Petani Milenial Menimba Ilmu di Korea Selatan

Artikel Umum Berita

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui berbagai terobosan programnya terus berupaya membangun kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mewujudkan percepatan penumbuhan dan penguatan petani muda dalam visi besar Indonesia maju.

Arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Kementan terus meningkatkan kualitas SDM pertanian dan membuat sektor pertanian menjadi lebih menarik serta menguntungkan. Pertanian kita harus mandiri dan modern sehingga keluarga petani semakin sejahtera. Di samping itu, pertanian harus bisa menarik minat generasi muda sebagai profesi yang menjanjikan.

Demikian pula keberhasilan pembangunan pertanian Indonesia terletak pada kekuatan para petani kita. Karena itu, pembangunan SDM pertanian juga wajib dilakukan diantaranya melalui pelatihan  termasuk didalamnya kegiatan Magang.

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Dr. Ir. Leli Nuryati, M.Sc dalam kesempatan pertemuan sosialisasi Magang Petani milenial ke Korea Selatan mengatakan  persiapan magang jepang sudah diselesaikan bahkan termasuk program SSW semua UPT sudah melakukan pelatihan bagi calon peserta yang akan berangkat ke Jepang namun demikian para calon peserta magang Jepang harus tetap bersabar sekalipun mereka sudah lulus baik itu ujian bahasa maupun teknis masih harus menunggu  pemerintahan Jepang untuk membuka kembali  mengirimkan petani milenial karena kondisi covid yang masih belum mereda.

Sementara dalam rangka menunggu keberangkatan para petani milenial ke Jepang. Kembali BPPSDMP diberi kesempatan melalui Kementerian Ekonomi (Kemenko) untuk memberangkatkan para petani milenial ke Korea Selatan meskipun demikian formatnya sedikit berbeda. Program pengiriman petani milenial ke Korea Selatan sedang dalam proses karena ini adalah program yang kali pertama dilakukan oleh BPPSDMP Kementerian Pertanian.

Leli melanjutkan sesuai arahan kepala Badan PPSDMP Prof. Dedi Nursyamsi bahwa untuk peserta yang sudah mengikuti pelatihan Magang ke Jepang oleh program SSW dan belum lulus ujian bahasa dan teknis pertanian, diberikan kesempatan utama untuk mengikuti persiapan keberangkatan ke Korsel, namun demikian kami tidak memaksa, bagi peserta yang tidak berminat untuk pergi ke Korsel, tidak masalah dan tidak perlu kita paksakan. Paling tidak BPPSDMP sudah memberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau belajar diluar negeri.

Sementara bagi yang berminat akan dikirimkan ke International Korea Culture and Study (IKCS), paling tidak untuk mengikuti pengenalan awal tentang budaya Korea Selatan, bahasa-bahasa yang bersifat umum yang bisa dipelajari dan kegiatan tersebut dilakukan secara online.

Sebelum mengakhiri Kepala Pusat Pelatihan Pertanian menyerukan agar insan pertanian dapat menggunakan kesempatan ini, dan berharap prosesnya berjalan lancar sehingga pada bulan September dan Oktober tahap pertama dapat diberangkatkan. Dan jangan heran jika pada saat pemberangkatan  masih dalam situasi covid, para petani milenial akan di dikarantina terlebih dahulu selama 14 hari, hal lain yang perlu disiapkan adalah sudah divaksin atau paling tidak  dibuktikan dengan menunjukan sertifikat atau bukti bahwa sudah divaksin dan harus sudah  2 kali vaksin. 

Mr. Chang menyampaikan  selama masa covid akan diusahakan untuk dapat dilakukan keberangkatan sebagai percobaan, akan tetapi pada akhirnya sesuai  arahan dari pemerintah Korea harus menjadi program antar 2 negara yaitu Korea dan pemerintah Indonesia.

Dalam kesempatan itu Mr. Chang menyampaikan bahwa sudah hampir 13 tahun pihaknya bergandengan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, bahkan tahun 2017 ada permagangan untuk guru dari Aceh mirip dengan program petani milenial dan pada akhirnya menjadi program 2 Negara Korea-Indonesia.

Untuk pertanian sebenarnya awal tahun sudah dilakukan uji coba sebanyak 2 kali untuk industri pengolahan hasil pertanian di Korea dan ditempatkan diwilayah Chungcheon.

Berdasarkan pada klasifikasi petani milenial tergolong pada C 31 artinya kerjasama yang dilakukan antar negara dengan kurun waktu 90 hari dan tidak dapat diperpanjang, termasuk usia juga sangat menentukan tapi ini tergantung pada MoU. Karena program ini masih berupa magang, maka setiap peserta akan memperoleh uang saku.

Berharap agar program ini akan menjadi program G to G sehingga tidak menutup kemungkinan waktunya dapat diperpanjang menjadi 5 bulan atau bahkan mungkin menjadi 1 tahun. Adapun persyaratan secara umum yang ditetapkan oleh Pemerintah Korea Selatan untuk C 31 yaitu; Paspor yang masih berlaku, surat rekomendasi dari pemda dan Instansi, copy lanpiran MoU, Form Visa, KTP dengan usia 20 sd 30 tahun, Medical Check Up dari RS yang telah ditunjuk oleh kedutaan besar Korea Selatan, Sertifikat bahasa Korea, Surat Integritas / Jaminan peserta dan Pemda untuk resiko illegal worker, Kartu Keluarga, Surat Nikah dan Ijasah terakhir.

Mr. Chang berharap rancangan magang ke Korea Selatan mudah-mudahan menjadi pembuka jalan berikutnya, mengingat sudah hampir 8 tahun MoU antara Korea dan Indonesia belum juga terselesaikan khususnya di bidang pertanian. Chang berharap hasil program ini para petani milenial setelah kembali ke Indonesia dan mengembangkan produk produk pertaniannya dapat menjalin kerjasama dengan Korea Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *