PALPASI REKTAL DAN PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN (PKB)

PALPASI REKTAL DAN PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN (PKB)

 

PALPASI REKTAL DAN PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN (PKB)

 

Dalam usaha pembangunan Peternakan Kesehatan dan reproduksi ternak menjadi faktor penting dalam mendorong populasi dan pertumbuhan/perkembangan ternak. Karena dari reproduksi maka akan tumbuh genari baru /individu ternak baru. Kecepatan pertumbuhan ini sangat di tentukan:

  1. Kondisi ternak yang dapat di nilai dari Body Condition Scorer (BCS), di atas 3.
  2. Kondisi kesehatan dan normalitas organ reproduksi.
  3. Keberhasilan fertilisasi baik kawin secara alami maubun melalui teknik Inseminasi Buatan (IB).
  4. Pemeliharaan selama kebuntingan.

Selanjutnya untuk mengetahui kondisi status kesehatan organ reproduksi ternak khususnya sapi, maka perlu mempelajari teknik palapasi rectal, dengan tata cara pelaksanaan sebagai berikut:?

Teknik palpasi rektal secara ringkas sebagai berikut :

  1. Pemeriksa memekai pelindung sepatu boot, pakaian praktek lapangan berlengan pendek
  2. Memakai sarung tangan plastik
  3. Kuku pemeriksa harus dipotong tumpul, rata, licin dan tidak boleh memakai cincin
  4. Melakukan pemeriksaan dengan tangan kanan atau kiri sesuai kebiasaan
  5. Waspada terhadap sepakan (tendangan) kaki sapi yang biasanya terjadi menjelang atau waktu tangan dimasukkan ke dalam rectum.
  6. Sarung tanngan plastik harus dilicinkan dengan sabun
  7. Tangan dimasukkan kedalam rectum dalam bentuk mengerucut dan diteruskan sampai melampaui organ reproduksi. Apabila feses banyak maka perlu dikeluarkan terlebih dahulu.
  8. Rasakan setiap perubahan-perubahan pada organ reproduksi

Seorang petugas inseminar sebelum melakukan Inseminasi Buatan (IB) sebaiknya melakukan palpasi rectal untuk mengetahui lebih jauh tentang status estrus dan kondisi pada uterus. Karena jika ternayata di dalam uterus telah terdapat fetus maka jika di IB akan menyebabkan abortus.

Lebih lanjut teknik palpasi rectal sabagai dasar Teknik Pemeriksaaan Kebuntingan (PKB), Melalui teknik PKB maka dapat mendeteksi lebih dini terhadap status kebuntingan, sekaligus mengetahui kondisi reproduksi sapi. Pemeriksaan Kebuntingan melalui palpasi rectal, merupakan cara pemeriksaan yang sederhana, namun membutuhkan ketrampilan dan latihan yang intensif sehingga petugas PKB mampu mendiagnosa kebuntingan, sekaligus menentukan umur kebuntingan, mengetahui posisi fetus dan memprediksikan kelahiran. Dengan demikian maka dapat di prediksikan kondisi kebuntingan sapi, sekaligus dapat mencegah kondisi gangguan rproduksi maupun gangguan kelahiran pada sapi saat melahirkan.

Suatu pemeriksaan kebuntingan secara tepat dan dini sangat penting bagi program evaluasi keberhasilan inseminasi buatan (IB). Ketrampilan untuk menentukan kebuntingan secara dini sangat perlu dimiliki oleh setiap petugas pemeriksa kebuntingan. Selain ketrampilan menentukan kebuntingan perlu juga menetukan umur kebuntingan dan ramalan waktu kelahiran dengan ketepatan beberapa hari sampai satu dua minggu tergantung pada tingkat kebuntingan.

Kebuntingan pada sapi dapat didiagnosa melalui palpasi rectal dan penentuan kadar progesterone dalam serum darah. Darah dapat diambil pada hari 21 sampai 24 sesudah IB untuk diperiksa di laboratorium dengan metode radioimmunoassay (RIA) atau metode ELISA.

 

A. PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN

A.1. INDIKASI LUAR

Berhentinya gejala-gejala birahi sesudah IB sudah bisa menandakan adanya kebuntingan, akan tetapi tidak berarti bahwa seratus persen akan terjadi kebuntingan. Peternak mungkin lalai atau tidak memperhatikan gejala birahi walaupun tidak terjadi kebuntingan. Kematian embrio dini atau abortus mungkin saja dapat terjadi. Perubahan-perubahan patologis dapat terjadi didalam uterus seperti myometra, sista ovarium bisa menyebabkan kegagalan birahi. Penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara perdarahan setelah IB dengan konsepsi.

Kelenjar susu pada sapi dara berkembang dan membesar mulai kebuntingan 4 bulan. Pada sapi yang pernah beranak/ sering beranak pembesaran ambing terjadi pada 1 sampai 4 minggu menjelang kelahiran.

Ternak betina bertambah tenang, lamban dan hati-hati dalam pergerakannya sesuia dengan bertambahnya umur kebuntingan. Pada minggu terakhir kebuntingan ada kecenderungan pertambahan berat badan. Pada akhir kebuntingan ligamentum pelvis mengendur, terlihat legokan pada pangkal tulang ekor, oedema dan relaksasi vulva.

Pada umur kebuntingan 6 bulan keatas gerakan fetus dapat dipantulkan dari dinding luar perut. Fetus teraba sebagai benda padat dan besar yang tergantung berayun didalam struktur lunak perut (abdomen).

A.2. INDIKASI DALAM

Palpasi per-rektal terhadap uterus, ovaria dan pembuluh darah uterus adalah cara diagnosa diagnose kebuntingan yang paling praktis dan akurat pad sapid an kerbau.

Sebelum palpasi rektal perlu diketahui :

  • Sejarah perkawinan ternak yang bersangkutan
  • Tanggal melahirkan terakhir
  • Tanggal dan jumlah perkawinan atau IB
  • Kejadian-kejadian penyakit pada ternak tersebut

Catatan reproduksi yang lengkap sangat membantu dalam menentukan kebuntingan secara cepat dan tepat.

Teknik palpasi rektal secara ringkas sebagai berikut :

  • Pemeriksa memekai pelindung sepatu boot, pakaian praktek lapangan berlengan pendek
  • Memakai sarung tangan plastik
  • Kuku pemeriksa harus dipotong tumpul, rata, licin dan tidak boleh memakai cincin
  • Melakukan pemeriksaan dengan tangan kanan atau kiri sesuai kebiasaan
  • Waspada terhadap sepakan (tendangan) kaki sapi yang biasanya terjadi menjelang atau waktu tangan dimasukkan ke dalam rectum.
  • Sarung tanngan plastik harus dilicinkan dengan sabun
  • Tangan dimasukkan kedalam rectum dalam bentuk mengerucut dan diteruskan sampai melampaui organ reproduksi. Apabila feses banyak maka perlu dikeluarkan terlebih dahulu.
  • Rasakan setiap perubahan-perubahan pada organ reproduksi

Indikasi yang pasti tentang adanya kebuntingan pada ternak sapi dan kerbau melalui pemeriksaan per-rektal adalah :

  1. Palpasi secar halus dan sangat hati-hati terhadap kantong amnion pada kebuntingan muda, 35 sampai 50 hari
  2. Palpasi cornu uteri yang membesar berisi cairan plasenta dari hari ke 30 sampai ke 90 periode kebuntingan
  3. Selip selaput fetal, allantochorion, pada penjepitan secara luwes terhadap uterus diantara ibu jari dan jari telunjuk pada kebuntingan muda, 40 sampai 90 hari
  4. Perabaan dan pemantulan kembali fetus didalam uterus yang membesar yang berisi selaput fetus dan cairan plasenta
  5. Perabaan plesentoma
  6. Palpasi arteria uterine media yang membesar, berdinding tipis dan berdesir (fremitus)

 

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550