Ladang Cuan, Usaha Ternak Burung Puyuh Modal Kecil Profit Besar - BBPP BATU

Ladang Cuan, Usaha Ternak Burung Puyuh Modal Kecil Profit Besar

Budidaya burung puyuh merupakan salah satu potensi bisnis peternakan yang menjanjikan untuk dikembangkan di Indonesia.

Burung Puyuh termasuk unggas penghasil telur terbesar nomor dua setelah ayam petelur dengan beberapa keunggulan diantaranya mampu berproduksi dalam usia muda dengan produktifitas telur yang tinggi, memiliki masa produksi yang panjang hingga 18 bulan.

Selain itu ternak burung puyuh tidak memerlukan lahan yang luas, modal usaha yang dibutuhkan relatif lebih murah, memiliki pangsa pasar yang luas dengan harga yang relatif stabil dan kotoran puyuh mempunyai kandungan protein, N, P dan K yang cukup tinggi.

Berdasarkan potensi tersebut, Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu sebagai UPT di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian menggelar Bertani on Cloud (BOC) Volume 257 pada Kamis (21/03/24) dengan tema “Ternak Kecil, Cuan Besar dengan Budidaya Burung Puyuh” yang menghadirkan narasumber Bayu Firmansyah peternak burung puyuh dari Kabupaten Malang yang juga merupakan alumni Pelatihan Kewirausahaan di BBPP Batu.

Sebagai peternak milenial, populasi ternak yang di usahakan oleh Bayu sebanyak 11.500 ekor dengan rata – rata produksi telur puyuh 108 Kg per hari. Menurut Bayu, kebutuhan telur puyuh di pasaran saat ini sangat besar bahkan cenderung kurang, dengan sistem budidaya yang relatif mudah dan tidak banyak memakan waktu menjadikan usaha peternakan burung puyuh merupakan usaha sampingan penghasil cuan yang menjanjikan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi dalam arahannya saat membuka BOC volume 257 menyampaikan bahwa bicara mengenai ketahanan pangan, berarti bicara tentang pertanian. Pertanian itu harus menguntungkan, karena jika bertani itu rugi maka petani tidak akan semangat untuk berproduksi dan pertanian akan di tinggalkan oleh petani.

“Pertanian itu harus di kelola dengan cara-cara bisnis. Yang namanya bisnis berarti harus untung sebanyak-banyaknya. Yang berarti di dalam proses bisnisnya harus efisien, produktifitasnya harus tinggi dan harga pokok produksinya harus serendah-rendahnya,” sebut Dedi.

Lebih lanjut Dedi menyampaikan bahwa kebutuhan pangan saat ini dipenuhi dari sumber pangan nabati dan hewani. Kebutuhan pangan tidak lepas dari kebutuhan gizi salah satunya adalah protein. Protein merupakan komponen yang mutlak diperlukan oleh tubuh terutama anak – anak  balita pada saat pertumbuhan, sehingga bisnis penyediaan sumber pangan hewani penghasil protein  tentunya akan sangat menggiurkan karena semua orang pasti perlu salah satunya dari bisnis budidaya telur puyuh.

Pada sesi materi terkait budidaya burung puyuh,  peserta BOC di ajak langsung untuk melihat cara berbudidaya puyuh di kandang. Menurut Bayu terdapat tiga kunci sukses dalam beternak burung puyuh antara lain penyediaan bibit, manajemen kandang dan harga telur.

Sebagai penutup, Kepala BBPP Batu, Roby Darmawan menyampaikan ucapan terimakasih kepada narasumber dan semua pihak serta seluruh peserta BOC volume 257. Semoga dengan BOC ini dapat memberikan inspirasi bagi insan pertanian di Indonesia, sehingga lahir talenta-talenta petani milenial yang penuh semangat membangun pertanian Indonesia.

“Bangsa Indonesia butuh milenial-milenial yang mampu menciptakan lapangan kerjanya sendiri, dan sektor peternakan tentu memiliki sisi-sisi menarik yang potensial untuk dikembangkan. Salah satunya adalah budidaya burung puyuh ini,” kata Roby. (*)

https://timesindonesia.co.id/indonesia-positif/490532/ladang-cuan-usaha-ternak-burung-puyuh-modal-kecil-profit-besar#google_vignette

Comments are closed.