Pengawasan Mutu Pakan di Kalimantan Selatan

Share This Post:

Pengawasan Mutu Pakan di Kalimantan Selatan

 (Agus Triyanto*  dan Fadliansyah**)

Beberapa faktor  yang mempengaruhinya keberhasilan Budidaya pada usaha ternak, adalah.  pakan, yang merupakan komponen penting porsinya mencapai 60 % – 70% dari biaya produksi. Untuk menekan biaya produksi yang tinggi harus diupayakan mendapatkan pakan yang murah tapi berkualitas. Dengan meningkatnya jumlah ternak maka akan semakin meningkat pula kebutuhan pakannya, sehingga pakan menjadi sangat strategis dan pakan yang beredar di pasaran menjadi semakin bervariatif.

Pakan lokal selalu dikaitkan dengan harga yang murah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan bahan pakan diantaranya, ketersediaan bahan, kadar gizi, harga, kemungkinan adanya faktor pembatas zat racun atau anti nutrisi serta perlu tidaknya bahan tersebut diolah sebelum digunakan sebagai pakan ternak. Kondisi ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh pengawas mutu pakan. Tugasnya yang sangat penting di dalam melakukan pengawasan terhadap pakan yang beredar yang di produksi oleh Perusahaan Pakan akan memberikan kepastian kepada konsumen pakan dan produk peternakan bahwa bahwa pakan yang beredar memenuhi standar mutu pakan yaitu memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Persyaratan Teknik Minimal yang telah ditetapkan.

Tujuan dari Pengawasan Mutu dan Keamanan Pakan yang telah dilakukan di Provinsi Kalimantan Selatan antara lain untuk membandingkan hasil analisa laboratorium komposisi sampel pakan yang  diambil di poultry shop/agen/toko pakan/peternak di Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan  dengan Standar Nasional Indonesia ( SNI ) dan Persyaratan Teknis Minimal ( PTM ) yang telah ditetapkan, selain itu agar konsumen pakan dapat terlindungi dari kerugian akibat mutu pakan yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia ( SNI ) dan Persyaratan Teknis Minimal ( PTM ) yang telah ditetapkan. Tujuan lain agar ternak yang dipelihara peternak bisa terhindar dari defisiensi zat gizi tertentu yang penting untuk optimalnya produktivitas ternak akibat bahan pakan yang tidak tercukupi kandungan gizinya.

Sampai saat ini jumlah petugas pengawas mutu pakan di Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan  masih sedikit dibandingkan dengan jangkauan pengendalian mutu pakan yang diproduksi dan beredar, padahal isu keamanan pakan semakin menjadi isu yang mengemuka di dunia karena akan berdampak pada keamanan pangan. Pembinaan kepada pelaku usaha peternakan di level menengah, koperasi dan kelompok peternak di lapangan merupakan tugas terus menerus yang harus dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pelaku usaha tersebut, karena merekalah penopang utama keberhasilan pembangunan peternakan.  Berdasarkan hal tersebut Kepala Dinas dan Kepala Bidang di Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan yang membawahi pejabat pengawas mutu pakan sangat mendukung kegiatan pengawasan mutu pakan untuk melindungi konsumen /peternak dari kerugian-kerugian akibat penggunaan pakan yang kualitasnya dibawah standar yang telah dipersyaratkan /ditentukan.

Kemampuan pengawas mutu pakan harus terus ditingkatkan untuk mengimbangi kemajuan teknologi di bidang peternakan, khususnya bidang pakan. Adanya sosialisasi, pelatihan, seminar, workshop dan tersedianya fasilitas yang menunjang merupakan sarana dan tempat bagi pengawas mutu pakan untuk untuk mengembangkan potensi diri. Selain pembinaan dilakukan pengawasan mutu pakan yaitu melalui pengambilan, pengiriman dan pengujian mutu sample pakan serta pemeriksaan sanitasi kondisi tempat penyimpanan pakan di poultry shop maupun peternak.

Pengawasan mutu pakan di Provinsi Kalimantan Selatan dilakukan dengan mengambil beberapa sampel pakan di poultry shop/agen/pengecer pakan. Sementara pabrik pakan di Provinsi Kalimantan Selatan masih sedikit. Pengujian kadar proksimat dan Ca, P sampel pakan di lakukan di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan Ternak Bekasi Direktorat Jenderal Peternakan. Beberapa sampel pakan dikirim di  UPTD Pengujian Mutu Produk Peternakan Dinas Peternakan dan Keswan Sulawesi Selatan dan Laboratorium Pakan Ternak Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi Kalimantan Barat. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap pakan/bahan pakan tersebut, memperlihatkan kandungan protein/nutrisinya bervariasi, ada yang memenuhi standar dan ada yang tidak memenuhi standar yang ditentukan.  Hasil analisis disampaikan ke Kabupaten/Kota untuk ditindaklanjuti guna pembinaan terhadap mutu pakan yang dihasilkan.

Hasil pengujian sampel pakan di Kalimantan Selatan 80 % memenuhi standar SNI. Daya tahan dan daya simpan ransum dan bahan baku ransum sangat tergantung pada kadar air yang terkandung di dalamnya. Standar Nasional Indonesia (SNI) menetapkan angka ideal kadar air dalam ransum ternak tidak melebihi 14%. Meskipun demikian, sebagai antisipasi dan langkah aman, sebagian pabrik pakan menerapkan standar lebih baik dengan mematok kadar air di kisaran 10–12%. Meskipun kadar air ransum yang berasal dari pabrikan atau bahan baku ransum dari supplier sudah memenuhi standar, tidak menjamin bahwa ransum yang akan diberikan pada ayam akan tetap baik kualitasnya. Penyimpanan ransum dalam gudang yang lembab dipastikan akan menyebabkan ransum rusak dalam waktu 2-3 hari saja. Yang paling umum muncul di daerah tropis dengan kelembaban tinggi seperti Indonesia adalah tumbuhnya jamur. Kontaminasi jamur menjadi masalah tersendiri karena jamur ini memproduksi racun yang biasa dikenal dengan mikotoksin.

Pengawasan mutu pakan sebaiknya dilaksanakan secara kontinyu serta melakukan koordinasi dan sosialisasi pengawasan mutu pakan dengan Dinas yang membidangi fungsi-fungsi peternakan di kab/kota se-Kalimantan Selatan, agar pelaksanaan pengawasan pakan didaerah dapat dilaksanakan sebagai mana mestinya.

Tantangan dan hambatan dalam menjalankan fungsi pengawasan antara lain : Meningkatnya  kebutuhan konsumsi ternak akan memacu program pemerintah dalam pengembangan populasi  ternak . Hal ini memberikan konsekuensi makin  meningkat  pula  kebutuhan  pakan, sehingga distribusi pakan sangat strategis dan alur maupun sistem  peredaran pakan semakin variatif di pasar. Disisi lain petugas   wastukan  yang  profesional dalam   menjalankan   tugas   pengawasan masih   sedikit, dikaitkan dengan  jangkauan wilayah kerjanya yang relatif  sangat luas dan masih banyak mengalami kesulitan transportasi dan penguasaan teknik dalam pengawasan produksi yang beredar, terutama dalam melakukan koordinasi dan kerjasama dengan pihak terkait. Dari tingkat pelaku mediator masih banyak yang belum memiliki komitmen yang saling menguntungkan serta kejujuran untuk lebih banyak berpihak kepada konsumen, terlebih dalam masalah keamanan pangan.

            Ditengarai tantangan ini akan menjadi bumerang apabila tidak segera mendapatkan solusi. Pemerintah harus tegas menindaklanjuti hasil pengawasan dan laporan-laporan penyimpangan yang terjadi di lapangan. Lembaga pelayanan konsumen dapat meningkatkan aktivitas dengan data dan fakta. Kemudian sosialisasi keamanan pangan harus berorientasi kesadaran konsumen untuk dapat memilih pakan berkualitas dengan harga terjangkau dan tidak ber-image selalu lebih mahal. Perlu bimbingan dan motivasi agar distributor/agen pakan yang harus  terdaftar, untuk memudahkan pemantauan petugas secara berkala.

*Penyuluh Pertanian Madya, Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar Prov. Kalimantan Selatan.

** Staf Seksi Perbibitan dan Produksi, Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Banjar Prov. Kalimantan Selatan

Share This Post: