Potensi Lebah Madu Sebagai Peluang Pengembangan Usaha Bagi Petani-Peternak di Kabupaten Jayawijaya

Potensi Lebah Madu Sebagai Peluang Pengembangan Usaha Bagi Petani-Peternak di Kabupaten Jayawijaya

Oleh : Ir. Elisabeth Dudung, MM
Widyaiswaara BLP Papua

Kabupaten Jayawijaya berdasarkan berbagai sumber yang diperoleh bahwa Kabupaten tersebut memiliki potensi hutan, dimana terdapat banyak margasatwa yang aneh dan menarik yang hidup di tengah-tengah pepohonan tropis yang luas dan beraneka ragam. Potensi hutan yang ada, ditumbuhi beraneka ragam jenis kayu yang sangat penting bagi perdagangan seperti Intsia bijuga, Pometis, Callophylyum, Drokontomika, Pterocorpus dan lainnya. Adapun luas wilayah Kabupaten Jayawijaya, berdasarkan Rencana Tata Ruang Tata Papua adalah 18.401,29 Km². Dari luas wilayahnya ini terdapat 56.57 persen memiliki topografi dengan kemiringan ˃ 40 persen. Oleh sebab itu sebagian besar wilayah Kabupaten Jayawijaya terdapat 61,97 persen merupakan kawasan hutan lindung dan konservasi. Jumlah penduduk Kabupaten Jayawijaya 228.182 jiwa pada tahun 2008, dimana potensi sumberdaya alam dikelola menjadi lahan-lahan pertanian yang subur. Masyarakat terkenal dengan keterampilan yang dimiliki dalam hal bertani, walaupun teknologi yang digunakan dalam berusaha tani masih tradisional dan konvensional namun daerah ini terkenal dengan hasil ubi-ubiannya antara lain ubi jalar yang menjadi makanan pokok penduduknya. Tidak heran apabila Provinsi Papua sebagai daerah dengan produksi tertinggi penghasil ubi jalar setelah Provinsi Jawa Barat karena konstribusi tertinggi yang diberikan dari Kabupaten Jayawijaya.

Berdasarkan peta paduserasi Provinsi Papua, potensi hutan yang terdapat di Kabupaten Jayawijaya berupa hutan lindung dan konservasi seluas 1.140.288 hektar, dan hutan produksi tetap dan konservasi seluas 248.491 hektar. Luasan hutan yang terdapat merupakan potensi sumberdaya alam yang dapat di jadikan sebagai sumber pakan bagi lebah madu.

Kabupaten Jayawijaya merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Papua merupakan kawasan Timur yang mempunyai peluang besar untuk usaha budidaya lebah madu, di karenakan Kabupten Jayawijaya mempunyai potensi sumberdaya hutan dan pertanian khususnya perkebunan, komoditas perkebunan yang dikembangkan di Kabupaten ini adalah kopi arabika. Pada tahun 2007 di laporkan bahwa produksi kopi di Kabupaten Jayawijaya mencapai 1.497 ton dari luas areal perkebunan 4.435 hektar yang dikelola oleh 6.633 petani, data ini menggambarkan bahwa penduduk Kabupaten Jayawijaya terkenal dengan etos petani pekerja keras. Dari laus areal perkebunan yang ada merupakan habitat ideal untuk lebah madu.

Lebah madu Apis cerana dan Apis mellifera merupakan jenis lebah yang pertama kali diintroduksi oleh Dinas Peternakan Kabupaten Jayawijaya dan diikuti Lemabaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 1988. Dari tahun ke tahun usaha ini sangat ditekuni oleh petani peternak karena saat itu produksi lebah madu tinggi, namun akhir-akhir ini hanya merupakan usaha sampingan karena produksi lebah madu menurun disebabkan peternak kesulitan mencegah migrasi lebah madu sehingga sebagian besar lebah madu hidup secara liar (Kahono, et al, 1993).

Melihat kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan saja, informasi dari pihak masyarakat mereka sangat membutuhkan adanya perhatian dari pihak pemerintah dalam hal ini Pemerintah setempat untuk membantu masyarakat memecahkan masalah tersebut, karena kalau dilihat dari potensi yang ada maka usaha beternak lebah madu sangat menjanjikan perbaikan ekonomi keluarga tani, namun sayangnya peluang yang ada ini kurang dikelola dengan baik, para peternak hanya berusaha mempertahankan usaha beternak lebah madu sesuai dengan kemampuannya (Anonium, 2010b). Luas potensi lahan yang terdapat di Jayawijaya sebesar 339.214 hektar (Dinas TPH Papua, 2007). Selanjutnya dilaporkan dari luas potensi lahan tersebut yang baru tergarap sebesar 5.90% (20.016 ha). Lahan-lahan tidur yang belum tergarap diperkirakan mencapai 94,10% (319.198 ha).

Dari kondisi lahan yang ada di Kabupaten Jayawijaya menyangkut lahan tidur (belum dikelola) merupakan permasalahn utama, karena lahan-lahan tersebut sangat potensi apabila dikelola dengan baik maka lahan tersebut menjadi lahan produktif yang dapat memberikan sumbangan peluang usaha bagi peternak yang akhirnya memberikan manfaat bagi pemerintah setempat.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi dan gambaran secara deskriptif tentang potensi pengembangan lebah madu yang dapat memberikan manfaat ganda bagi petani-peternak lebah madu yang saat ini belum mendapat perhatian dari pemerintah, agar pemanfaatan lahan-lahan tidur yang cukup luas dapat dikembangkan usaha lebah madu yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat petani-peternak lebah madu dan dapat menurunkan angka kemiskinan penduduk di Kabupaten Jayawijya yang tercatat sebanyak 50,31 persen suatu angka kemiskinan yang cukup tinggi.

 

KONDISI DAN POTENSI

Kondisi Geografi, Demografi dan Transportasi

Kabupaten Jayawijaya sebelum pemekaran wilayah Kabupaten baru kondisi geografi terletak pada garis meridian antara 137°12’ sampai 141° BT dan 3° 2’ sampai 5°12’ LS. Namun setelah pemekaran tujuh kkabupaten baru yang berlangsung tahun 2002 dan tahun 2008, titik koordinat wilayah Kabupaten Jayawijaya belum ditetapkan kembali.

Luas Wilayah Jayawijaya mencapai 18.401.29 Km². Secara geografis batas wilayah Jayawijaya, Sebelah Utara dengan Kabupaten Tolikara, Kabupaten Sarmi, dan Jayapura. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Asmat, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Yahukimo dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Puncak Jaya.

Topografi dan iklim di Jayawijaya berada di hamparan lembah Baliem, sebuah lembah aluvial yang berbentang pada areal ketinggian 1500-2000 meter di atar permukaan laut. Temperatur udara bervariasi antara 14,5° C – 24,5° C. Dalam setahun rata-rata curah hujan adalah 1900 mm, dan dalam sebulan terdapat kurang lebih 16 hari hujan. Musim kemarau dan musim penghujan terbesar, sedangkan curah hujan terendah ditemukan pada bulan Juli.

Kabupaten Jayawijaya dengan sebutan Lembah Baliem dikelilingi oleh pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena puncak-puncak salju abadi antara lain: Puncak Trikora (4.750 m), Puncak Mandala (4.700 m), dan Puncak Yamin (4.595 m). Pegunungan ini sangat menarik bagi wisatawan dan Peneliti Ilmu Pengetahuan Alam karena puncaknya yang selalu ditutupi salju walaupun berada di Kawasan Tropis. Lereng pegunungan yang terjal dan lembah sungai yang sempit dan curam menjadi ciri khas pegunungan ini. Cekungan lembah sungai yang cukup luas terdapat hanya di lembah Baliem Barat dan Lembah Baliem Timur (Wamena). Vegetasi alam hutan tropis basah di dataran rendah memberi peluang pada hutan iklim sedang berkembang cepat di lembah ini. Ekosistem hutan pegunungan berkembang di daerah ketinggian antara 2000 – 2500 m di atas permukaan laut. Kondisi hutan alam yang sangat beragam yang terdapat tanaman-tanaman kehutanan, perkebunan bahkan bunga-bunga alam ini memberikan peluang yang sangat besar bagi ketersediaan pakan lenah madu.

Kondisi demografi, pada tahun 1954 Penduduk Kabupaten Jayawijaya merupakan masyarakat yang homogen dan hidup berkelompok menurut masyarakat adat, sosial dan konfederasi suku masing-masing. Kondisi sekarang masyarakat Jayawijaya sudah heterogen yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang sosial budaya beragam, hidup berbaur saling menghormati. Penduduk Jayawijaya tahun 2008 berjumlah 228.187 jiwa.

Kondisi transportasi di Kabupaten Jayawijaya hingga saat ini masih mengandalkan perhubungan udara yang menghubungkan Wamena – Jayapura maupun Wamena kabupaten lain di Papua seperti Wamena – Biak, Wamena – Merauke. Seluruh bahan keperluan masyarakat di Jayawijaya untuk kehidupan pokok sehari-hari maupun bahan bangunan di angkut dengan menggunakan pesawat. Sejumlah perusahaan penerbangan yang selalu melayani penumpang maupun barang dari Jayapura ke Wamena yaitu: PT. Trigana Air Service, Manunggal Air Service, dan Aviastar. Sementara transportasi yang menghubungkan Wamena dengan 11 (sebelah) distrik di Kabupaten Jayawijaya, hanya dapat di jangkau dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Sedang kan untuk tiga kabupaten yaitu Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lani Jaya dan Kabupaten Yalimo dapat di jangkau dengan roda empat dari Wamena sedangkan kabupaten pemekaran lainnya hanya dengan pesawat atau berjalan kaki karena sulitnya medan.

Potensi Lahan

Berdasarkan paduserasi Provinsi Papua, luas potensi hutan di Kabupaten Jayawijaya mencapai 1.388.779 hektar, meliputi hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi yang dapat dikonversi. Disamping itu juga terdapat 4.435 hektar perkebunan kopi rakyat yang telah dikembangkan penduduk asli di Kabupaten Jayawijaya sebagai salah satu komoditi perkebunan unggulan daerah disamping tanaman pangan ubi jalar. Sedangkan luas lahan pertanian yang telah tergarap hanya 5.90% atau 20.016 hektar. Sehingga masih terdapat lahan-lahan tidur yang belum tergarap dan diperkirakan mencapai 94,10% atau 319.198 ha. Kabupaten Jayawijaya di kelompokkan ke dalam 25 satuan zona agro ekologi ini berarti daerah-daerah lahan kering yang potensial untuk dikembangkan tanaman pangan/hortikultura, perkebunan dan kehutanan tentunya sangat cocok untuk dikembangkan ternak lebah madu yang tanaman-tanaman tersebut berfungsi sebagai sumber penyedia pakan untuk lebah madu.

 

PELUANG PENGEMBANGAN LEBAH MADU

Luas Lahan Tidak Produktif di Jayawijaya

Kabupaten Jayawijaya sebagainsalah satu daerah terletak di daerah pegunungan tengah di Papua. Sebagaian besar topografi daerahnya memiliki kemiringan ˃ 40 persen atau 58,26% dari total luas wilayah Jayawijaya (BPTP Papua, 2008). Penggunaan lahan di Kabupaten Jayawijaya, sebagian besar masih didominasi dengan kegiatan budidaya pertanian oleh penduduk aslinya. Sistem budidaya yang biasa digunakan masyarakat lokal di Wamena yaitu dengan cara bertani berpindah-pindah. Dengan keterbatasan tenaga kerja keluarga sehingga luas lahan yang tergarappun hanya dilakukan terbatas. Penggunaan lahan untuk pertanian pangan di daerah ini didominasi penggunaan lahan untuk tegalan seluas 628.151 hektar diikuti oleh penggunaan untuk perkebunan campuran 263.969 hektar (Dinas TPH kabupaten Jayawijaya, 2008).

Total luas lahan tidak produktif di Kabupaten Jayawijaya mencapai 321.682 hektar terdiri dari lahan tidur yang belum tergarap 319.198 hektar, 2.484 hektar lahan berupa alang-alang dan semak. Sedangkan luas hutan terdapat 1.140.288 hektar (Dishut, 2008).

Kapasitas Tampung Lebah Madu Pada Lahan Non Produktif

Jumlah lahan tidak produktif di Kabupaten Jayawijaya cukup luas. Total luas lahan tidak produktif mencapai 323.966 hektar masing-masing lahan pertanian tidak produktif 321.682 hektar dan alang-alang atau semak seluas 2.284 hektar. Dari luas lahan yang tidak produktif sangat memungkinkan untuk dilakukan konservasi dengan tanaman kehutanan seperti sengon, dimana diketahui bahwa tanaman sengon merupakan tanaman daerah tropis, dan merupakan spesies pionir, yang dapat tumbuh mulai dari pantai sampai 1600 m di atas permukaan laut. Tanaman sengon juga dapat beradaptasi dengan iklim muson dan lembab dengan curah hujan 200-2700 mm/th dengan bulan kering sampai 4 bulan, selain itu tanaman sengon kelebihannya dapat ditanam terutama pada tempat yang tidak subur maupun tanpa dipupuk, sengon merupakan salah satu spesies paling cepat tumbuh di dunia, mampu tumbuh 8 m/tahun dalam tahun pertama pertanaman. Dengan demikian apabila lahan-lahan tidak produktif di tanami dengan sengon, maka minimal dapat menampung jumlah koloni madu sebanyak 4.825.230 koloni lebah madu atau minimal dapat dihasilkan jumlah stup lebah sebanyak 323.966 stup lebah setiap tahun.

Dengan dilaksanakannya konservasi terhadap lahan produktif diperkirakan akan dapat menampung minimal jumlah koloni lebah madu 34.260 koloni atau minimal menampung jumlah stup lebah madu setiap tahunnya yang mencapai 323.966 stup lebah. Dari Hasil tersebut secara tidak langsung memberikan lapangan usaha sampingan yang menjanjikan bagi peternak yang diperkirakan dapat menampung 24.297 orang peternak, juga akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesehatan bagi peternak lebah madu. Diperkirakan jumlah minimal produksi madu yang dihasilkan setiap tahunnya dari 323.966 stup lebah sebanyak 3.239.660 kh madu (1 stup = 10 kg). Harga madu yang dihasilkan peternak saat ini rata-rata Rp 100.000 per botol (1 botol = 660 ml), bila harga ditingkat peternak lebah madu dalam pengembangan usaha ini Rp 50.000 per kg, maka jumlah pendapatan yang akan diperoleh Rp 161.983.000.000 atau rata-rata distribusi pendapatan yang diperoleh bagi peternak lebah madu sebanyak Rp. 6.666.667 setiap tahunnya, jumlah ini belum termasuk dari penjualan produk seperti jelly, propolis dan lain-lain. Analisa produksi dan pendapatan pada peluang pengembangan lebah madu di Kabupaten Jayawijaya.

Tabel 1. Analisa Produksi dan Pendapatan Pada Pengembangan Peternakan Lebhan Madu   di  Kabupten Jayawijaya






Peningkatan pengetahuan dan keterampilan peternakan dapat di tempuh melalui pendidikan non formal yaitu pelatihan budidaya lebah madu, juga dengan magang selama satu siklus usaha agar peternak betul-betul mengalami, karena ketika peternak langsung mengalami maka peternak akan lebih meningkat pengetahuan dan keterampilannya, dengan demikian peternak akan mampu mengembangkan usaha lebah madunya. Selain itu juga diharapkan adanya kebijakan pemerintah setempat agar adanya perlindungan terutama areal-areal sumber pakan lebah madu agar dapat terjaga kesinambungan usaha, dan juga perlindungan terhadap produk-produk yang dihasilkan.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kabupaten Jayawijaya memiliki luas lahan tidak produktif atau lahan tidur 323.966 hektar yang terdiri dari lahan pertanian non produktif seluas 321.682 hektar dan lahan tidur berupa alang-alang seluas 2.284 hektar

  2. Tanaman sengon dapat digunakan untuk konservasi terdapat lahan-lahan non produktif

  3. Dari luasan 323.966 hektar dapat digunakan sebagai sumber pakan lebah madu terdapat jumlah koloni madu yang dapat ditampung minimal sebanyak 4.825.230 koloni lebah madu atau minimal dihasilkan jumlah stup lebah sebanyak 323.966 stup tiap tahun

  4. Jumlah minimal produksi madu yang dihasilkan setiap tahun dari 323.966 stup lebah sebanyak 3.239.660 kg madu (1 stup = 10 kg)

  5. Dalam rencana pengembangan usaha lebah madu jumlah pendapatan yang akan diperoleh sebesar Rp. 161.983.000.000 atau rata-rata distribusi pendapatan yang diperoleh bagi peternak lebah madu sebanyak Rp. 6.666.667 atau dibulatkan Rp 6.700.000,- per tahun

  6. Untuk pengembangan usaha lebah madu diperlukan kebijakan pemerintah meliputi pengembangan sumberdaya manusia melalui kegiatan pelatihan dan magang.

 


DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2010a. Lebah Madu. http://www.binaapiari.com/lebah-madu/. Diakses 3 Desember 2010
Arief, 2001, Hutan lebah madu

http://repository.usu.ac.id/bitsteam/123456789/20737/4/Chapter%201.pdf
. Diakses
9 Desember 2010.
Badan Pusat Statistik Papua, 2008. Papua Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Dinas Kehutanan Jayawijaya, 2008. Laporan Tahunan. Dinas Kehutanan Kabupaten Jayawijaya
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Papua, 2008. Laporan Tahunan. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Provinsi Papua
Junus, H.M.2006. Peranan umur lebah madu, jumlah sisiran sarang eram dan pemakaian Penyekat ratu pada saat musim bunga dalam peningkatan produktivitas koloni lebah Apis mellifera. (Disertasi). Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Depertemen Pertanian, 1987. Memelihara lebah madu. Balai Informasi Pertanian Ujung Pandang.
Kahono, S., J. Rosanti., R. Ubaidillah. 1993. Studi pendahuluan lebah madu Apis cerana F. Di beberapa daerah di Kecamatan Wamena dan sekitarnya, Jayawijaya, Irian Jaya. Pros Seminar Hasil Litbang SDH 14 Juni 1993


 

 

 

 

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550