Archives

now browsing by author

 

Buka Global Forum AMM G20, Mentan SYL Ajak Dunia Implementasikan Pertanian Digital

Bali – Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) secara resmi membuka kegiatan Global Forum sebagai awal dari rangkaian kegiatan Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 Indonesia, di Hotel Intercontinental Jimbaran Bali pada Selasa (27/09/2021) siang. Mengangkat tema “Transformasi Pertanian Digital dalam Percepatan Kewirausahaan Perempuan dan Pemuda”, SYL mengajak dunia mengimplementasikan teknologi digital dalam sektor pertanian.

“Teknologi dan digitalisasi menjadi jawaban untuk kemajuan sektor pertanian dunia. Indonesia sendiri saat ini mengusung pertanian maju mandiri modern. Karena itu, pada pertemuan global forum ini kita bisa berbagi perspektif tentang upaya kita meningkatkan kapasitas anak muda dan perempuan dalam mengimplementasikan pertanian digital,” ungkap SYL pada saat menyampaikan sambutan pembuka.

Menurut SYL, para wirausaha muda ini dapat menjadi pengusaha inovatif melalui perannya sebagai produsen, distributor, pemasar, dan penjual dengan menggunakan teknologi dan model bisnis yang inovatif.

“Pada era Industri 4.0 saat ini, kegiatan pertanian tidak lagi mengandalkan tenaga kerja manual tetapi menggabungkan mekanisasi dengan teknologi digital yang dapat mengkondisikan usaha budi daya pertanian menjadi lebih presisi,” jelasnya

Pelibatan wirausaha muda berbakat, termasuk perempuan, dalam pembangunan pertanian telah menjadi agenda utama di banyak negara, termasuk negara anggota G20. Terkait hal ini, banyak negara, termasuk Indonesia yang telah melakukan berbagai upaya untuk memahami karakteristik yang khas dari para wirausaha muda, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi mereka, dan mengidentifikasi metode terbaik untuk mengembangkan bakat mereka.

Maka SYL pun mengajak semua negara untuk membangun semangat untuk bekerja sama. Sesuai dengan tema besar G20 Presidensi Indonesia, yaitu “recovery together recovery stronger”.

“Kita tidak lagi bicara atas nama bangsa sendiri, tapi harus bicara atas nama bangsa-bangsa G20. Mari kita bicarakan hal-hal yang bisa mempersatukan. Semua perbedaan semestinya bisa kita satukan dalam waktu singkat,” ujarnya.

SYL pun mengungkapkan Indonesia siap bekerja sama dengan negara-negara lain, terutama dalam menghadapi krisis pangan.

“Indonesia membutuhkan negara lain. Dan negara Bapak dan ibu juga membutuhkan kami. Forum AMM bisa menjadi kesempatan bagi kita semua untuk menghilangkan barrier dalam menjaga rantai pasok dunia,” sebutnya.

Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO) Qu Dongyu turut mendukung kerjasama dunia. Saat memberikan keynote speech, Qu mengungkapkan bahwa dibutuhkan komitmen untuk menjadikan pertanian dunia lebih baik. Sehingga dibutuhkan cara bekerja yang efisien, efektif, dan inovatif.

“Sistem digital adalah masa depan pertanian dunia. Suka atau tidak suka, kita saat ini berada di fase transisi sektor pertanian,” jelasnya.

Qu menegaskan kembali dukungannya terhadap upaya Indonesia untuk mengembangkan strategi e-agrikultur nasional termasuk panduan integritas data pertanian dalam penggunaan informasi geospasial.

“Digitalisasi memainkan peran penting dalam mempercepat kemajuan menuju pencapaian Sustainable Development Goals dengan mendiversifikasi pendapatan dan membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di dalam dan di luar pertanian, terutama bagi generasi baru petani dan kaum muda,” ungkapnya.

Ia juga memuji pendirian Agriculture War Room di Kementerian Pertanian RI yang menggunakan teknologi digital canggih untuk meningkatkan pengambilan keputusan berbasis data dan bukti lapangan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi selaku penanggung jawab kegiatan Global Forum mengungkapkan partisipasi anak muda bisa menjadikan sektor pertanian, termasuk di wilayah pedesaan menjadi lebih produktif dan menarik.

“Kami saat ini berupaya untuk bisa memahami karakteristik kelompok anak muda, termasuk perempuan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif, serta mencarikan metode terbaik untuk mengasah bakat mereka dalam Bertani,” jelas Dedi.

Dedi pun menyebutkan pihaknya akan memaksimalkan Global Forum sebagai wadah untuk berbagi kebijakan, program pengembangan, serta strategi dan program dalam transformasi pertanian digital untuk mengakselerasi kewirausahaan muda dan perempuan.

Diskusi Global Forum dibuka oleh penyampaian short statement dari menteri pertanian dan perwakilan dari negara Turki, Kanada, Amerika Serikat, Italia, dan Afrika Selatan yang dilanjutkan oleh diskusi panel. Sesi pertama diskusi panel diisi oleh IFAD, CGIAR, GIZ, dan MAFF-Jepang. Sementara sesi kedua diisi oleh start-up dan perusahaan global, yaitu PT Bali Organik Subak dari Indonesia, Pinduoduo dari Cina, AgUnity dari Australia, dan Microsoft Indonesia.(*)

Sistem Pertanian Tangguh Harus Didukung SDM Pertanian Tangguh

Kepala Badan PPSDMP Prof Dr. Ir Dedy M.Agr dalam arahanya saat membuka Pelatihan Smart Farming Berbasis KUR yang di selenggarakan tanggal 24 sd 26 September 2022, di Kota Denpasar menekankan bahwa ada pergeseran Sumber Daya Manusia Pertanian sebagai penyebab minat petani yg produktif berkurang karna umur sehingga dibutuhkan generasi petani milenial yg melek inovasi.

Saat ini petani kita didominasi oleh petani kolotnial dengan tingkat pendidikan SD. Kondisi ini sangat tidak mungkin akan memacu produk pertanian yg terus bersaing dengan produk import, sehingga saat ini juga kita membutuhkan petani milenial yg harus disiapkan oleh Indonesia melalui peningkatan Sumber Daya Manusia  di sektor pertanian.

Pelatihan Smart Farming Berbasis KUR yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Peternakan  Batu saat ini merupakan terobosan yg tepat dalam menyiapkan SDM Pertanian Tangguh,
Didampingi Kapuslatan Dr Ir  Leli Nuryati M.Sc dan PLT.Ka.Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Bali, juga berpesan bahwa Indonesia saat ini sangat membutuhkan generasi milenial pertanian yg sangat mendesak sehingga perlu didesain model model pelatihan yg mampu meningkatkan kualitas SDM  untuk mewujudkan program tersebut, imbuhnya.

Pelatihan ini diikuti oleh 80 orang Non Aparatur Milenial dan 60 orang Aparatur yang berasal dari empat Kota/ Kabupaten yaitu  Kota Denpasar, Kabupaten Tabanan Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Badung yang semuanya mereka adalah stakeholder, petani milenial dan Penyuluh Milenial

Ditempat yang sama dalam lapornaya sebagai penyelenggara Dr. Sabir, S.Pt M.Si yang juga Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu menyampaikan Smart farming 4.0 merupakan metode pertanian cerdas berbasis teknologi, dimana terdapat beberapa teknologi pertanian yang digunakan di antaranya penyiraman otomatis, drone sprayer (drone penyemprot pestisida dan pupuk cair), drone surveillance (drone untuk pemetaan lahan) serta soil and weather sensor (sensor tanah dan cuaca) sehingga Penerapan metode smart farming 4.0 bisa jadi solusi bagi berbagai permasalahan di sektor pertanian Indonesia. Masa depan pertanian Indonesia adalah pertanian yang cerdas berbasis teknologi, dalam menunjang program diatas maka Kementerian Pertanian melalui BBPP Batu menyelenggarakan Pelatihan Smart Farming berbasis KUR imbuhnya.
Sabir juga berharap bahwa  melalui pelatihan ini mampu menggeser fixed mindset kearah growth mindset bagi Aparatur maupun Non Aparatur baik pelaku utama maupun pelaku usaha. BBPPBATU

artikel juga di post di https://www.swadayaonline.com/artikel/11793/Sistin-Pertanian-Tangguh-Harus-Didukung-SDM-Pertanian-Tangguh/

Pemanfaatan Gale dalam Penelusuran Jurnal

 Informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka sangat banyak dan beragam, karena kebutuhan informasi setiap orang berbeda. Pemenuhan informasi diperoleh dari berbagai sumber yang diperoleh pemustaka. Memfasilitasi pemustaka dalam pemenuhan informasi, Perpustakaan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu menyelenggarakan workshop dengan tema “Pemanfaatan Gale dalam Penelusuran Jurnal”. Workshop bertujuan memberikan informasi kepada widyaiswara dalam penelusuran literatur yang dapat diperoleh dari gale sebagai referensi menulis, mengajar, dan aplikasi dilapangan. Tetapi informasi ini tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh widyaiswara saja, pemustaka yang lain juga bisa. Gale dapat dimaknai sebagai sebuah perusahaan penerbitan dalam bidang pendidikan.

Workshop dilakukan pada hari Senin, 19 September 2022, di gelar secara during di ikuti oleh 72 partisipant, yang dibuka oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Bapak Dr. Sabir, S.Pt., M.Si. Disela-sela kesibukan Beliau, Bapak Kepala Balai menyempatkan membuka kegiatan workshop dan menyampaikan motivasi kepada seluruh peserta worshop, “Kalau kita mencermati pengalaman orang sukses, mereka memiliki karakter moral (beriman, bertakwa, jujur, disiplin), karekter kinerja yang baik (bekerja tuntas, keras, pantang menyerah, fokus), memiliki kompetensi (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif), kemampuan literasi seperti literasi baca”. Contohlah pengalaman dari orang sukses agar kita juga menjadi orang yang sukses.

Materi workshop disampaikan oleh Muhammad Zuhdi S, S.Sos. Beliau adalah pengelola Gale di PUSTAKA Bogor. Penjelasan materi dengan mempraktekkan langsung meningkatkan antusias peserta workshop dalam menyimak. Pada sesi tanyajawab, masih banyak juga hal-hal yang dipertanyakan oleh peserta dan dijawab dengan penjelasan sesuai dengan harapan penanya. Tidak hanya itu saja, saking antusiasnya peserta, setelah worshop berakhir masih juga ada yang japri admin untuk bertanya tentang materi workshop.

Peserta worshop kali ini tidak hanya dari lingkup BBPP Batu, tetapi banyak dari luar bahkan ada dari Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Dengan adanya worshop ini, semoga gale yang dilanggan oleh PUSTAKA dapat termanfaatkan lebih maksimal dan berguna bagi pemustaka dari manapun. ERI/BBPPBATU

artikel juga di post di https://www.swadayaonline.com/artikel/11751/Pemanfaatan-Gale-dalam-Penelusuran-Jurnal/

Perpustakaan BBPP Batu Beri Apresiasi Kepada Pengunjungnya

Hari kunjungan perpustakaan yang diperingati setiap tanggal 14 September merupakan momen peningkatan literasi informasi. Tetapi bukan hanya pada hari tersebut mesti digalakkannya peningkatan literasi. Hari kunjungan perpustakaan pertama kali diperingati pada Tahun 1995 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Sesuai dengan ketetapan Presiden Soeharto kepada Kepala Perpustakaan Nasional RI dengan surat nomor 020/A1/VIII/1995 pada 11 Agustus 1995. Dengan harapan adanya peningkatan minat literasi membaca buku di perpustakaan.

Mengisi kemeriahan hari kunjungan perpustakaan pada hari Rabu, 14 September 2022, Perpustakaan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu memilih dan memilah pemustaka yang memanfaatkan layanan perpustakaan selama setahun dengan penilaian yang meliputi jumlah kunjungan, jumlah peminjaman buku, jumlah pengembalian buku, serta pemanfaatan layanan perpustakaan lainnya. Dari banyaknya pemustaka, dipilih 2 (dua) orang yang beruntung sesuai dengan kriteria penilaian.

Penyerahan apresiasi kepada pemustaka yang beruntung diberikan pada apel pagi hari Senin, 19 September 2022. Pada saat disampaikan bahwa Perpustakaan BBPP Batu memberikan apresiasi kepada seluruh pemustaka yang selama ini telah berkunjung dan memanfaatkan layanan perpustakaan oleh Pembina Apel yang pada saat itu adalah Catur Puryanto, SST. Peserta apel mulai ricuh menduga pemustaka yang mendapatkan hadiah tersebut. Ternyata yang mendapatkan hadiah adalah Pararto Wicaksono, SP.M.Si. dan Happy Aprillia Mahardika, S.Pt.,M.Si.

Penyerahan hadiah dilakukan oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu, Bapak Dr. Sabir, S.Pt., M.Si didampingi oleh Pembina Apel dan Pustakawan BBPP Batu. Semoga melalui kegiatan ini, lebih banyak lagi pemustaka yang memanfaatkan layanan Perpustakaan BBPP Batu bukan untuk mendapatkan hadiah, tetapi untuk memperkaya diri melalui informasi terbaru. ERI/BBPPBATU

artikel juga di post di https://www.swadayaonline.com/artikel/11750/Perpustakaan-BBPP-Batu-Beri-Apresiasi-Kepada-Pengunjungnya/

Perubahan Iklim Global dan Aspek Sistem Produksi Ternak yang Terdampak

Di Asia Tenggara, penurunan hasil produksi ternak hingga 20% telah diproyeksikan akan terjadi pada tahun 2050, sebagai akibat dari perubahan suhu dan curah hujan secara regional, sehingga  berdampak pada pakan dan ketersediaan pakan ternak. Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk Asia dan permintaan standard hidup yang lebih tinggi, penurunan produksi ternak ini dapat berdampak buruk pada lebih dari satu miliar orang pada tahun 2050 (Hijioka et al., 2014).

Hal yang sama berlaku untuk pulau-pulau di negara-negara kepulauan pasifik (Oseania), yang sangat rentan terhadap peristiwa cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan laut, dan pada tahun 2050, perubahan iklim diproyeksikan akan membatasi sumber daya air tawar, yang merupakan sumber daya yang sangat penting  dalam sistem produksi ternak (Nurse et al., 2014).

Peternakan di negara berkembang memberikan kontribusi yang jauh lebih tinggi terhadap pendapatan masyarakat dan memiliki peran sosial ekonomi yang penting (Thornton dan Gerber, 2010; Robinson et al., 2014). Selain itu, negara berkembang lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim global dan ternak lebih memungkinkan terkena kejadian ekstrem karena sedikit infrastruktur dan sumber daya untuk menjaga ternak tetap aman.

Di daerah yang lebih kering di Amerika Tengah dan Selatan, perubahan iklim diperkirakan akan memperburuk kondisi kekeringan dan degradasi lahan pertanian, menurunkan produktivitas ternak dan tanaman pakan penting seperti jagung dan kedelai, dengan konsekuensi merugikan ketahanan pangan (Magrin et al., 2014).

Saat ini sistem produksi ternak secara global berada di bawah tekanan yang besar. Meningkatnya permintaan protein hewani dari produk hasil ternak sebagian besar akibat pertumbuhan penduduk, urbanisasi, peningkatan pendapatan, dan perubahan pola makan (Thornton, 2010; Delgado, 2003]. Sistem produksi peternakan beroperasi pada berbagai kondisi lingkungan, menyebabkan produksi ternak semakin terpengaruh oleh perubahan iklim.

Dampak ekonomi global yang disebabkan oleh iklim ekstrem, seper-empatnya dialami oleh sektor pertanian, di mana peternakan adalah subsektor di dalamnya yang mengalami kerusakan besar dan kerugian total (FAO, 2015). Tahun 2016, sektor peternakan mengalami peningkatan produksi daging tahunan yang terendah (1%) (FAO, 2016).

Masa depan sektor peternakan diproyeksikan akan mengalami kelangkaan sumber daya penting untuk produksi, terutama tanah dan air, akibat perubahan iklim (Weindl et al., 2015). Perubahan iklim telah menyebabkan penurunan produktivitas ternak dengan secara langsung menekan mekanisme respon adaptif ternak, mengubah penyebaran dan prevalensi penyakit hewan (Bett et al., 2017), dan menyebabkan ternak stres akibat panas dan menyebabkan masalah kesejahteraan hewan (Morignat et al., 2014); dan secara tidak langsung mengalami kelangkaan ketersediaan akan tanaman pakan dan kualitas hijauan yang buruk (Giridhar et al., 2015). Penelitian tentang dampak perubahan iklim dan adaptasinya pada sistem peternakan akan memiliki implikasi penting bagi pengembangan sektor peternakan dan semua stakeholder yang bergantung padanya.

Sektor peternakan telah menyerap 1,3 miliar orang pekerja dan menjadi mata pencaharian sekitar 900 juta orang miskin di seluruh dunia [World Bank, 2015]. Pangan sumber hewani dari peternakan telah menyediakan sekitar 14% dari total kalori dan 33% dari total protein dalam diet populasi di dunia (FAO, 2016). Sektor peternakan memiliki potensi yang lebih kuat dalam ketahanan terhadap perubahan iklim, karena cenderung lebih tangguh daripada sistem pertanian berbasis tanaman (Prasad dan Sejian, 2015).

Namun, untuk meningkatkan ketahanan ternak terhadap perubahan iklim, sangat diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana pengaruh perubahan iklim terhadap sektor peternakan (Descheemaeker et al., 2016). Kebijakan dan program kerja yang efektif memerlukan data spesifik sektor peternakan terkait karakteristik dan besarnya dampak yang dipicu oleh perubahan iklim (Seo et al., 2009;  Thornton dan Gerber, 2010).

Dampak perubahan iklim terhadap berbagai sistem peternakan sangat bervariasi (Seo et al., 2010; Rust dan Rust, 2013), memahami perbedaan ini sangat penting untuk merumuskan kebijakan dan program kerja (Thornton dan Herrero, 2014). Penyamaan persepsi dan pengetahuan tentang dampak perubahan iklim dan adaptasinya pada seluruh skala sistem peternakan yang berbeda juga penting untuk mengidentifikasi perhatian bersama yang dapat mendorong kolaborasi di antara sistem produksi ternak yang berbeda, dan untuk mengidentifikasi area yang berdampak negatif akibat perubahan iklim (Herrero et al., 2015).

Penelitian yang berkaitan dengan dampak perubahan iklim terhadap ternak dan adaptasinya sangat diperlukan agar terbangun pemahaman dan kemampuan sektor peternakan untuk menangani dampak perubahan iklim di masa depan dan untuk memantau kemajuan adaptasi dari waktu ke waktu.

Studi atau penelitian yang ada saat ini tentang dampak perubahan iklim terhadap peternakan relatif sedikit dibandingkan  dengan tanaman pangan karena sektor peternakan ini sangat dinamis (Porter et al., 2014), dan bukti-bukti yang telah tersedia masih terfragmentasi (Herrero dan Thornton, 2013). Data di seluruh dunia terkait kerusakan dan kerugian di sektor peternakan akibat perubahan iklim tidak dikumpulkan atau dilaporkan secara sistematis (FAO, 2015).

Sistem produksi ternak yang heterogen, zona agroekologi yang bervariasi, dan tujuan produksi ternak yang berbeda menyebabkan tantangan yang luar biasa terkait pengumpulan dan sintesis data di sektor peternakan (Pica-Ciamarra et al., 2014; Robinson et al., 2014). Selain itu terdapat berbagai praktik lintas sistem produksi ternak yang disesuaikan dengan kondisi budaya, sosial ekonomi, dan kelembagaan (Steinfeld et al., 2006; Thornton et al., 2009). Pentingnya sektor peternakan bagi pembangunan suatu negara sangat bergantung pada berbagai nilai sosio-ekonomi, dan manfaat budaya yang diberikannya (Gandini dan Villa, 2003; Upton, 2004).

Produksi ternak menjadi salah satu kesulitan terpenting di dunia karena di satu sisi permintaan secara global akan produk hasil ternak semakin meningkat, tetapi di sisi lain perubahan iklim telah sangat berdampak terhadap produksi peternakan, khususnya di negara / daerah berkembang. Selain itu, ternyata sektor peternakan juga telah kontribusi negatif terhadap perubahan iklim global.

Sektor peternakan harus menjadi lebih berkelanjutan sambil beradaptasi dengan perubahan iklim global dan pada saat yang sama dapat memenuhi tuntutan pertumbuhan populasi akan permintaan produk hasil ternak. Terdapat lima aspek produksi ternak yang dilaporkan paling terpengaruh oleh perubahan iklim global, yaitu: pakan, penyakit, ekonomi, produksi, dan penggunaan air dan lahan pada peternakan.

Dampak perubahan iklim terhadap pakan ternak umumnya dikaitkan dalam hal kuantitas dan kualitas pakan yang buruk karena peningkatan suhu dan kekeringan sehingga ternak tidak dapat memenuhi kebutuhan energi untuk mempertahankan berat badannya. Penyakit ternak sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Dampak tersebut sebagian besar berupa bentuk keparahan dan distribusi penyakit hewan karena paparan suhu dan kelembaban yang meningkat serta variasi suhu dan curah hujan.

Dampak perubahan iklim terhadap ekonomi muncul akibat performa ternak yang lebih buruk, yang terkait dengan dampak pada aspek  produksi lainnya, seperti pakan dan kesehatan ternak. Misalnya, pada sistem penggembalaan / pastoral, kerugian ekonomi dikaitkan dengan performa ternak yang buruk karena kelangkaan pakan yang disebabkan oleh kekeringan. Dampak perubahan iklim terhadap produksi ternak ditinjau dari parameter performa ternak seperti penambahan bobot badan harian, efisiensi konversi pakan, dan produksi susu dan kualitas hasil ternak lainnya. Stres akibat panas dan kelembaban mengubah fisiologi ternak, membuat ternak lebih rentan terhadap penyakit dan stres. Variabilitas suhu mengakibatkan dampak nyata pada performa reproduksi ternak seperti penurunan kesuburan, tingkat konsepsi, dan daya hidup. Sumber daya air dan lahan merupakan input kunci dalam sistem produksi ternak, terutama dalam produksi tanaman pakan.

Perubahan iklim mempengaruhi ketersediaan, kelangkaan dan penipisan air sehingga mengurangi produktivitas  ternak. Ada tiga opsi respon adaptasi yang bisa dikelompokkan dan telah ditawarkan oleh para peneliti, yakni opsi inkremental, sistemik dan transformasional. Opsi inkremental terdiri dari peningkatan kualitas dan kuantitas pakan ternak, efisiensi penggunaan air dan lahan, pengurangan stres ternak akibat panas, dan perbaikan manajemen produksi ternak.

Opsi sistemik terdiri dari modernisasi operasi peternakan, mengubah komponen sistem pertanian, serta perubahan kelembagaan dan kebijakan. Opsi transformasional terdiri dari transisi sistem pertanian, diversifikasi dan intensifikasi produksi ternak.

Sistem produksi ternak yang diintegrasikan dengan sistem pertanian tanaman pangan atau disebut sebagai sistem pertanian terpadu tanaman-ternak adalah opsi adaptasi terhadap perubahan iklim global yang telah mengakar kuat dan telah diaplikasikan pada kehidupan petani Indonesia. Pemilihan jenis ternak lokal untuk dibudidayakan merupakan opsi adaptasi terhadap perubahan iklim global karena ternak lokal lebih bisa beradaptasi terhadap lingkungan termasuk tahan terhadap cekaman panas dan kondisi pakan yang buruk.

*)Oleh: Eko Saputro 

artikel juga di post di https://www.timesindonesia.co.id/read/news/428163/perubahan-iklim-global-dan-aspek-sistem-produksi-ternak-yang-terdampak

© 2022: Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu | GREEN EYE Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress