Pestisida Nabati Ramah Lingkungan

Pestisida Nabati Ramah Lingkungan

 

P E S T I S I D A   N A B A T I   R A M A H   L I N G K U N G A N

Oleh Dwita Indrarosa

Balai Besar Pelatihan Peternakan

 

Penggunaan pestisida berlebih menyebabkan residu zat kimia yang terkandung di dalam bahan kimia tersebut. Selain berpengaruh terhadap hama, bermanfaat dan aman bagi tanaman, ternak serta manusia dan sekaligus melaksanakan program pertanian ramah lingkungan. Beberapa kasus seperti antara tahun 1950-1960 banyak ditemukan serangga yang mengalami resistensi terhadap DDT, misalnya lalat rumah di Swedia. Selain itu kasus resistensi dan terbunuhnya makhluk hidup non hama/pengganggu, tahun 1962 Rachel Carson menerbitkan buku “The Silent Spring”. Buku itu mengisahkan hilangnya suara burung-burung yang biasanya berkicau di musim semi. Burung-burung itu tewas akibat penggunaan DDT yang ditujukan untuk membasmi nyamuk. Beberapa tahun terakhir, hama-hama penting seperti walang sangit dan wereng mengalami ketahanan setelah diaplikasikan pestisida secara terus menerus.

Penggunaan Pestisida Nabati

Pestisida nabati merupakan salah satu jenis pestisida potensial untuk digunakan dalam mengendalikan hama yang bahan dasarnya berasal dari tumbuh-tumbuhan dengan mekanisme kerja yang unik terhadap hama sasaran. Kata “unik” ini merujuk pada sebuah efek yang tidak berarti harus membunuh hama sasaran. Unik bisa berarti mengusir,memperangkap,menghambat perkembangan serangga/hama, mengganggu proses cerna, mengurangi nafsu makan, bersifat sebagai penolak, bahkan memandulkan hama sasaran. Peluang pengembangan pestisida nabati di Indonesia dinilai sangat strategis mengingat tanaman sumber bahan insektisida banyak tersedia dengan berbagai kandungan kimia yang bersifat racun. Lebih dari seribu tanaman berpotensi sebagai pengendali hama tanaman. Tanaman biofarmaka dan atsiri merupakan tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Umumnya termasuk ke dalam family Meliaceae, Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae dan rutaceae (Praskah and Rao 1997; Prijono et al,2006).

Minyak atsiri sudah banyak dimanfaatkan untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Diantaranya yang potensial adalah minyak cengkeh, minyak kayu manis, dan minyak serai wangi. Minyak atsiri dapat digunakan sebagai penolak serangga tetapi juga dapat bertindak sebagai pestisida kontak dan juga bersifat fumigant pada serangga tertentu. Tanaman cengkeh dengan kandungan kimianya didominasi oleh eugenol diketahui dapat dimanfaatkan sebagai anti hama.

Ramuan pestisida nabati bisa ditelusuri dari sifat-sifat bahan baku yang akan dibuat dan karakteristik hama sasaran. Sifat-sifat bahan baku misalnya aroma dan racun (sifat, kadar) dari suatu bahan. Penggunaan ekstrak biji dan daun mimba serta ekstrak biji srikaya berfungsi terhadap mortalitas dan perkembangan Helopeltis sp dengan menghambat aktivitas makan dan menurunkan keperidian. Adapun beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah :

Tabel 1. Macam Tumbuhan Sebagai Pestisida Nabati

No

Daun

Kandungan

Cara Kerja Racun

OPT Sasaran

1.

Sirsak

Alkaloida

Pengusir

Ulat wereng

2.

Kunyit, Gadung, Serai

Dioskorin

Pengusir, mengganggu sistem saraf

Kutu, wereng, tikus

3.

Mindi

Margosin, glikosida

Menghambat pertumbuhan

Ulat, kutu, belalang wereng

4.

Srikaya

Anonain

Racun perut

Kumbang, kutu, nyamuk, wereng

5.

Selasih

Minyak asiri

Kandungan metal menarik pejantan

Lalat buah

6.

Batrawalik

Alkaloid

Pengusir, Racun syaraf

Walang sengit, Ulat Daun, Wereng

7.

Surian

Surenon

Gangguan system reproduksi

Tungau, Walang Sangit, Kutu Daun

8.

Picung/Kluwak

Alkaloid, Asam Biru

Racun Syaraf

Wereng coklat, belalang, kutu daun, ulat grayak

9.

Sembung

Borneol, Sineol, limone, asam palmitin dan myrristin, alkohol sesquiterpen,

Racun Syaraf

Keong Mas,

10.

Pacar Cina

Minyak asiri, alkaloid

Menghambat pertumbuhan, dan proses makan hama

Ulat Daun

11.

Kenikir (Cosmos Caudatus)

Alkaloid, senyawa thertienil, senyawa poliasetilen

Antifidan,Merusak perkembangan telur,larva serangga, menghambat reproduksi serangga, mengacaukan system hormone, racun syaraf.

Ulat Daun

           

 

Karakteristik hama sasaran merujuk pada cara kerja hama dalam merusak dan fisiologi hama. Misalnya kutu-kutuan yang hidup dan menyerang tanaman dengan cara menempel di batang atau daun, dapat diatasi menggunakan campuran sedikit minyak goreng agar kutu tidak dapat menempel. Untuk semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari tanaman yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, brotowali, akar tuba, gadung dan lainnya.

Rasa pedih cabai akan mendera karena atom hidrogen dalam jaringan tubuh dirampok oleh senyawa pada cabai yang bernama kapsaisin. Begitu pula bila air cabai digunakan untuk menyemprot hama, ia akan kepedasan dan cairan dalam tubuhnya terkuras hingga kering.

Keunggulan pestisida nabati adalah mudah didapatkan dan dibuat, murah, relative aman terhadap lingkungan, tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama, kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain serta menghasilkan produk pertanian yang sehat dan bebas residu pestisida kimia. Namun kelemahannya adalah cara kerja relatife lambat, tidak membunuh serangga secara langsung, tidak tahan terhadap sinar matahari, kurang praktis, tidak tahan disimpan dan harus disemprot berulang-ulang.

Penggunaan Pestisida Nabati sebagai Pengendali Belalang dan Ulat

1.Bahan yang diperlukan seperti Daun Sirsak dan daun tembakau, sediakan 50 lembar daun sirsak dan 5 lembar daun tembakau kemudian tumbuk sampai halus. Tambahkan 20 liter air dan 20 grm detergen. Diamkan selama semalam.

2.Daun pepaya mengandung papain yang efektif mengendalikan ulat dan hama penghisap cairan pada tumbuhan. Sediakan 1 kg daun pepaya segar dan haluskan, tambahkan 10 liter air, 2 sendok makan minyak tanah, 30 gr detergen, diamkan semalam. Saring larutan hasil perendaman dengan kain halus, semprotkan ke tanaman.

Aplikasikan dengan perbandingan 1 liter air : 100 ml pesnab

Penggunaan Pestisida Nabati ini dapat dicampukan atau diolah bersamaan dengan penggunaan urine yang telah difermentasi selama 14 hari dan langsung dapat diaplikasikan ke tanaman.

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550