Perjuangan Penyuluh Pertanian Kabupaten Bondowoso untuk Uji Kompetensi Penyuluh Supervisor

Artikel Pelatihan Berita

Peningkatan peran sektor pertanian yang diharapkan mampu menyumbangkan perekonomian nasional diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas, handal, berkemampuan manajerial, kewirausahaan, dan organisasi bisnis, sehingga pelaku pembangunan pertanian mampu membangun usaha dari hulu sampai hilir yang berdaya saing tinggi, dan mampu berperan serta dalam melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan hidup sejalan dengan prinsip berkelanjutan.

Untuk itu pengembangan sumberdaya manusia diarahkan pada semangat, wawasan, kecerdasan, keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu membentuk kepribadian mandiri.

Bagi Penyuluh Pertanian yang berperan sebagai agen pembaharuan, pengembangan sumberdaya manusia merupakan pemberian motivasi dan penghargaan agar lebih meningkatkan kinerja. Melalui peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor PER/02/MENPAN/2/2008 ditetapkan pengaturan dan Pendidikan pelatihan (Diklat) dalam jabatan bagi penyuluh pertanian.

Peraturan tersebut menyatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang akan/ atau telah diangkat dalam jabatan fungsional Penyuluh Pertanian harus lulus Dasar Diklat Penyuluh Pertanian; dan Penyuluh Pertanian yang akan beralih jenjang jabatan dari kelompok Terampil ke Ahli harus lulus Diklat Alih Kelompok.

Dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 52/Permentan/HK.140/J/07/15, tentang petunjuk pelaksanaan Diklat Fungsional Penyuluh Pertanian, Penyelenggara Diklat Fungsional Penyuluh Pertanian dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Pertanian Pusat sesuai dengan wilayah koordinasi.

Pelatihan Alih Kelompok bagi Penyuluh Pertanian adalah diklat fungsional yang juga memberikan peluang bagi yang bersangkutan berhak mengikuti uji kompetensi dari profesi Penyuluh Fasilitator ke Penyuluh Supervisor.

Namun dengan adanya pandemic Covid19 pemerintah pusat maupun daerah terpaksa menempuh kebijakan mengalihkan alokasi kebutuhan pelatihan untuk prioritas pencegahan dan penanggulangan gelombang Covid19 tersebut, sehingga Kepala Dinas (PLT) Pertanian, Kabupaten Bondowoso, Hendri Widotono SPt MP mendorong para Penyuluh Pertanian Terampil menentukan sikap dapat memanfaatkan peluang secara mandiri.

Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, dan melalui upaya swadaya, 21 Penyuluh Pertanian dari 7 BPP di Bondowoso. Yakni, BPP Sumberwringin, Congkrong, Mas Kuning Pujer, Pakem, Besuk, Gunung Anyar, dan Tangsil, yang telah memiliki pengalaman kerja di penyuluhan pertanian 9 s.d 11 tahun, mengikuti pelatihan Alih Kelompok. Pelatihan berlangsung pada tanggal 26 April – 10 Mei 2021, dibuka oleh Kepala BBPP Batu, Dr. Wasis Sarjono,  S.Pt, M.Si.

Peningkatan kompetensi dari Penyuluh Pertanian Terampil ke Ahli lebih ditekankan pada orientasi mengembangkan pola pikir menejemen dari skope Desa ke tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota, Propinsi hingga Nasional. Sehingga “pisau Analisa” yang digunakan sebagai ciri pembeda dalam identifikasi potensi wilayah menggunakan impactpoint, ditingkatkan dengan Teknik Analisa wilayah Agribisnis dan agri-ekosistem menggunakan Analisa “SWOT” terhadap data primer dan sekunder sesuai dengan tingkat wilayahnya untuk proses penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian. Peserta tidak hanya dituntut tertib  dan disiplin, tetapi juga penguasaan teknologi informasi menuju Revolusi 4.0 Pertanian.

Dengan waktu relatif singkat 112 jam pelajaran (JP) peserta harus dapat membuahkan laporan Praktik Kompetensi Penyuluhan Pertanian (PKPP) tentang perencanaan (programa penyuluhan tingkat Kecamatan dan Kabupaten), pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan dan dampak serta menyusun matriks Rencana Kegiatan Tahunan Penyuluhan Pertanian (RKTPP).

Untuk menjamin mutu pelaksanaan diklat tersebut BBPP Batu menerjunkan para widyaiswara kompetensi Penyuluhan Pertanian, yaitu Eko Fendi Baskoro, SST, M.Si (Widyaiswara Ahli Muda), Pararto Wicaksono, SP, M.Si (Widyaiswara Ahli Madya), Karel Daniel Isak Sir, SP, M.Agr (Widyaiswara Ahli Madya) dan Ir. Tri Handajani, M.Agr (Widyaiswara Ahli Utama)

Dalam suasana puasa tim teaching para widyaiswara ini menghadapi tantangan cukup berat karena harus mampu mengendalikan dinamika kelas dengan berbagi pendekatan dan metode, melakukan pendampingan intensif, bimbingan kertas kerja berkelompok untuk mencapai keluaran diklat sesuai standar , padahal tuntutan menjaga protokol kesehatan tetap harus dipatuhi juga.

Kondisi yang demikian ini menjadi bahan pembahasan menarik dalam kasus nyata, menetapkan strategi pembelajaran penerapan efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar untuk saling peduli, introspeksi, toleransi, menghargai menumbuhkan semangat dengan selalu berkomitmen mencapai tujuan diklat yang berkualitas. Semoga upaya ini memberikan manfaat yang lebih amaliah bagi peserta, fasilitator, instansi penyelenggara maupun yang akan terkait.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *