GERAKAN PENGENDALIAN WERENG BATANG COKELAT DENGAN METODE SWADAYA DESA

Artikel Pertanian

Tanaman Padi merupakan salah satu komoditas utama yang dibudidayakan oleh petani di desa bungur Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro. Padi adalah komoditas unggulan yang pola tanamanya tidak pernah putus sepanjang tahun di kecamatan kanor Kabupaten Bojonegoro. Karena Kecamatan Kanor merupakan salah satu dari 10 kecamatan yang dilewati oleh aliran bengawan solo, dan memiliki lahan pertanian yang cukup luas 4691 ha.

            Dengan Pola tanam yang dibudi dayakan Petani di kecamatan kanor Sebagian besar adalah Padi – Padi – Padi dan Padi – Padi – Palawija. Maka rantai ekosistem untuk organisme pengganggu tanaman bisa dikatakan tidak terputus sepanjang tahun. Pada Musim Tanam I awal tahun 2021 petani di desa Bungur melaksanakan Budi daya tanaman padi, dengan berbagai jenis varietas tanaman padi antara lain ciherang dan inpari 32 . Pada saat ini tanaman padi sudah masuk usia 40 HST saat dilakukan pengamatan oleh petugas POPT (Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman) kecamatan Kanor pada tanggal 21 Januari 2021 ternyata dengan kondisi cuaca yang sangat lembap di awal tahun 2021 terjadi sebaran OPT yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman di masa vegetative dan generative. OPT yang ditemukan dalam pengamatan adalah Penggerek Batang dan Wereng Batang Cokelat.

Gambar 1. Pengamatan OPT WBC (Wereng Batang Cokelat / Nilaparvata lugens )

            Dari Hasil Pengamatan oleh petugas POPT Kecamatan Kanor dilakukan koordinasi Bersama ketua Kelompok tani dan Kepala Desa Serta Perangkat desa untuk dilakukan pengendalian. POPt memberikan anjuran untuk melaksanakan pengendalian karena jumlah populasi hama wereng Batang Cokelat per rumpun sudah masuk pada ambang batas pengendalian yaitu sudah lebih dari 5 ekor imago wereng batang cokelat. Yang menandakan populasi sudah mendekati angka kerugian jika tidak segera dilakukan Gerakan pengendalian secara serentak,  serta dari hasil pengamatan di temukan jumlah kelompok telur Penggerek batang padi dengan kematian tunas lebih dari 5%.

            Penyebaran OPT ( Organisme Pengganggu Tanaman)  utama tanaman padi ini disebabkan adanya perbedaan waktu tanam dalam satu wilayah kecamatan. Di desa yang dilewati oleh aliran bengawan solo saat ini sedang panen serentak sedangkan untuk wilayah yang jauh dan tidak dapat aliran bengawan solo saat ini baru tanam padi dan memasuki usia tanaman 40 HST  sehingga terjadi penerbangan OPT dalam satu wilayah hamaparan kecamatan. Selain dari perbadaan waktu tanam juga dipengaruhi oleh perubahan cuaca yang secara signifikan lebih lembab sehingga mendorong perkembangan OPT lebih cepat.

            Pelaporan hasil pengamatan POPT Bersama kelompok tani dikoordinasikan dengan pihak desa yang akhirnya menyepakati untuk melaksanakan Gerakan pengendalian yang sepenuhnya di anggarkan oleh desa. Dengan tingginya populasi hama utama tanaman padi maka di sepakati akan dilakukan pengendalian secara serentak satu desa selama 3 kali. Dengan interval pelaksanaan setiap minggu sekali.

            Dukungan pihak desa untuk memberikan perhatian kepada petani merupakan salah satu nilai positif yang mampu mensinergikan antara petani, pihak desa dan petugas penyuluhan untuk saling berkontribusi dalam uapaya peningkatan produksi hasil pertanian. Kesadaran petani untuk mau dan mampu melaksanakan Gerakan pengendalian secara serentak yang dilakukan oleh kelompok tani bersama anggota kelompok tani adalah salah satu bentuk perubahan sikap dan perilaku petani yang dengan sadar mau untuk bekerja bersama untuk menekan perkembaangan OPT mengingat perbedaan tingkat Pendidikan petani yang berbeda.

            Dengan adanya Gerakan pengendalian secara swadaya ini mampu memberikan stimulan kepada petani untuk mampu melakukan pengamatan secara intensif dan siap berkoordinasi untuk melakukan pengendalian bersama – sama. Juga mampu memberikan efek positif bagi desa lain agar mau bergerak memberikan sedikit titik cerah perhatian bagi pertanian dan juga petani untuk mempertahakan dan meningkatkan produktifitas hasil pertanian.

Penulis : Isna Royyana, SP

Asal instansi : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *