PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI DENGAN SISTEM PERKAWINAN INSEMINASI BUATAN (IB)

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI DENGAN SISTEM PERKAWINAN INSEMINASI BUATAN (IB)

Oleh : Sabir Tato (Widyaiswara BBPP Batu)

Peternak sapi di Indonesia sebagian besar masih dalam usahatani ternak sapi secara tradisional bahkan dianggap sebagai tabungan serta usaha sampingan. Disisi lain produktivitas ternak sapi potong maupun sapi perah beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan  menurun. Sementara di lain pihak pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan rata-rata 1,5 persen per tahun dan pertumbuhan ekonomi meningkat dari 2 sampai 6 persen, maka diperkirakan permintaan daging dan susu akan terus meningkat.
Keadaan seperti ini bila tidak dilakukan upaya untuk meningkatkan populasi dan produksi, maka tidak akan dapat memenuhi permintaan kebutuhan daging dan susu sapi dalam negeri. Oleh karena itu diperlukan upaya memotivasi peternak dalam pemeliharaan ternak yang lebih maju dan menguntungkan melalui pembinaan yang dapat meyakinkan. Pemeliharaan ternak bukan bukan lagi hanya dianggap sebagai tabungan atau pekerjaan sampingan, melainkan sudah dikelola dengan baik menuju kearah yang lebih maju dangan harapan peternak dapat mengerti dan menyadari arti pentingnya produktivitas ternak.
Untuk menyikapi hal tersebut, salah satu upaya untuk meningkatkan  populasi dan produktivitas ternak sapi dapat dilakukan melalui kawin suntik yang dalam bahasa ilmiahnya adalah Artificial Insemination atau Inseminasi Buatan (IB). Hal tersebut adalah sebagai salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak, sehingga dapat menghasilkan keturunan/ pedet dari bibit pejantan unggul yang sekaligus dapat program swasembada daging 2010 yang dicanangkan oleh Presiden  Republik Indonesia pada tanggal 6 April 2007 di Dompu Propinsi Nusa Tenggara Barat sebagai tindak lanjut Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.

Inseminasi Buatan

Inseminasi Buatan (IB) atau dalam istilah ilmiahnya  disebut Artificial Insemination (AI) merupakan  sistem perkawinan pada ternak sapi secara buatan yakni suatu cara atau teknik memasukkan sperma atau semen kedalam kelamin sapi betina sehat dengan menggunakan alat inseminasi yang dilakukan oleh manusia (Inseminator) dengan tujuan agar sapi tersebut menjadi bunting. Semen adalah mani yang beradal dari sapi pejantan unggul yang dipergunakan untuk kawin suntik atau inseminasi buatan.

Inseminator
Inseminator merupkan petugas yang  telah dididik dan lulus dalam latihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik serta memiliki Surat Izin Melakukan Inseminasi (SIMI). Selain inseminator dari  pemerintah ada juga inseminator mandiri yang berasal dari khalayak peternak atau masyarakat yang telah memperoleh pelatihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik.

Tujuan Inseminasi Buatan
Tujuan perkawinan sapi dengan sistem inseminasi buatan adalah:
Meningkatkan mutu ternak lokal;
Mempercepat peningkatan populasi ternak;
Menghemat penggunaan pejantan:
Mencegah adanya penularan penyakit kelamin akibat perkawinan alam;
Perkawinan silang antar berbagai bangsa / ras dapat dilakukan.
Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)

Sistim perkawinan sapi dengan IB adalah Salah satu strategi yang perlu dilakukan untuk mewujudkan tercapainya program swasembada daging 2010 dan kecukupan susu nasional, dapat dilakukan melalui percepatan peningkatan populasi dan produktivitas ternak sapi dengan menyediakan bakalan dalam rangka penggemukan sapi potong dan bibit sapi perah, melalui penyediaan bakalan atau keturunan dari hasil kawin suntik dengan menggunakan semen dari sapi pejantan unggul yang memenuhi syarat teknis reproduktif, maupun kesehatan , atau telah lulus dari uji ferformans dan uji zuriat oleh instansi yang berwenang.
Melalui kegiatan kawin suntik atau inseminasi buatan, penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan murah, mudah dan cepat, serta memudahkan peternak untuk mendapatkan keterunan ternak sapi yang berkualitas genetik tinggi dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas ternak sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak.
Dalam kegiatan kawin suntik pada ternak sapi ini memberikan beberapa keuntungan  antara lain; (1) menghemat biaya pemeliharaan pejantan; :biaya relatif murah untuk mendapatkan bibit sapi yang bagus /unggul dalam bentuk semen, jadi tidak perlu membeli sapi pejantan yang harganya relatif mahal; (2) dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;(3) mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina; (4) dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang baik sehingga sperma /semen dapat disimpan dalam janka waktu lama; (5) semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun  kemudian walaupun pejantan telah mati; (6) cepat menghasilkan pedet jantan yang dapat dimanfaatkan untuk bakalan sapi potong atau pedet betina sebagai bibit sapi perah; (7) menghasilkan generasi baru anak bakalan penghasil daging yang berkualitas  (sapi potong)  dan meningkatklan produksi susu pada sapi perah betina; (8) Perbaikan mutu genetik lebih cepat;; (9) Dapat memilih jenis/bangsa ternak Sapi  yang diinginkan ( Limousin, Simental, Peranakan Ongole, Brahman, Brangus, FH, Bali dan lain-lain); (10) Berat lahir lebih tinggi dari pada hasil kawin alam; (11)  Pertumbuhan berat badan lebih cepat; (12)  Meningkatkan Pendapatan Petani.

  • Berat Lahir Rata-rata Sapi hasil IB dibandingkan dengan Sapi Lokal


Kunci Keberhasilan Program IB

Kunci keberhasil program IB tergantung dari 3 unsur yaitu:
1)  Kinerja inseminator,
Kinerja  Inseminator sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan program IB dilapangan, untuk itu seorang inseminator perlu menjiwai tugas dan tanggung jawabnya  yaitu; (1) melakukan identifikasi akseptor IB (sapi betina produktif) dan mengisi kartu peserta IB; (2) membuat program / rencana birahi ternak akseptor berdasarkan siklus birahi  (kalender reproduksi) di wilayah kerjanya; (3) melaksanakan IB pada ternak; (4) membuat pencatatan (recording) dan laporan pelaksanaan IB dan menyampaikan kepada pimpinan Satuan Pelayanan IB melalui pemeriksaan kebuntingan  (PKB) setiap bulan; (5) melaksanakan pembinaan kelompok tani ternak atau Kelompok Peternak Peserta Inseminasi Buatan  (KPPIB) dan kader inseminator; (6) membentuk kegiatan pengorganisasian pelayanan IB./ Unit Pelayanan Inseminasi Buatan (ULIB) (7) berkoordinasi dengan petugas Pemeriksa Kebuntingan (PKB)  dan Asisten teknis Reproduksi (ATR)
2)  Kondisi Akseptor
Agar program kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) dapat berhasil dengan baik, kondisi Akseptor (sapi betina produktif peserta IB) perlu diperhatikan. Adapun kondisi akseptor yang baik adalah:
–    Sehat, Fisik besar dan kuat,
–   Ambing besar dan elastis,
–    Puting sempurna (4 bh) dan letaknya simetris dan agak panjang.
–   Perut besar
–  Tulang pinggul lebar
–   Vulpa besar, licin. Mengkilat, cembung dan tidak berbulu,
Umur minimal 18 bulan
Untuk sapi yang berbadan kecil seperti sapi bali, IB  sebaiknya  dilakukan setelah  kelahiran anak pertama hasil perkawinan  secara alami.
Untuk sapi yang telah melahirkan, perkawinan selanjutnya dilakukan setelah 2-3 bulan kemudian.
3) Peternak
Untuk mendukung terlaksananya program IB, peran para peternak sapi  sangat dibutuhkan terutama dalam hal :
–  deteksi birahi / pengenalan terhadap tanda-tanda birahi
– sistim pelaporan yang tepat, terutama laporan birahi kepada inseminator
–  perawatan akseptor dan pedet hasil IB
4)  Kelompok Peternak Peserta IB (KPPIB)
Keberadaan KPPIB dalam pelaksanaan program IB sangat diperlukan guna mempermudah arus informasi dan teknologi, penyediaan sarana dan prasarana IB seperti Kandang penanganan (kandang jepit) dan lain sebagainya.
Saat ini kegiatan kawin suntik pada ternak sapi telah banyak dilakukan secara swadaya, sehingga untuk mendapatkan pelayanan kawin suntik pada ternak sapi, peternak dapat membiayai sendiri. Sedangakn untuk mendapatkan informasi pelayanan kawin suntik pada ternak sapi dapat menghubungi inseminator yang berada di wilyah setempat, dan apabila tidak ada inseminator dapat meminta informasi baik kepada dokter hewan/mantri hewan/ penyuluh pertanian setempat maupun ke dinas peternakan kabupaten /kota atau dinas yang membidangi peternakan.
Pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi sebaiknya dilakukan secara terorganisir dalam kelompok untuk memudahkan pelaksanaan secara efisien dan efektif. Untuk menyikapi hal ini , sebelum pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi harus mensinkronkan birahi sapi-sapi yang akan dikawin suntik dapat dilakukan lebih dahulu dengan penyuntikan hormon prostaglandin, Reprodin atau semacamnya  pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sapi secara serempak sehingga dapat dilakukan kawin suntik pada ternak sapi di kelompok tani ternak secara bersamaan.
Untuk memudahkan petani peternak mengetahui ternak sapinya birahi dan segera dapat melaporkan ke inseminator atau penyuluh untuk mendapat pelayanan kawin suntik secara tepat , ada beberapa tanda-tanda birahi yang perlu diketahui oleh peternak antara laiin: (1) sering menguak; (2) gugup dan agresif; (3) menaiki sapi lain; (4) kurang nafsu makan dan kurang menghasilkan susu; (5) lebih awal bangun dari sapi-sapi lainnya; (6) alat kelamin betina basah, bengkak, merah, hangat (Abuh, Abang, Angat yang disingkat 3 A)  dan mengeluarkan lendir yang transparan.
Dalam mewujudkan keberlanjutan kegiatan kawin suntik pada ternak sapi yang lebih menguntungkan dan penanganan khusus peranakan sapi unggul, selain diperlukan peran aktif inseminator dan petugas Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi Peternakan dalam pembinaan kelompok tani ternak diperlukan juga peran aktif para penyuluh pertanian sebagai mitra petani.
Peran Penyuluh Pertanian dalam mensukseskan program kawin suntik atau inseminasi buatan, antara lain: (1) memotivasi peternak agar terorganisir dalam kelompok, untuk medahkan baik penyuntikan hormon prostaglandin/ Reprodin  pada ternak sapi yang dapat mendorong dan mensinkronkan birahi sehingga  dapat dilakukan pelaksanaan kawin suntik pada ternak sapi secara bersamaan; (2) memberikan informasi cara-cara beternak sapi potong dan sapi perah yang baik termasuk pemberian pakan yang bermutu sesuai  kebutuhan ; (3) memberikan informasi cara penenganan kesehatan anak dan induk sapi untuk mengoptimalkan pertumbuhan/ pertambahan berat badan pada ternak sapi potong dan produksi susu pada ternak sapi perah betina.

Waktu Inseminasi Buatan (IB)  yang tepat
Pada umumnya, lama birahi pada sapi adalah rata-rata 18 jam dan untuk mendapatkan hasil yang baik,  sebaiknya dilakukan IB pada pertengahan masa birahi.

WAKTU YANG TERBAIK MENGAWINKAN SAPI / IB

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550   M70-101   LX0-104   EX300   70-411   640-911   CAS-002   350-001   JN0-102   9A0-385   70-462   70-178   CISM   3002   220-902   SSCP   c2010-657   300-206   70-246   AWS-SYSOPS   70-534   640-916   ADM-201   LX0-103   74-678   210-065   300-115   642-732   1Z0-060   352-001   1Z0-061   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093