan yang terendah (1%) (FAO, 2016).

Masa depan sektor peternakan diproyeksikan akan mengalami kelangkaan sumber daya penting untuk produksi, terutama tanah dan air, akibat perubahan iklim (Weindl et al., 2015). Perubahan iklim telah menyebabkan penurunan produktivitas ternak dengan secara langsung menekan mekanisme respon adaptif ternak, mengubah penyebaran dan prevalensi penyakit hewan (Bett et al., 2017), dan menyebabkan ternak stres akibat panas dan menyebabkan masalah kesejahteraan hewan (Morignat et al., 2014); dan secara tidak langsung mengalami kelangkaan ketersediaan akan tanaman pakan dan kualitas hijauan yang buruk (Giridhar et al., 2015). Penelitian tentang dampak perubahan iklim dan adaptasinya pada sistem peternakan akan memiliki implikasi penting bagi pengembangan sektor peternakan dan semua stakeholder yang bergantung padanya.

Sektor peternakan telah menyerap 1,3 miliar orang pekerja dan menjadi mata pencaharian sekitar 900 juta orang miskin di seluruh dunia [World Bank, 2015]. Pangan sumber hewani dari peternakan telah menyediakan sekitar 14% dari total kalori dan 33% dari total protein dalam diet populasi di dunia (FAO, 2016). Sektor peternakan memiliki potensi yang lebih kuat dalam ketahanan terhadap perubahan iklim, karena cenderung lebih tangguh daripada sistem pertanian berbasis tanaman (Prasad dan Sejian, 2015).

Namun, untuk meningkatkan ketahanan ternak terhadap perubahan iklim, sangat diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana pengaruh perubahan iklim terhadap sektor peternakan (Descheemaeker et al., 2016). Kebijakan dan program kerja yang efektif memerlukan data spesifik sektor peternakan terkait karakteristik dan besarnya dampak yang dipicu oleh perubahan iklim (Seo et al., 2009;  Thornton dan Gerber, 2010).

Dampak perubahan iklim terhadap berbagai sistem peternakan sangat bervariasi (Seo et al., 2010; Rust dan Rust, 2013), memahami perbedaan ini sangat penting untuk merumuskan kebijakan dan program kerja (Thornton dan Herrero, 2014). Penyamaan persepsi dan pengetahuan tentang dampak perubahan iklim dan adaptasinya pada seluruh skala sistem peternakan yang berbeda juga penting untuk mengidentifikasi perhatian bersama yang dapat mendorong kolaborasi di antara sistem produksi ternak yang berbeda, dan untuk mengidentifikasi area yang berdampak negatif akibat perubahan iklim (Herrero et al., 2015).

Penelitian yang berkaitan dengan dampak perubahan iklim terhadap ternak dan adaptasinya sangat diperlukan agar terbangun pemahaman dan kemampuan sektor peternakan untuk menangani dampak perubahan iklim di masa depan dan untuk memantau kemajuan adaptasi dari waktu ke waktu.

Studi atau penelitian yang ada saat ini tentang dampak perubahan iklim terhadap peternakan relatif sedikit dibandingkan  dengan tanaman pangan karena sektor peternakan ini sangat dinamis (Porter et al., 2014), dan bukti-bukti yang telah tersedia masih terfragmentasi (Herrero dan Thornton, 2013). Data di seluruh dunia terkait kerusakan dan kerugian di sektor peternakan akibat perubahan iklim tidak dikumpulkan atau dilaporkan secara sistematis (FAO, 2015).

Sistem produksi ternak yang heterogen, zona agroekologi yang bervariasi, dan tujuan produksi ternak yang berbeda menyebabkan tantangan yang luar biasa terkait pengumpulan dan sintesis data di sektor peternakan (Pica-Ciamarra et al., 2014; Robinson et al., 2014). Selain itu terdapat berbagai praktik lintas sistem produksi ternak yang disesuaikan dengan kondisi budaya, sosial ekonomi, dan kelembagaan (Steinfeld et al., 2006; Thornton et al., 2009). Pentingnya sektor peternakan bagi pembangunan suatu negara sangat bergantung pada berbagai nilai sosio-ekonomi, dan manfaat budaya yang diberikannya (Gandini dan Villa, 2003; Upton, 2004).

Produksi ternak menjadi salah satu kesulitan terpenting di dunia karena di satu sisi permintaan secara global akan produk hasil ternak semakin meningkat, tetapi di sisi lain perubahan iklim telah sangat berdampak terhadap produksi peternakan, khususnya di negara / daerah berkembang. Selain itu, ternyata sektor peternakan juga telah kontribusi negatif terhadap perubahan iklim global.

Sektor peternakan harus menjadi lebih berkelanjutan sambil beradaptasi dengan perubahan iklim global dan pada saat yang sama dapat memenuhi tuntutan pertumbuhan populasi akan permintaan produk hasil ternak. Terdapat lima aspek produksi ternak yang dilaporkan paling terpengaruh oleh perubahan iklim global, yaitu: pakan, penyakit, ekonomi, produksi, dan penggunaan air dan lahan pada peternakan.

Dampak perubahan iklim terhadap pakan ternak umumnya dikaitkan dalam hal kuantitas dan kualitas pakan yang buruk karena peningkatan suhu dan kekeringan sehingga ternak tidak dapat memenuhi kebutuhan energi untuk mempertahankan berat badannya. Penyakit ternak sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Dampak tersebut sebagian besar berupa bentuk keparahan dan distribusi penyakit hewan karena paparan suhu dan kelembaban yang meningkat serta variasi suhu dan curah hujan.

Dampak perubahan iklim terhadap ekonomi muncul akibat performa ternak yang lebih buruk, yang terkait dengan dampak pada aspek  produksi lainnya, seperti pakan dan kesehatan ternak. Misalnya, pada sistem penggembalaan / pastoral, kerugian ekonomi dikaitkan dengan performa ternak yang buruk karena kelangkaan pakan yang disebabkan oleh kekeringan. Dampak perubahan iklim terhadap produksi ternak ditinjau dari parameter performa ternak seperti penambahan bobot badan harian, efisiensi konversi pakan, dan produksi susu dan kualitas hasil ternak lainnya. Stres akibat panas dan kelembaban mengubah fisiologi ternak, membuat ternak lebih rentan terhadap penyakit dan stres. Variabilitas suhu mengakibatkan dampak nyata pada performa reproduksi ternak seperti penurunan kesuburan, tingkat konsepsi, dan daya hidup. Sumber daya air dan lahan merupakan input kunci dalam sistem produksi ternak, terutama dalam produksi tanaman pakan.

Perubahan iklim mempengaruhi ketersediaan, kelangkaan dan penipisan air sehingga mengurangi produktivitas  ternak. Ada tiga opsi respon adaptasi yang bisa dikelompokkan dan telah ditawarkan oleh para peneliti, yakni opsi inkremental, sistemik dan transformasional. Opsi inkremental terdiri dari peningkatan kualitas dan kuantitas pakan ternak, efisiensi penggunaan air dan lahan, pengurangan stres ternak akibat panas, dan perbaikan manajemen produksi ternak.

Opsi sistemik terdiri dari modernisasi operasi peternakan, mengubah komponen sistem pertanian, serta perubahan kelembagaan dan kebijakan. Opsi transformasional terdiri dari transisi sistem pertanian, diversifikasi dan intensifikasi produksi ternak.

Sistem produksi ternak yang diintegrasikan dengan sistem pertanian tanaman pangan atau disebut sebagai sistem pertanian terpadu tanaman-ternak adalah opsi adaptasi terhadap perubahan iklim global yang telah mengakar kuat dan telah diaplikasikan pada kehidupan petani Indonesia. Pemilihan jenis ternak lokal untuk dibudidayakan merupakan opsi adaptasi terhadap perubahan iklim global karena ternak lokal lebih bisa beradaptasi terhadap lingkungan termasuk tahan terhadap cekaman panas dan kondisi pakan yang buruk.

*)Oleh: Eko Saputro 

artikel juga di post di https://www.timesindonesia.co.id/read/news/428163/perubahan-iklim-global-dan-aspek-sistem-produksi-ternak-yang-terdampak

Budidaya Ternak ditengah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Ternak

Oleh:
Iman Agus Sutanto, S.Pt, M.M

Penyakit mulut dan kuku (PMK) setelah lebih tiga dekade yaitu tahun 1990 yang secara  internasional oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties-OIE) pada tahun 1990 dinyatakan bebas kembali muncul dan mewabah di Indonesia. Kasus pertama kali ditemukan di Gresik, Jawa Timur pada 28 April 2022, dan telah mengalami peningkatan kasus rata-rata dua kali lipat setiap harinya. Pemerintah melalui kementerian Pertanian telah mengeluarkan Beberapa kebijakan dan peraturan untuk mengendalikan penyebaran PMK antara lain pembentukan gugus tugas penanganan PMK, penataan lalu lintas hewan di daerah wabah penyakit PMK, melibatkan pemerintah daerah TNI/POLRI, Kejati, Kejari, serta jajarannya dalam penanganan PMK, membuat prosedur pelaksanaan kurban dan pemotongan hewan dalam situasi wabah PMK hingga meningkatkan kewaspadaan para petugas karantina terhadap penyebaran PMK. Sebaran penyakit Mulut dan Kuku Nasional dilaporkan Kementerian Pertanian  per Tanggal 15 Juni 2022 Sudah mencapai 18 Provinsi yang tersebar di 186 Kabupaten/Kota.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD) pada ternak merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus genus Aphtovirus, yakni Aphtaee epizootecae (virus tipe A) keluarga picornaviridae, yang bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku genap/belah. Penyakit ini dapat menyerang ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba, rusa), babi, unta, dan beberapa hewan liar. Ternak Ruminansi merupakan Salah satu sumber protein asal hewan yang kebutuhannya cenderung meningkat setiap tahun adalah daging sapi dan masih banyak dibudidayakan oleh Masyarakat di Indonesia.
Dampak yang ditimbulkan oleh adanya PMK di masyarakat adalah munculnya “kepanikan” dan “kekhawatiran” mengkonsumsi hewan. Kekhawatiran masyarakat dalam mengkonsumsi daging dan susu tentunya akan berimbas pada penurunan kebutuhan (demand) terhadap daging dan susu, yang tentunya akan merugikan peternak dan usaha peternakan. Ancaman ke depan dari PMK di dalam negeri adalah keterbatasan bahkan penurunan ketersediaan pasokan (supply) hewan hidup dan produk hewan (daging dan susu). Dampak lebih global adalah penghentian sementara impor komoditas peternakan yang berasal dari negara wabah, karena negara tujuan ekspor yang bebas PMK akan menolak pemasukan produk peternakan dari daerah wabah, bahkan bisa lebih parah lagi adalah penghentian impor jenis komoditas pertanian lainnya oleh negara bebas PMK. Menghadapi kondisi tersebut Peternak diharapkan tetap menjalankan kegiatan budidayanya dengan tetap waspada dengan menerapakan Good Management Practice di peternakannya masing-masing.

Lokasi
Lokasi usaha budi daya menjadi faktor  dengan indikator akses lalu-lalang manusia, kendaraan, jarak dengan kendang lain.

Lahan

Letak dan ketinggian lahan dari wilayah sekitarnya memperhatikan topografi dan fungsi lingkungan, sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan, Kotoran dan limbah menjadi salah satu media penularan dari kandang lain atau sebaliknya

Air
Air sebagai faktor penting dalam budidaya, penggunaan Sumber air yang tercemar oleh limbah ataupun kotoran bisa menjadikan media penularan

Sumber/AsalTernak
Ternak merupakan sarana utama dalam suatu budidaya peternakan, dalam pengadaan ternak baik untuk tujuan penggemukan, pembibitan hal utama saat ini yang harus diperhatikan Kebijakan umum pemerintah yang menghentikan sementara lalu lintas hewan hidup (keluar dan masuk daerah wabah) dan pengendalian ketat produk hewan (berbasis risiko). Tujuannya adalah agar virus tidak menyebar ke daerah lain melalui lalu lintas ternak dan produk hewan yang berisiko tinggi,. Dengan kondisi terbatasnya sumber asal ternak, faktor yang harus diperhatikan adalah ternak harus  sehat dan bebas penyakit hewan menular yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter hewan yang berwenang.

Pakan
Pakan diberikan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi, tersedia cukup dalam jumlah dan mutu. Pemberian pakan hijauan segar minimal 10% dari bobot badan dan pakan konsentrat sekitar 1-2% dari bobot badan. Pada pola pemeliharaan ekstensif, ketersediaan pakan pada padang rumput disesuaikan dengan kapasitas tampung.  Jumlah dan jenis pakan yang diberikan harus disesuaikan dengan tujuan produksi, umur, dan status fisiologi ternak serta memenuhi persyaratan standar mutu yang ditetapkan.
Pakan yang didatangkan dari luar peternakan menjadi hal yang harus diperhatikan menjadi media penyebaran yang utama, dihindarkan mengambil pakan dari daerah terjangkit penyakit, transportasi menuju kandang menjadi hal yang sangat rawan terjadinya penularan

Alat dan Mesin Peternakan dan Kesehatan Hewan
dalam Budidaya ternak ruminansia digunakan alat meliputi
a. tempat pakan dan tempat minum;
b. alat pemotong dan pengangkut rumput;
c. alat pengolah tanah;
d. timbangan pakan dan timbangan sapi;
e. mesin giling butiran dan mixer (jika membuat pakan konsentrat sendiri);
f. mesin pencacah rumput (chopper);
g. alat pemotong tanduk (dehorned);
h. alat identitas ternak;
i. alat penerangan;
j. alat pembersih kandang;
k. alat desinfeksi; dan
l. peralatan kesehatan hewan.
Dalam penggunaakan alat dan mesin peternakan dalam situasi wabah perlu secara seksama. Ternak akan selalu behubungan dengan lingkungan kandang baik berupa alat dan mesin, untuk itu perawatan dan perlakukan desinfksi alat dan mesin harus dilakukan, terutama alat dan mesin yang dimungkinkan keluar dari kandang seperti pemotong rumput dan pengangkut rumput.

Obat Hewan
a. obat hewan yang digunakan harus sesuai dengan peruntukan dan memiliki nomor pendaftaran;
b. obat hewan yang digunakan sebagai imbuhan dan pelengkap pakan meliputi premiks dan sediaan obat alami sesuai dengan peruntukannya;
c. penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang obat hewan.

Bangunan Kandang
Dalam suatu usaha budidaya ternak ruminansia dibedakan peruntukan kendang diantaranya, kandang pejantan, kandang induk, kandang beranak, kandang pembesaran, kandang pedet, kandang penggemukan, kandang isolasi, kandang jepit. Dalam Situasi wabah kegiatan pencegahan dan penanggulangan harus disiapkan. Kandang Isolasi harus disediakan untuk ternak yang diduga kurang sehat ataupun ternak yang baru datang dari luar sebagai kegaiatn karantina. Selain itu kendang Jepit juga harus disediakan untuk kegiatan Kesehatan hewan baik lewat injeksi ataupun lewat Oral.

Konstruksi Kandang
Kontruksi kandang memenuhi persyaratan sirkulasi udara baik dan cukup sinar matahari pagi serta dapat memberi kenyamanan kerja bagi petugas dalam proses produksi seperti pemberian pakan, pembersihan, pemeriksaan birahi dan penanganan kesehatan hewan.  Drainase dan saluran pembuangan limbah dapat meminimalisir penyebaran suatu penyakit.

Bangunan Lain
Bangunan tanbahan yang perlu diperhatikan adalah kantor dan mess karyawan/pengelola terpisah dari kandang dan dibatasi dengan pagar; tempat pelayanan kesehatan hewan/klinik; bangunan untuk bongkar muat ternak; gudang pakan dan peralatan; tempat berteduh (shelter); tempat deeping/spray; penampungan dan pengolahan limbah; dan tempat pembakaran dan penguburan ternak yang mati.

Pemeliharaan Intensif dan Semi Intensif
Pola budi daya dengan cara ternak dikandangkan, kebutuhan pakan dan air minum disediakan penuh untuk pemeliharaan Intensif fan disediakan tidak sepenuhnya pada pemelihraan semi intensif. Pada Fase pemelihaaan awal lahir sampai sapih,  Lepas Sapih, Dara, Bunting pemberian pakan, minum, control pertambahan bobot badan, pencatatan, control Kesehatan perlu terus dilakukan

Pemeliharaan Ekstensif
Budi daya sapi dengan cara sapi tidak dikandangkan dan sumber pakan utama berasal dari padang penggembalaan Pada Fase pemelihaaan awal lahir sampai sapih,  Lepas Sapih, Dara, Buntingyang perlu diperhatikan adalah manajemen penempatan sesuai dengan kelompok umur dan jenis kelamin yang ditempatkan di Paddock. Pengawasan Kesehatan pada pemeliharaan ekstensif harus terus dilakukan karena paparan penyakit sangat mudah terjadi.

Perkawianan
Perkawinan pada pola intensif, semi intensif, dan ekstensif dapat dilakukan dengan cara kawin alam dan/atau Inseminasi Buatan (IB), yang perlu diperhatikan adalah perkawinan Inseminasi Buatan dimana sangat dimungkinkan vector pembawa bibit penyakit adalah petugas inseminator serta alat-alat untuk IB.

Pencatatan
Pencatatan dalam kartu atau buku recording dalam suatu kegiatan budidaya ternak meliputi nama rumpun; tanggal pemasukan; identitas ternak;  jenis kelamin, tanggal lahir/umur,perkawinan (tanggal kawin; nomor dan rumpun pejantan, kawin alam/IB); kelahiran (tanggal; jenis kelamin, identitas tetua jantan dan betina); bobot badan (lahir, umur 7 bulan, 12 bulan, 18 bulan);  jenis dan jumlah pemberian pakan; Salah satu yang harus secara tertib dilakukan adalah pencatatan pelayanan kesehatan hewan (gejala sakit, penanganan, jenis penyakit, jenis obat dan vaksin, hasil penanganan); dan Selain . Pencatatan Kesehatan hewan akan memudahkan disaat pencegahan berupa Vaksinasi dan pengobatan.

Kesehatan Hewan
Pencegahan Penyakit Hewan meliputi
a. Tindakan Pengebalan Pengebalan dilaksankan melalui vaksinasi, pemberian antisera, dan peningkatan status gizi hewan. Vaksinasi, pemberian antisera, dan peningkatan status gizi hewan dilakukan oleh perusahaan peternakan, peternak, dan orang perseorangan yang memelihara hewan. Pelaksanaan vaksinasi dan pemberian antisera hewan dilakukan oleh dokter hewan dan/atau di bawah penyeliaan dokter hewan. Dalam hal vaksinasi dan pemberian antisera hewan diberikan secara parenteral, pelaksanaannya dilakukan oleh dokter hewan atau paramedik veteriner yang berada di bawah penyeliaan dokter hewan.
b. Pengoptimalan kebugaran hewan dilakukan dengan cara penerapan prinsip kesejahteraan hewan.

c. Pelaksanan Biosecurity Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan di pintu masuk peternakan; menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas masuk dan keluar kandang yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit; lokasi usaha peternakan tidak mudah dimasuki binatang liar dan hewan peliharaan lainnya yang dapat menularkan penyakit; melakukan desinfektan kandang dan peralatan, penyemprotan terhadap serangga, lalat dan pembasmian terhadap hama lainnya dengan menggunakan desinfektan yang ramah lingkungan atau teregistrasi; Ternak yang menderita penyakit menular dipisahkan dan dimasukkan ke kandang isolasi untuk segera diobati atau dipotong, Ternak serta bahan yang berasal dari kandang yang bersangkutan tidak diperbolehkan dibawa keluar komplek peternakan; melakukan pembersihan kandang sesudah kandang dikosongkan dan dibiarkan selama 2 minggu sebelum dimasukkan sapi baru ke dalam kandang; setiap sapi baru yang masuk ke areal peternakan harus ditempatkan di kandang karantina/isolasi selama 1 (satu) minggu, selama sapi di kandang karantina/isolasi harus dilakukan pengamatan terhadap kemungkinan adanya penyakit; dan segera mengeluarkan sapi yang mati dari kandang untuk dikubur atau dimusnahkan.

Sumber:

  1. Adjid, A.RM., 2020. Penyakit Mulut dan Kuku: Penyakit Hewan Eksotik yang Harus Diwaspadai Masuknya ke Indonesia. WARTAZOA Vol. 30 No. 2 Th. 2020 Hlm. 61-70. https://medpub.litbang.pertanian.go.id
  2. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 46/Permentan/PK.210/8/2015 tentang Pedoman Budi Daya Sapi Potong Yang Baik BAIK
  3. Pedoman Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia. 2022. pertanian.go.id.
© 2023: Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu | GREEN EYE Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress