Pemberdayaan Pelaku Agribisnis

Pemberdayaan Pelaku Agribisnis

 Oleh : Pararto Wicaksono – Widyaiswara BBPP – Batu


BAB I

PENDAHULUAN

 1.  Latar Belakang

Pendekatan pembangunan pertanian melalui pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan dan terdesentralisasi, menuntut adanya peran pemerintah dalam pembangunan pertanian dari pelaku menjadi faslitator, akselerator, dan regulator pembangunan. Perubahan manajemen pembangunan ini diikuti dengan perubahan sikap dan perilaku aparat pemerintah dalam menggerakkan partisipasi aktif masyarakat, meningkatkan investasi swasta serta memberdayakan pelaku usaha masyarakat.  

Pemberdayaan pelaku agribisnis telah dirintis melalaui berbagai model pemberdayaan masyarakat antara lain melalui proyek P4K, Pidra dan pelaksanaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Selain itu sejak tahun 2005, Departemen Pertanian (sekarang Kementerian Pertanian) juga melakukan usaha-usaha peningkatan kemandirian masyarakat melalui Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). Sebagian besar LM3 tersebut berbasis keagamaan seperti : Pondok Pesantren, Seminari, Paroki, Pasraman, Vihara, Subak dan lainnya.

Pemberdayaan LM3 berbasis agribisnis ini diharapkan dapat mempercepat dan mendorong tumbuhnya LM3 sebagai embrio pembentuk inti kawasan agribisnis, meningkatkan partisipasi masyarakat sekitar lokasi untuk mengembangkan agribisnis serta mendorong terbentuknya jaringan kelembagaan LM3 di bidang agribisnis.

Di satu sisi, Pendekatan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan mengandung arti bahwa manusia ditempatkan pada posisi pelaku dan penerima manfaat dari proses mencari solusi dan meraih hasil pembangunan dengan demikian maka masyarakat harus mampu meningkatkan kualitas kemandirian mengatasi masalah yang dihadapi upaya-upaya pemberdayaan masyarakat seharusnya mampu berperan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) terutama dalam membentuk dan merubah perilaku masyarakat untuk mencapai taraf hidup yang lebih berkualitas.

Pembentukan dan perubahan perilaku tersebut, baik dalam dimensi sektoral yakni dalam seluruh aspek/sektor-sektor kehidupan manusia; dimensi kemasyarakatan yang meliputi jangkauan kesejahteraan dari materiil hingga non materiil; dimensi waktu dan kualitas yakni jangka pendek hingga jangka panjang dan peningkatan kemampuan dan kualitas untuk pelayanannya, serta dimensi sasaran yakni dapat menjangkau dari seluruh strata masyarakat. Pemberdayaan masyarakat tidak lain adalah memberikan motivasi dan dorongan kepada masyarakat agar mampu menggali potensi dirinya dan berani bertindak memperbaiki kualitas hidupnya, melalui cara antara lain dengan pendidikan untuk penyadaran dan pemampuan diri mereka.

2. Rumusan Masalah

Dari uraian diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1.      Bagaimana memberdayakan pelaku agribisnis ?

2.      Bagaimana pelaku agribisnis menghadapi tantangan di era globalisasi ?

3. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah sebagai berikut :

1.      Untuk mengetahui pemberdayaan pelaku agribisnis.

2.      Untuk mengatasi tantangan pelaku agribisnis di era globalisasi.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 1. Pemberdayaan Pelaku Agribisnis

Angka pengangguran dan kemiskinan sudah banyak berkurang di Indonesia, namun hal itu tidak boleh membuat kita puas, melainkan harus bekerja lebih keras lagi agar jumlah kemiskinan dan penggangguran bisa berkurang lebih banyak lagi. Dari data BPS didapatkan bahwa 55 persen masyarakat miskin dan menganggur berada di sektor pertanian dan pedesaan.

Konsep pemberdayaan masyarakat secara mendasar artinya menempatkan masyarakat beserta institusi-institusinya sebagai kekuatan dasar bagi pengembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya menghidupkan kembali berbagai pranata ekonomi masyarakat untuk dihimpun dan diperkuat sehingga dapat berperan sebagai lokomotif bagi kemajuan ekonomi merupakan keharusan untuk dilakukan ekonomi rakyat akan terbangun bila hubungan sinergis dari berbagai pranata sosial dan ekonomi yang ada didalam masyarakat dikembangkan kearah terbentuknya jaringan ekonomi rakyat.

Beberapa kelebihan pengembangan LM3 agribisnis di pedesaan antara lain : umumnya LM3 berada di desa, dekat dengan masyarakat desa dan memiliki lahan yang luas. Para pengelola umumnya adalah tokoh dan panutan masyarakat. Berdasarkan pengalaman, untuk membina pelaku usaha agribisnis di LM3, tantangan utamanya adalah pengelola LM3 (Pesantren, Paroki, Seminari, Vihara, Subak dan lainnya) umumnya hanya fokus pada pendidikan agama. Jika mereka dilatih dan diberikan kepercayaan untuk mengembangkan kegiatan agribisnis mereka akan berhasil. Kegiatan pemberdayaan LM3 yang dapat dilakukan misalnya pemberdayaan SDM agribisnis di LM3, penguatan kelembagaan agribisnis dan jaringan kerjasama. Tahapan kegiatan pemberdayaan LM3 berbasis agribisnis antara lain sosialisasi dan advokasi, penyusunan pedoman dan publikasi LM3, Pelatihan Manajemen Agribisnis, Magang Agribisnis bagi pengelola dan pendamping LM3, Pengembangan kelembagaan LM3, Pembinaan LM3 Model, Pembinaan dan supervisi, serta Monitoring Evaluasi dan Pelaporan.

Ada lima prinsip dasar yang harus diberikan kepada LM3 agar mereka berhasil mengembangkan agribisnis. Pertama bahwa agribisnis itu harus dimulai dari pasar bukan produksi. Kedua, pemilihan komoditi yang dikembangkan harus betul-betul yang menguntungkan usahanya dan dibandingkan dengan usaha yang lainnya.prinsip ketiga adalah daya saing dan kemandirian, tidak boleh ada ketergantungan pada pemerintah yang terus menerus. Keempat, mengembangkan kepercayaan jangka panjang pada mitranya dan bukan untuk keuntungan sesaat. Kelima komitmen/kontrak dengan mitra harus dijaga.

Konsep pemberdayaan masyarakat secara mendasar berarti menempatkan masyarakat beserta institusi-institusinya sebagai kekuatan dasar bagi pengembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya menghidupkan kembali berbagai pranata ekonomi masyarakat untuk dihimpun dan diperkuat sehingga dapat berperan sebagai lokomotif bagi kemajuan ekonomi merupakan keharusan untuk dilakukan ekonomi rakyat akan terbangun bila hubungan sinergis dari berbagai pranata sosial dan ekonomi yang ada didalam masyarakat dikembangkan kearah terbentuknya jaringan ekonomi rakyat.

2. Tantangan Di Era Globalisasi

Menurut Saragih (1998), makna terdalam era globalisasi dalam struktur perekonomian adalah perdagangan bebas. Dalam perdagangan bebas berarti ada persaingan. Dalam globalisasi tersebut yang akan bersaing adalah barang sekunder, yaitu produk agroindustri di Indonesia bahan baku untuk industri tersedia, tetapi yang menjadi kendala adalah penggunaan dan penguasaan teknologi modern yang memperkuat agribisnis, atau penekanan masalah yang dihadapi dalam era globalisasi adalah pada peningkatan SDM (termasuk bagi para petani).

Masih menurut Saragih (1998) pengembangan agribisnis di Indonesia merupakan tuntutan perkembangan yang logis dan harus dilanjutkan sebagai wujud kesinambungan, penganekaragaman dan pendalaman pembangunan pertanian selama ini. Pengembangan agribisnis akan tetap relevan walau telah tercapai setinggi apapun kemajuan suatu negara.

Bahkan agribisnis akan menjadi andalan utama bagi suatu negara yang masih sulit melepaskan ketergantungan pembangunan nasionalnya dari sektor pertanian dan pedesaan seperti Indonesia ini. Beberapa alasan lain untuk memperkuat pilihan pada agribisnis, adalah: (1) tersedianya bahan baku yang tersedia, (2) akan memperluas daya tampung tenaga kerja di sektor pertanian dan pedesaan, dan (3) pengembangan agrobisnis dalam skala kecil lebih mudah diarahkan untuk lebih bersahabat dengan lingkungan (daripada industri besar), sehingga dapat menekan kerusakan lingkungan.

Dengan memperhatikan arah tantangan pertanian yaitu dikembangkan ke arah agribisnis, maka perlu mendapat penekanan bahwa sasaran strategis pemberdayaan masyarakat bukanlah sekedar peningkatan pendapatan semata, melainkan juga sebagai upaya membangun basis-basis ekonomi yang bertumpu pada kebutuhan masyarakat dan sumberdaya lokal yang handal. Dalam kerangka tersebut, keberhasilan upaya pemberdayaan masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari meningkatnya pendapatan masayarakat melainkan juga aspek-aspek penting dan mendasar lainnya.

Beberapa aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pemberdayaan pelaku agribisnis, antara lain :
1.Pengembangan organisasi/kelompok masyarakat yang dikembangkan dan berfungsi dalam mendinamisir kegiatan produktif masyarakat.

2.Pengembangan jaringan strategis antar kelompok/organisasi masyarakat yang terbentuk dan berperan dalam pengembangan masyarakat tani asosiasi dari organisasi petani dan nelayan, baik dalam skala nasional, wilayah, maupun lokal.

3.Kemampuan kelompok petani dalam mengakses sumber-sumber luar yang dapat mendukung pengembangan mereka, baik dalam bidang informasi pasar, permodalan, serta teknologi dan manajemen, termasuk di dalamnya kemampuan lobi ekonomi. Di sinilah maka perlunya ekonomi jaringan dikembangkan. Ekonomi jaringan adalah suatu perekonomian yang menghimpun para pelaku ekomomi, baik dari produsen, konsumen, service provider, equipment provider, cargo, dan sebagainya di dalam jaringan yang terhubung baik secara elektronik maupun melalui berbagai forum usaha yang aktif dan dinamis. Ekonomi jaringan ini harus didukung oleh jaringan telekomunikasi, jaringan pembiayaan, jaringan usaha dan perdagangan, jaringan advokasi usaha, jaringan saling belajar, serta jaringan lainnya seperti hasil temuan riset dan teknologi/inovasi baru, jaringan pasar, infomasi kebijakan dan pendukung lainnya yang dapat diakses oleh semua dan tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu.

4.Pengembangan kemampuan-kemampuan teknis dan manajerial kelompok-kelompok masyarakat, sehingga berbagai masalah teknis dan organisasi dapat dipecahkan dengan baik. Di sini, selain masyarakat sasaran (petani), juga para petugas penyuluh/pendamping pemberdayaan masyarakat harus meningkatkan kompetensi diri sebagai petugas yang mampu memberdayakan , karena banyak diantara mereka justru ketinggalan kemampuannya dengan kelompok sasarannya.

 

BAB III

PENUTUP

 Upaya pemberdayaan pelaku agribisnis khususnya masyarakat petani merupakan jalan yang masih panjang dan masih penuh tantangan. Model pembangunan ekonomi yang sentralistik dan sangat kapitalistik telah melembaga sangat kuat baik secara ekonomi, politik maupun budaya, sehingga tidak mudah untuk menjebolnya. Hanya dengan komitmen yang kuat dan keberpihakan yang tulus, serta upaya yang sungguh-sungguh, maka pemberdayaan masyarakat petani tersebut dapat diwujudkan.

Agar pemberdayaan masyarakat petani agar mampu menjawab tantangan di era globalisasi (yaitu menuju usaha agribisnis) membutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah, para pelaku ekonomi, rakyat, lembaga pendidikan, organisasi profesi, serta organisasi-organisasi non pemerintah lainnya. Komitmen itu dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan kepercayaan berkembangnya kemampuan-kemampuan lokal atas dasar kebutuhan setempat.

Harapan ke depan, mudah-mudahan melalui LM3 Agribisnis ini mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan petani sekitar. Misalnya LM3 Agribisnis bisa berperan menjadi pusat dalam memasarkan produk-produk pertanian dari petani sekitar, petani mendapatkan harga yang baik dan petani juga bisa belajar agama di pesantren. Dengan timbal balik seperti itu maka ada keseimbangan masalah dunia (mencari pendapatan yang lebih baik) dengan akherat. Cara ini akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bagi petani yang ada di sekitar LM3. Selain itu juga LM3 dapat sebagai agen syiar dakwah, dan juga sebagai agen pembangunan agribisnis di pedesaan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Freire, Paulo. 1984. Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan (Terj. AA. Nugroho), Jakarta : Gramedia.

Karsidi, Ravik. 2001.Paradigma Baru Penyuluhan Pembangunan dalam Pemberdayaan Masyarakat. Dalam Pambudy dan A.K.Adhy (ed.): Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani, Bogor: Penerbit Pustaka Wirausaha Muda.

Korten, David C. 1984. Pembangunan yang Memihak Rakyat. Jakarta : Lembaga Studi Pembangunan.

Mahmudi, Ahmad. 1999. Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Masyarakat. TOT P2KP oleh LPPSLH, Ambarawa, 27 Nopember 1999.

Pambudy, Rachmat 1998. Sistem Penyuluhan Agribisnis Peternakan. Draft Disertasi S3 Pasca Sarjana, Bogor : IPB (tidak diterbitkan).

Saragih, Bungaran, 1998. Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian, Bogor: Yayasan Mulia Persada Indonesia, PT. Surveyor Indonesia dan PSP Lemlit IPB.

Sinar Tani, 2012,  Lembaga Mandiri Yang Mengakar di Masyarakat.

Usman, Sunyoto.(2008). Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar


 

 

 

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550