Artikel

now browsing by category

 

USAHA PENGGEMUKAN DOMBA SAAT WABAH PMK (PENYAKIT MULUT DAN KUKU)

BIOSEKURITI DAN POLA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI POTONG DI SAAT WABAH PMK (PENYAKIT MULUT DAN KUKU)

Sugino, SP. M.Si. Widyaiswara Ahli Madya

 

Kementerian Pertanian menyarankan kepada peternak Salah satu agar penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) tidak menular ke ternak adalah melalui budidaya atau pemeliharaan ternak dengan baik yang diperketat dengan biosecurity. Pada dasarnya, manajemen budidaya dilakukan untuk menghasilkan ternak yang sehat. Hanya saja memang ada perlakuan khusus selama wabah PMK ini, terutama dengan pengetatan biosecurity kepada pelaku utama dan pelaku usaha di bidang peternakan khususnya sapi potong.

Biosekuriti merupakan salah satu solusi pencegahan penularan dan penyebaran PMK

Penyakit mulut dan kuku (PMK) juga dikenal sebagai Aphtaee epizootecae (AE), adalah jenis penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan oleh virus dan tidak zoonosis (tidak menular dari hewan ke manusia)

Gejala Klinis Hewan Tertular PMK

  1. Hipersalivasi, saliva terlihat menggantung, air liur berbusa di lantai kandang.
  2. Hewan lebih sering berbaring dan demam tinggi mencapai 41 o
  3. Vesikel/lepuh dan atau erosi di sekitar mulut, lidah, gusi, nostril, kulit sekitar teracak dan putting.
  4. Yang bersifat akut terjadi kepincangan

Masa inkubasi dari penyakit 1-14 hari yaitu mulai dari virus masuk sampai timbulnya gejala penyakit. Tingkat kemetian pada pedet antara 1-5% sedang angka kesakitan pada semua umur bisa mencapai 90% dan angka kematian tinggi.

Sapi potong salah satu hewan yang peka terhadap Penyakit Mulut dan Kuku. Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit hewan menular yang paling penting dan paling ditakuti oleh semua negara di dunia. Penyakit ini dapat menyebar dengan sangat cepat dan mampu melampaui batas negara serta dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat tinggi.

Penyebaran virus sangat cepat, dan virus dapat ditularkan ke hewan ada beberapa cara :

  1. Melaui tersebar lewat udara (Airbone Disease)
  2. Melalui kontak tidak langsung melalui bukan vektor hidup (terbawa mobil angkutan, peralatan, alas kandang dll.)
  3. Melalui kontak tidak langsung melalui vektor hidup yakni terbawa oleh manusia. Manusia bisa membawa virus ini melalui sepatu, tangan, tenggorokan, atau pakaian yang terkontaminasi.
  4. Melalui kontak langsung (antara hewan yang tertular dengan hewan rentan melalui droplet, leleran hidung, serpihan kulit)

Menuntut kewaspadaan untuk dapat mencegah penularan PMK karena penularan sangat cepat, salah satu langkah biosekuriti sebagai garda terdepan untuk mencegah atau memutuskan rantai penyebaran virus merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan.

Biosekuriti

Biosekuriti adalah kondisi dan upaya untuk memutuskan rantai masuknya agen penyakit ke induk semang dan/atau untuk menjaga agen penyakit yang disimpan dan diisolasi dalam suatu laboratrium tidak mengkontaminasi atau disalahgunakan, misalnya untuk tujuan bioterorisme. Dengan kata lain, biosekuriti merupakan sejenis program yang dirancang untuk melindungi ternak dari bebagai serangan penyakit atau sebagai langkah awal dalam pengendalian wabah penyakit.

Tujuan biosekuriti

Sebagai bagian dari system manajemen maka biosecurity sangat penting khususnya untuk mencegah penyakit ternak pelihararaan. Menurut Dirjen Peternakan (2005) tujuan dari biosekuriti adalah mencegah semua kemungkinan penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Namun, pada dasarnya biosekuriti merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit pada ternak, tetapi dapat dikatakan bahwa biosekuriti merupakan salah satu garda terdepan terhadap penyakit. Dapat pula dikatakan bahwa biosekuriti bertujuan untuk menimalkan keberadaan penyebab penyakit, menimalisir kesempatan agen penyakit berhubungan dengan induk semang, menekan tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit.

Prinsip dasar biosekuriti adalah yaitu menjauhkan hewan dari kuman (virus) dan menjauhkan kuman (virus) dari hewan, ada 3 (tiga) prinsip dasar dari Biosecurity  adalah (1) Isolasi; (2) Pengendalian Lalu Lintas dan (3) Sanitasi,

Menerapkan Biosekuriti

  1. Melakukan Isolasi/Pemisahan

Isolasi merupakan suatu tindakan untuk mencegah kontak diantara hewan pada suatu area atau lingkungan. Tindakan yang paling penting dalam pengendalian penyakit adalah meminimalkan pergerakan dan kontak dengan hewan yang baru datang. Tindakan lain adalah  memisahkan hewan yang sakit dengan yang sehat, memisahkan ternak berdasarkan kelompok umur atau kelompok produksi, pemisahan hewan yang lama dengan yang baru.

  1. Melakukan Desinfeksi

Desinfeksi adalah proses perusakan, pembasmian, atau penghambatan pertumbuhan mikroba yang bisa menyebabkan penyakit atau masalah lainnya.

Desinfektan senyawa kimia yang bersifat toksik dan memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme yang terpapar secara langsung oleh disinfektan.

Desinfektan yang baik adalah (1) Tidak toksik terhadap hewan dan manusia (2) Tidak meninggalkan warna dan bau (3) Tidak korosif.

Tindakan yang dapat dilakukan adalah desinfeksi secara teratur kandang, peralatan dan kendaraan serta menjaga kebersihan pekerja (mencuci tangan, mencuci kaki, mencuci sepatu, dll)

Cara mendesinfektan adalah Hilangkan bahan-bahan biologis dan Semprotkan desinfektan

  1. Mengendalikan lalu lintas Hewan

Pengendalian lalu lintas, meliputi pengendalian lalu lintas manusia, hewan, bahan/peralatan dan kendaraan masuk dan keluar area peternakan. Terhadap semua yang dilalullintaskan harus dilakukan desinfeksi

  1. Mengendalikan hewan dan hama

Penting dilakukan pengendalian terhadap hama seperti rodensia (tikus) atau serangga yang dapat menjadi vektor penyebaran penyakit, serta jauhkan dari hewan-hewan lain seperti anjing/kucing dan lain-lain

  1. Mengubur hewan yang mati

Hewan yang mati akan meningkatkan agen penyakit dikandang sehingga perlu tindakan pencegahan seperti :

  • Keluakan segera dari kandang ke lubang kubur yang di gali sedalam 2 meter agar tidak di dali oleh hewan liar /buas dan lubang kubur di tambah kapur.
  • Mencuci tangan dan kaki setelah proses penguburan bangkai hewan

MANAJEMEN PEMELIHARAAN  

Peningkatan kesejahteraan penduduk berdampak pada meningkatnya kebutuhan produk hewani disebabkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi terus meningkat meliputi menigkatkan kebutuhan daging. Salah satu solusi untuk memenuhi hal tersebut meliputi : 1) meningkatkan populasi ternak 2) meningkatkan produksi ternak 3) meningkatkan produktivitas ternak.

Dalam budidaya ternak sapi manajemen pemeliharaanya meliputi :

  1. Pola Pemeliharaan Intensip (dry lot fattening) : sistem pemeliharaan ternak sapi dengan cara dikandangkan secara terus menerus dengan sistem pemberian pakan secara cut and curry. Sistem ini dilakukan karena lahan untuk pemeliharaan secara ekstensif sudah mulai berkurang. Keuntungan sistem ini adalah penggunaan bahan pakan hasil ikutan dari beberapa industri lebih intensif dibanding dengan sistem ekstensif. Kelemahan terletak pada modal yang dipergunakan lebih tinggi, masalah penyakit dan limbah peternakan.
  2. Pola pemeliharaan Semi Intensif (Campuran) : system pemeliharaan ternak sapi dikandangkan dan di gembalakan tetapi kebutuhan pakan dan minumnya tidak disediakan seluruhnya. Keuntungan biaya pakan lebih murah
  3. Pola Pemeliharaan Ekstensif (pasture fattening) : system pemeliharaan ternak sapi tidak di kandangkan, pakan dan air minum seluruhnya dari padang penggembalaan. Keuntungan biaya produksi rendah, biaya pakan rendah, cocok daerah yang masih luas lahannya.

Pemeliharaan Ternak Disesuaikan Kondisi Fisiologis, Umur dan Jenis Kelamin

Pemeliharaan Induk : Pemeliharaan induk sapi potong harus dipandang sebagai sebuah usaha yang menguntungkan. Pemeliharaan induk sapi potong dalam jangka panjang bertujuan untuk menghasilkan pedet berkualitas dan memiliki harga jual yang tinggi. Sehubungan dengan hal tersebut, faktor reproduksi sangat penting diperhatikan. Efisiensi reproduksi memiliki peran yang besar dalam meningkatan keuntungan usaha pemeliharaan induk sapi potong. Mengatasi permasalahan reproduksi yang menjadi kendala efisiensi penting untuk diperhatikan. Salah satu ukuran efisiensi reproduksi adalah jarak beranak calving interval (CI). Idealnya seekor induk melahirkan anak satu kali dalam satu tahun atau CI = 12 bulan. Banyak faktor penyebab CI menjadi panjang, baik yang bersumber dari kekurangan pada induk betina pejantan atau pengelola. Penyebab CI menjadi panjang dalam prakteknya adalah karena terlambat kawin pasca melahirkan, kawin berulang dan kegagalan memelihara kebuntingan hingga lahir. Terlambat kawin pasca melahirkan dapat terjadi karena berahi yang tak kunjung datang, tidak mampu melihat tanda-tanda berahi dan tidak tersedia pejantan. Kasus kawin berulang terjadi disebabkan oleh kegagalan pembuahan dan kematian embrio dini. Berdasarkan hasil survey di lapangan terhadap kasus induk betina yang tidak menunjukkan gejala berahi, paling sering disebabkan oleh hipofungsi ovarium. Hipofungsi ovarium sebagian besar akibat kekurangan asupan nutrien, sehingga permasalahan ini juga berakar pada pengelolaan. Berikut adalah beberapa hal yang harus dilakukan pengelola/peternak untuk dapat memperpendek CI. 1) Berusaha munculnya birahi normal pasca melahirkan 2) Mengawinkan induk tepat waktu 3) Memastikan Terjadinya Kebuntingan 4) Mencatat aktivitas reproduksi.

Pemeliharaan Pejantan : Sapi pejantan sebagai pemacek atau maupun sebagai sumber semen seharusnya adalah pejantan yang memiliki libido dan kualitas semen yang baik serta secara morfologis unggul dibandingkan dengan pejantan di lingkungan sekitarnya.
Beberapa permasalahan yang sering muncul pada pejantan diantaranya rendahnya libido dan kualitas semen. Rendahnya kualitas semen dapat berpengaruh terhadap efisiensi reproduksi pada sapi-sapi induk, diantaranya turunnya angka konsepsi sehingga nilai conception rate rendah. Tingkat fertilitas pada perkawinan menggunakan inseminasi buatan sangat ditentukan oleh kualitas semen segar yang digunakan. Kualitas dan kuantitas semen sangat dipengaruhi oleh faktor bangsa, individu, metode penampungan, dan manajemen pemeliharaan.

Exercise merupakan suatu aktivitas fisik yang dilakukan pada sapi jantan dengan atau tanpa menggunakan alat bantu. Perlakuan ini dapat mendukung stamina sapi jantan tetap baik.

Pemeliharaan Induk Bunting : Sapi betina yang sudah bunting harus dipisahkan dari kelompok sapi yang tidak bunting dan pejantan. Jika ada lebih dari satu sapi yang bunting, Anda bisa memisahkan sapi-sapi bunting di kandang berbeda. Memelihara induk sapi bunting tidak boleh dengan cara kasar.

Pakan yang diberikan harus benar-benar diperhatikan, seperti mengandung cukup protein, mineral, dan vitamin. Selama masa pemeliharaan, sapi-sapi bunting bisa disatukan di dalam kandang. Sementara itu, saat menjelang masa-masa melahirkan, sapi dipisahkan ke kandang sendiri yang bersih, kering, dan terang.

Induk yang akan bunting memiliki beberapa tanda : tidak kembali birahi (Hh IB), ambing yang sudah terlihat membesar, membengkak, dan mengeras, namun harus tetap di periksa kebuntingan oleh petugas. Urat daging di sekitaran pelvis terlihat mengendur, pada bagian sekeliling pangkal ekor terlihat mencekung. Terlihat pada bagian vulva juga membengkak dan mengeluarkan lendir.

Pemeliharaan Pedet sampai Dara/Bakalan : Sapi yang akan melahirkan cenderung mengalami penurunan nafsu makan, tampak gelisah, sebentar berdiri, sebentar berbaring, dan berputar-putar. Tanda terakhir dari sapi akan melahirkan, yaitu sapi jadi lebih sering kencing. Jika sudah keluar tanda-tanda tersebut, segera pisahkan sapi ke kandang khusus melahirkan.

Pedet yang baru dilahirkan akan diselubungi oleh lendir yang menutup lubang hidung dan mulut. Segera bersihkan lendir tersebut agar tidak menghambat pernapasan pedet. Selain itu, tekan-tekan dadanya untuk merangsang pernapasan pedet.

Saat pedet sudah bisa berjalan, upayakan pedet tersebut menyusu sendiri dengan puting induk. Namun, pastikan puting dan ambing induk sudah dibersihkan. Pedet yang baru dilahirkan harus diberikan tempat pembaringan yang diberikan alas jerami atau rumput kering yang bersih dan hangat.

Sebelum diternakkan sapi masih pedet perlu penanganan yang penuh ketelitian. Pedet yang baik, memiliki bobot lahir 35 sampai 51,5 kg tergantung jenis sapi, dengan bulu yang mengkilat, dan kondisinya sehat. Selain kelahiran yang baik, manajemen penanganan setelah lahir juga sangat penting, diantaranya: 1) Memeriksa alat pernafasannya sesegera mungkin; 2) Memotong tali pusar dengan menyisakan 2 cm dari pangkal pusar dan diberikan desinfektan tali pusar dengan menggunakan yodium tintur 10% untuk mencegah peradangan; 3) Pedet setelah 30 menit akan menyusu induknya yaitu susu kolostrum, bila sampai 1 belum menyusu segera kita kasih kolustrum dari induknya; 4) Tempatkan pedet dan induknya pada kandang pemeliharaan.

Kolostrum adalah susu yang keluar setelah melahirkan. Peternak wajib memeberikan kolostrum sesegera mungkin tidak lebih dari 2 jam pada pedet karena kolostrum menyediakan zat antibodi bagi pedet, sehingga melindungi pedet yang baru lahir terhadap infeksi. Zat antibodi pada kolostrum ini sangat mudah diserap oleh tubuh pedet yang baru lahir. sapi potong, pedet membutuhkan perlakuan khusus agar dapat tumbuh optimal menjadi bakalan sapi potong yang bagus.

Pemeliharaan pedet dengan induk menyusui sampai 3-4 bulan, pada saat induk sapi birahi ke dua atua ketiga antara 60 hari setelah melahirkan ternak bila birahi segera dilakukan perkawinan. Pedet umur 3-4 bulan dan induk mulai bunting segera dilakukan penyapihan. Pedet setelah 2 minggu melahirkan akan mulai belajar makan rumput atau hijauan dan setelah satu bulan mulai belajar makanan tambahan yang halus dan setelah umur 3 bulan sudah pintar makan rumput dan makanan tambahan.

Sapi potong setelah umur 4-6 bulan bisa dilakukan pengeluhan (memasang tali di hidung ) atau tali khusus untuk di mukanya. Bertujuan ajar semakin besar mudah untuk di kendalikan dalam pemeliharaan.

Pedet setelah umur 6 bulan perlu dilakukan pemisahan dalam pemeliharaan jantan dan betina bila dalam pemeliharaan system kandang kelompok, karena pedet sudah mulai dewasa kelamin. Sapi dara atau sapi bakalan antara umur 6-12 bulan perlu diberikan pakan sesuai kebutuhan dan fisiologis ternak sebagai calon induk atau calon bakalan penggemukan.

Budidaya Ternak ditengah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Ternak

Oleh:
Iman Agus Sutanto, S.Pt, M.M

Penyakit mulut dan kuku (PMK) setelah lebih tiga dekade yaitu tahun 1990 yang secara  internasional oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties-OIE) pada tahun 1990 dinyatakan bebas kembali muncul dan mewabah di Indonesia. Kasus pertama kali ditemukan di Gresik, Jawa Timur pada 28 April 2022, dan telah mengalami peningkatan kasus rata-rata dua kali lipat setiap harinya. Pemerintah melalui kementerian Pertanian telah mengeluarkan Beberapa kebijakan dan peraturan untuk mengendalikan penyebaran PMK antara lain pembentukan gugus tugas penanganan PMK, penataan lalu lintas hewan di daerah wabah penyakit PMK, melibatkan pemerintah daerah TNI/POLRI, Kejati, Kejari, serta jajarannya dalam penanganan PMK, membuat prosedur pelaksanaan kurban dan pemotongan hewan dalam situasi wabah PMK hingga meningkatkan kewaspadaan para petugas karantina terhadap penyebaran PMK. Sebaran penyakit Mulut dan Kuku Nasional dilaporkan Kementerian Pertanian  per Tanggal 15 Juni 2022 Sudah mencapai 18 Provinsi yang tersebar di 186 Kabupaten/Kota.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD) pada ternak merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus genus Aphtovirus, yakni Aphtaee epizootecae (virus tipe A) keluarga picornaviridae, yang bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku genap/belah. Penyakit ini dapat menyerang ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba, rusa), babi, unta, dan beberapa hewan liar. Ternak Ruminansi merupakan Salah satu sumber protein asal hewan yang kebutuhannya cenderung meningkat setiap tahun adalah daging sapi dan masih banyak dibudidayakan oleh Masyarakat di Indonesia.
Dampak yang ditimbulkan oleh adanya PMK di masyarakat adalah munculnya “kepanikan” dan “kekhawatiran” mengkonsumsi hewan. Kekhawatiran masyarakat dalam mengkonsumsi daging dan susu tentunya akan berimbas pada penurunan kebutuhan (demand) terhadap daging dan susu, yang tentunya akan merugikan peternak dan usaha peternakan. Ancaman ke depan dari PMK di dalam negeri adalah keterbatasan bahkan penurunan ketersediaan pasokan (supply) hewan hidup dan produk hewan (daging dan susu). Dampak lebih global adalah penghentian sementara impor komoditas peternakan yang berasal dari negara wabah, karena negara tujuan ekspor yang bebas PMK akan menolak pemasukan produk peternakan dari daerah wabah, bahkan bisa lebih parah lagi adalah penghentian impor jenis komoditas pertanian lainnya oleh negara bebas PMK. Menghadapi kondisi tersebut Peternak diharapkan tetap menjalankan kegiatan budidayanya dengan tetap waspada dengan menerapakan Good Management Practice di peternakannya masing-masing.

Lokasi
Lokasi usaha budi daya menjadi faktor  dengan indikator akses lalu-lalang manusia, kendaraan, jarak dengan kendang lain.

Lahan

Letak dan ketinggian lahan dari wilayah sekitarnya memperhatikan topografi dan fungsi lingkungan, sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan, Kotoran dan limbah menjadi salah satu media penularan dari kandang lain atau sebaliknya

Air
Air sebagai faktor penting dalam budidaya, penggunaan Sumber air yang tercemar oleh limbah ataupun kotoran bisa menjadikan media penularan

Sumber/AsalTernak
Ternak merupakan sarana utama dalam suatu budidaya peternakan, dalam pengadaan ternak baik untuk tujuan penggemukan, pembibitan hal utama saat ini yang harus diperhatikan Kebijakan umum pemerintah yang menghentikan sementara lalu lintas hewan hidup (keluar dan masuk daerah wabah) dan pengendalian ketat produk hewan (berbasis risiko). Tujuannya adalah agar virus tidak menyebar ke daerah lain melalui lalu lintas ternak dan produk hewan yang berisiko tinggi,. Dengan kondisi terbatasnya sumber asal ternak, faktor yang harus diperhatikan adalah ternak harus  sehat dan bebas penyakit hewan menular yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter hewan yang berwenang.

Pakan
Pakan diberikan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi, tersedia cukup dalam jumlah dan mutu. Pemberian pakan hijauan segar minimal 10% dari bobot badan dan pakan konsentrat sekitar 1-2% dari bobot badan. Pada pola pemeliharaan ekstensif, ketersediaan pakan pada padang rumput disesuaikan dengan kapasitas tampung.  Jumlah dan jenis pakan yang diberikan harus disesuaikan dengan tujuan produksi, umur, dan status fisiologi ternak serta memenuhi persyaratan standar mutu yang ditetapkan.
Pakan yang didatangkan dari luar peternakan menjadi hal yang harus diperhatikan menjadi media penyebaran yang utama, dihindarkan mengambil pakan dari daerah terjangkit penyakit, transportasi menuju kandang menjadi hal yang sangat rawan terjadinya penularan

Alat dan Mesin Peternakan dan Kesehatan Hewan
dalam Budidaya ternak ruminansia digunakan alat meliputi
a. tempat pakan dan tempat minum;
b. alat pemotong dan pengangkut rumput;
c. alat pengolah tanah;
d. timbangan pakan dan timbangan sapi;
e. mesin giling butiran dan mixer (jika membuat pakan konsentrat sendiri);
f. mesin pencacah rumput (chopper);
g. alat pemotong tanduk (dehorned);
h. alat identitas ternak;
i. alat penerangan;
j. alat pembersih kandang;
k. alat desinfeksi; dan
l. peralatan kesehatan hewan.
Dalam penggunaakan alat dan mesin peternakan dalam situasi wabah perlu secara seksama. Ternak akan selalu behubungan dengan lingkungan kandang baik berupa alat dan mesin, untuk itu perawatan dan perlakukan desinfksi alat dan mesin harus dilakukan, terutama alat dan mesin yang dimungkinkan keluar dari kandang seperti pemotong rumput dan pengangkut rumput.

Obat Hewan
a. obat hewan yang digunakan harus sesuai dengan peruntukan dan memiliki nomor pendaftaran;
b. obat hewan yang digunakan sebagai imbuhan dan pelengkap pakan meliputi premiks dan sediaan obat alami sesuai dengan peruntukannya;
c. penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang obat hewan.

Bangunan Kandang
Dalam suatu usaha budidaya ternak ruminansia dibedakan peruntukan kendang diantaranya, kandang pejantan, kandang induk, kandang beranak, kandang pembesaran, kandang pedet, kandang penggemukan, kandang isolasi, kandang jepit. Dalam Situasi wabah kegiatan pencegahan dan penanggulangan harus disiapkan. Kandang Isolasi harus disediakan untuk ternak yang diduga kurang sehat ataupun ternak yang baru datang dari luar sebagai kegaiatn karantina. Selain itu kendang Jepit juga harus disediakan untuk kegiatan Kesehatan hewan baik lewat injeksi ataupun lewat Oral.

Konstruksi Kandang
Kontruksi kandang memenuhi persyaratan sirkulasi udara baik dan cukup sinar matahari pagi serta dapat memberi kenyamanan kerja bagi petugas dalam proses produksi seperti pemberian pakan, pembersihan, pemeriksaan birahi dan penanganan kesehatan hewan.  Drainase dan saluran pembuangan limbah dapat meminimalisir penyebaran suatu penyakit.

Bangunan Lain
Bangunan tanbahan yang perlu diperhatikan adalah kantor dan mess karyawan/pengelola terpisah dari kandang dan dibatasi dengan pagar; tempat pelayanan kesehatan hewan/klinik; bangunan untuk bongkar muat ternak; gudang pakan dan peralatan; tempat berteduh (shelter); tempat deeping/spray; penampungan dan pengolahan limbah; dan tempat pembakaran dan penguburan ternak yang mati.

Pemeliharaan Intensif dan Semi Intensif
Pola budi daya dengan cara ternak dikandangkan, kebutuhan pakan dan air minum disediakan penuh untuk pemeliharaan Intensif fan disediakan tidak sepenuhnya pada pemelihraan semi intensif. Pada Fase pemelihaaan awal lahir sampai sapih,  Lepas Sapih, Dara, Bunting pemberian pakan, minum, control pertambahan bobot badan, pencatatan, control Kesehatan perlu terus dilakukan

Pemeliharaan Ekstensif
Budi daya sapi dengan cara sapi tidak dikandangkan dan sumber pakan utama berasal dari padang penggembalaan Pada Fase pemelihaaan awal lahir sampai sapih,  Lepas Sapih, Dara, Buntingyang perlu diperhatikan adalah manajemen penempatan sesuai dengan kelompok umur dan jenis kelamin yang ditempatkan di Paddock. Pengawasan Kesehatan pada pemeliharaan ekstensif harus terus dilakukan karena paparan penyakit sangat mudah terjadi.

Perkawianan
Perkawinan pada pola intensif, semi intensif, dan ekstensif dapat dilakukan dengan cara kawin alam dan/atau Inseminasi Buatan (IB), yang perlu diperhatikan adalah perkawinan Inseminasi Buatan dimana sangat dimungkinkan vector pembawa bibit penyakit adalah petugas inseminator serta alat-alat untuk IB.

Pencatatan
Pencatatan dalam kartu atau buku recording dalam suatu kegiatan budidaya ternak meliputi nama rumpun; tanggal pemasukan; identitas ternak;  jenis kelamin, tanggal lahir/umur,perkawinan (tanggal kawin; nomor dan rumpun pejantan, kawin alam/IB); kelahiran (tanggal; jenis kelamin, identitas tetua jantan dan betina); bobot badan (lahir, umur 7 bulan, 12 bulan, 18 bulan);  jenis dan jumlah pemberian pakan; Salah satu yang harus secara tertib dilakukan adalah pencatatan pelayanan kesehatan hewan (gejala sakit, penanganan, jenis penyakit, jenis obat dan vaksin, hasil penanganan); dan Selain . Pencatatan Kesehatan hewan akan memudahkan disaat pencegahan berupa Vaksinasi dan pengobatan.

Kesehatan Hewan
Pencegahan Penyakit Hewan meliputi
a. Tindakan Pengebalan Pengebalan dilaksankan melalui vaksinasi, pemberian antisera, dan peningkatan status gizi hewan. Vaksinasi, pemberian antisera, dan peningkatan status gizi hewan dilakukan oleh perusahaan peternakan, peternak, dan orang perseorangan yang memelihara hewan. Pelaksanaan vaksinasi dan pemberian antisera hewan dilakukan oleh dokter hewan dan/atau di bawah penyeliaan dokter hewan. Dalam hal vaksinasi dan pemberian antisera hewan diberikan secara parenteral, pelaksanaannya dilakukan oleh dokter hewan atau paramedik veteriner yang berada di bawah penyeliaan dokter hewan.
b. Pengoptimalan kebugaran hewan dilakukan dengan cara penerapan prinsip kesejahteraan hewan.

c. Pelaksanan Biosecurity Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan di pintu masuk peternakan; menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas masuk dan keluar kandang yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit; lokasi usaha peternakan tidak mudah dimasuki binatang liar dan hewan peliharaan lainnya yang dapat menularkan penyakit; melakukan desinfektan kandang dan peralatan, penyemprotan terhadap serangga, lalat dan pembasmian terhadap hama lainnya dengan menggunakan desinfektan yang ramah lingkungan atau teregistrasi; Ternak yang menderita penyakit menular dipisahkan dan dimasukkan ke kandang isolasi untuk segera diobati atau dipotong, Ternak serta bahan yang berasal dari kandang yang bersangkutan tidak diperbolehkan dibawa keluar komplek peternakan; melakukan pembersihan kandang sesudah kandang dikosongkan dan dibiarkan selama 2 minggu sebelum dimasukkan sapi baru ke dalam kandang; setiap sapi baru yang masuk ke areal peternakan harus ditempatkan di kandang karantina/isolasi selama 1 (satu) minggu, selama sapi di kandang karantina/isolasi harus dilakukan pengamatan terhadap kemungkinan adanya penyakit; dan segera mengeluarkan sapi yang mati dari kandang untuk dikubur atau dimusnahkan.

Sumber:

  1. Adjid, A.RM., 2020. Penyakit Mulut dan Kuku: Penyakit Hewan Eksotik yang Harus Diwaspadai Masuknya ke Indonesia. WARTAZOA Vol. 30 No. 2 Th. 2020 Hlm. 61-70. https://medpub.litbang.pertanian.go.id
  2. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 46/Permentan/PK.210/8/2015 tentang Pedoman Budi Daya Sapi Potong Yang Baik BAIK
  3. Pedoman Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia. 2022. pertanian.go.id.

Kementan RI Tingkatkan SDM Pertanian Melalui Penumbuhan P4S Wilayah NTB

Pemberdayaan Masyarakat Tani merupakan proses perubahan pola pikir, perilaku dan sikap petani dari subsistem tradisional menjadi petani modern yang berwawasan agribisnis melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan. Kementan RI terus berupaya untuk menumbuhkan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya).

Kementerian Pertanian memiliki program untuk mewujudkannya. Program ini meliputi tiga aspek, yaitu pemberdayaan sumberdaya manusia petani; pemberdayaan kelembagaan petani; dan pemberdayaan usaha tani.

Petani belajar dari petani adalah praktek pembelajaran di lingkungan masyarakat tani dan sudah berlangsung lama dan berkembang secara alamiah. Model pembelajaran petani seperti itu diakui memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dalamen capaian hasil belajarnya.

Hal ini terwujud karena petani lebih mudah belajar apa bila pengetahuan dan pengalaman disampaikan dengan menggunakan “bahasa” petani, dimana keterampilan dipelajari secara langsung dan dapat dipraktekkan sehingg lebih meyakinkan petani yang sedang dalam proses pembelajaran

P4S mempunyai potensi yang besar bagi pembangunan pertanian nasional. P4S berasal dari, oleh dan untuk masyarakat yang berbasis di pedesaan. Oleh karena itu upaya-upaya pemberdayaan perlu lebih ditingkatkan agar mampu menghadapi tantangan baik masa kini dan maupun masa yang akan datang teruatama pada masa pandemi Covid – 19 ini. Selain itu tuntutan teknologi 4.0.

Mengingat peran kelembagaan P4S yang sangat strategis tersebut, maka Pemerintah terus mendorong penumbuhkembangan P4S dalam rangka mempercepat proses pembangunan pertanian dan perdesaan. Selain itu, pemerintah juga terus berupaya untuk memberdayakan P4S melalui pembinaan secara berkesinambungan, baik dari aspek manajemen pelatihan/permagangan maupun pengembangan usaha. Sehingga diharapkan P4S dapat menjadi mitra kerja pemerintah dalam mengembangkan SDM pertanian.

Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu meupakan salah satu UPT dibawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian – Kementerian Pertanian mempunyai wilayah binaan P4S yang berada di Nusa Tenggara Barat, Bali, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. BBPP Batu bertugas untuk mengidentiifkasi, menumbuhkan dan membina P4S diwilayah tersebut.

Happy Aprillia, S.Pt, M.Pt dari BBPP Batu didampingi oleh H. Nurhain Koordinator Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian Kab. Lombok Timur berserta tim melakukan identifikasi terhadap P4S yang berada di Desa Tebaban, Kecamatan Suralaga, Kab. Lombok Timur, Kamis (10/2/2022).

Pada kesempatan tersebut, salah satu Duta Petani Milenial dari Provinsi NTB, Dedi Irawan, S.Pd menyampaikan mempunyai keinginan yang kuat untuk mendirikan P4S. “P4S Gudang IR ini mempunyai komoditas pembibitan Cabe dan pembuatan pupuk organik serta media tanam organik, harapannya adalah dengan mendirikan P4S ini, masyarakat dapat mencontoh untuk melakukan pertanian organik,” ungkap DPM yang akrab dipanggil Irawan tersebut.

Selain itu Irawan mengungkapkan bahwa P4S yang diketuai oleh Mijahamuddin Alwi, M.Pd salah satu dosen jurusan biologi Universitas Hamzanwadi Kab. Lombok Timur telah sering dijadikan tempat magang mahasiswa, selain itu petani sekitar juga telah banyak belajar bagaimana melakukan pembibitan cabe dan tidak menggunakan pupuk organik.

Bagaimanapun juga petani perlu beralih ke pertanian organik. Mijahamuddin beranggapan bahwa menggunakan pupuk kimia juga dapat berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

H. Nurhain dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa daerah Suralaga merupakan sentra pertanian cabe dan selalu ada setiap musim. Keinginan P4S Gudang Ir untuk melakukan pembibitan dan pertanian cabe secara organik sangatlah baik, dan tentunya Dinas Lombok Timur akan mendukung penuh.

“Semoga P4S Gudang IR dapat segara dikukuhkan oleh Kementerian Pertanian,” harap H. Nurhain.

Bentuk Dukungan pada Usaha Binaan, BRI Serahkan Mesin Pengolahan Keju Mozzarella

Bank Rakyat Indonesia memberikan bantuan mesin pengolahan keju mozarella ke P4S Permata Ibu Kota Padang Panjang, Minggu (10/1/2022). 

P4S Permata Ibu sebagai salah satu klaster usaha binaan unggulan daerah, menandakan keju mozzarella hadir di Kota Padang Panjang.

Hadir dalam kesempatan ini, Walikota Padang Panjang H. Fadly Amran B.B.A, Pimpinan BRI Padang Panjang Yori Verdian, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Padang Panjang Ade Nefrita Anas, SP. 

Untuk menunjang keterampilan dan transfer teknologi kepada P4S Permata Ibu, praktik pembuatan keju mozzarella dipandu langsung oleh Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Dr. Dodik Suprapto, S.Pt, M.Sc.

Hilirisasi produk peternakan, seperti halnya pengolahan keju mozzarella adalah langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dan solusi atas melimpahnya produksi susu segar di Kota Padang Panjang.

Dodik menuturkan bahwasannya untuk menghasilkan 1 kg keju mozzarella dibutuhkan sekitar 9-10 liter susu segar berkualitas. Jika produk ini diterima oleh masyarakat dan dapat dipasarkan secara luas, maka akan dibutuhkan susu segar dalam jumlah besar. “Pemberdayaan masyarakat, khususnya peternak sapi perah akan meningkat dan penciptaan lapangan pekerjaan juga akan bertambah,” jelasnya. 

Tak hanya keju mozzarella, dalam dua hari pendampingan di P4S Permata Ibu juga dilakukan praktik pembuatan ice cream, nugget susu dan es lilin yoghurt. Diharapkan dengan adanya diverifikasi produk olahan susu tersebut, dapat menjadi bekal bagi P4S Permata Ibu dalam menyerap susu peternak sekitar, menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mengembangkan pasar. Hal ini sejalan dg outcame yang diharapkan atas dibentuknya klaster usaha oleh BRI. 

Agar program yang telah dirintis ini dapat semakin berkembang, selanjutnya dilaksanakan penandatanganan MoU antara BBPP Batu dan BRI Padang Panjang tentang pendayagunaan SDM ketenagaan pelatihan yang kompeten dalam pengolahan susu. Yori Verdian selaku pimpinan BRI Padang Panjang sangat mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas dukungan BBPP Batu dalam mewujudkan Padang Panjang sebagai sentra UMKM berbasis olahan susu di Sumatera Barat.

Ridwansyah selaku pengelola P4S Permata Ibu menyatakan bahwa dalam waktu dekat akan segera memasarkan keju mozzarella Padang Panjang. “Dalam minggu ini kami akan selesaikan formulasi produknya, InsyaaAllah dengan bimbingan Widyaiswara BBPP Batu prosesnya akan berjalan lancar,” imbuhnya. Rencananya akan dibuat beberapa varian keju mozarella agar sesuai dengan permintaan pasar.

© 2022: Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu | GREEN EYE Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress