Kementan RI Dampingi Peternak Milenial Batu untuk Produksi Susu Berkualitas

Artikel Peternakan Berita

Kambing PE merupakan kambing dwi guna bisa sebagai kambing perah untuk kambing betina dan sebagai pedaging terutama pejantan.

Secara umum kambing ini memiliki postur tubuh besar telinga panjang menggantung, muka cembung, dan bulu di bagian paha belakang yang panjang, dengan bobot  mencapai 91 kg untuk kambing jantan, dan betina bisa mencapai 63 kg. Namun masih jarang dibudidayakan oleh masyarakat. 

Jika diamati di pedesaan peternak kambing ini masih dalam skala usahanya kecil, pemeliharan rata-rata 2-4 ekor. Baru sebagian kecil peternak yang memelihara kambing jenis ini dengan pola agribisnis.

Konon susu kambing PE dipercaya banyak khasiatnya untuk kesehatan karena memiliki nilai gizi yang tinggi. Sehingga banyak orang yang mengkonsumsi susu kambing PE untuk tujuan kesehatan. Kemudian harga susu kambing PE jauh lebih mahal dari harga susu sapi, bisa mencapai 4-8 kali lipat. Sebuah peluang pasar yang masih terbuka lebar. 

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, untuk terus giatkan pemenuhan kebutuhan produksi ternak, agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kementan pun melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) 
yang dikomandani oleh Prof. Dedi Nursyamsi, menegaskan meski pandemi, namun ketersediaan pangan di seluruh Tanah Air tetap terjaga. Baik ketersediaan barang pangan termasuk protein hewani. “Dengan sehat kita bisa menjalankan tugas sebaik-baiknya,” tegasnya.

Barangkali cukup mencengangkan ternyata sektor pertanian sudah banyak peminatnya, pada  saat bincang dengan pemilik Madukara farm yang berlokasi Dusun Bandaran desa Buni Aji Kecamatan Buni Aji Batu Malang, pemiliknya Atik beliau adalah pensiunan dari Kementerian Perindustrian.

Pada tahun 2011 Atik mengawali usaha Peternakan Kambing PE dengan memelihara hanya 4 ekor, kemudian dengan ketelatenannya mengurus kambing PE nya sekarang sdh berkembang diatas 100 ekor. Dan mampu memproduksi susu sekitar 30 liter/hari, dengan tenaga kerja 2 orang.

Memang diakui bahwa tidak semua kambing PE nya diperas, tetapi ada juga yang dijual dengan harga kisaran 4 sd 6 juta/ekor dan bisa lebih jika sudah berusia diatas 1 tahun, biasanya permintaan kambing akan lebih meningkat saat menjelang idul Adha.

Lebih lanjut Atik menyampaikan pada dasarnya dalam tata cara budidaya kambing PE bibit menjadi faktor penentu. 

Kambing PE yang bagus untuk dijadikan induk pejantan adalah yang mempunyai postur punggung yang lurus, besar, kaki kokoh,bersih dari penyakit maupun cacat fisik, serta sudah berumur lebih dari 1,5 tahun. Sedangkan kambing indukan betina yang bagus memiliki ciri berkaki lurus, bentuk tubuh proporsioal, bersikap jinak, mempunyai jumlah puting ada dua dan jika diraba terasa kenyal, serta tentu saja bebas dari penyakit.

Lainnya adalah dalam pemberian pakan berupa hijauan sebagai bahan makanan pokok contohnya daun nangka, mahoni, rumpur odot, dan pakan tambahan  berupa bekatul, bungkil kelapa dan kacang kacangan yang diberikan sebanyak 2 kali yaitu pada pagi hari dan sore.

Atik mengingatkan supaya tidak lupa untuk memberi minum kira kira sebanyak 1,5–2,5 liter tiap ternak per hari, dengan campuran garam beryodium.

Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Dr. Wasis Sarjono, S.Pt, M.Si,
Kunci sukses dalam beternak kambing PE adalah disamping kesenangan terhadap ternak kambing itu sendiri, juga kedisiplinan dalam penerapan teknologi, mengetahui informasi pasar untuk memasarkan produk merupakan hal yang wajib dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *