TEPUNG BULU AYAM UNTUK HEWAN KESAYANGAN

Share This Post:

TEPUNG BULU AYAM UNTUK HEWAN KESAYANGAN

 (Nur Khasanah*, Uki Prastowo Adi**, Budi Santoso*** )

Peningkatan populasi ternak secara umum harus di imbangi dengan penyediaan dan pemberian pakan yang memadai baik secara kuantitas dan kualitas. Oleh karena itu, peternak harus melakukan inovasi dalam pemberian pakan. Industri perunggasan di Indonesia berkembang dengan pesat, sehingga menghasilkan limbah yang banyak, salah satunya yaitu bulu ayam. Kandungan protein yang tinggi pada bulu ayam,  dapat di jadikan sebagai pakan.

Kendala utama penggunaan tepung bulu ayam dalam ransum untuk ternak adalah rendahnya daya cerna protein bulu. Ternak kesayangan dalam hal ini adalah penghasil daging dan telur, seperti ruminansia dan unggas. Rendahnya daya cerna protein bulu tersebut disebabkan sebagian besar kandungan protein kasar berbentuk keratin (Sri indah, 1993). Masalah yang dihadapi oleh peternak Indonesia, selain masih awam terhadap tepung bulu ayam juga tidak tahu aplikasi pemberian takaran tepung bulu ayam yang tepat pada ruminansia.

Bulu ayam merupakan limbah dari rumah pemotongan ayam (RPA) dengan jumlah berlimpah dan terus bertambah seiring meningkatnya populasi ayam dan tingkat pemotongan sebagai akibat meningkatnya permintaan daging ayam di pasar. Bulu ayam sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan dan hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat kemoceng, pengisi jok, pupuk tanaman, kerajinan tangan/hiasan dan shuttle cock (Adiati, 2004).

Menurut Packham (1982) bahwa dari hasil pemotongan setiap ekor ternak unggas akan diperoleh bulu sebanyak ± 6% dari bobot hidup (bobot potong ± 1,5 kg). Sebelum bulu ayam diberikan ke ternak, diolah terlebih dahulu menjadi tepung. Pemrosesan hidrolisis bulu ayam pada prinsipnya untuk melemahkan atau memutuskan ikatan dalam keratin. Berbagai metode pemrosesan telah diteliti untuk meningkatkan kecernaan bulu ayam. Pengolahan bulu ayam menjadi tepung dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

Pengolahan secara fisik, yaitu: Limbah bulu ayam yang diproses mengunakan teknik fisik dapat dilakukan dengan tekanan dan suhu tinggi, yaitu pada suhu 105°C dengan tekanan 3atm dan kadar air 40% selama 8 jam. Sampel yang sudah bersih akan di autoklaf, kemudian dikeringkan dan siap untuk digiling (Adiati, 2004).

Pengolahan secara kimiawi: Proses kimiawi dilakukan dengan penambahan HCl 12%, dengan ratio 2:1 pada bulu ayam yang sudah bersih, lalu disimpan dalam wadah tertutupselama empat hari. Sampel yang telah direndam oleh HCl 12% kemudian dikeringkan dan siap untuk digiling menjadi tepung.

Pengolahan secara enzimatis: Bulu ayam yang diproses dengan teknik enzimatis dilakukan dengan menambahkan enzim proteolitik 0,4% dan disimpan selama dua jam pada suhu 52°C. Bulu ayam kemudian dipanaskan pada suhu 87°C hingga kering dan digiling hingga menjadi tepung.

Pengolahan secara kimia dengan basa: pengolahan secara kimia menggunakan basa, dapat dilakukan dengan menambahkan NaOH 6%, disertai pemanasan dan tekanan menggunakan autoklaf. Bulu ayam yang sudah siap kemudian dikeringkan dan digiling (Puastuti, 2007).

            Kandungan asam amino bulu ayam dari hasil penelitian menunjukkan angka-angka yang merangsang dalam penyusunan ransum bagi ternak kesayangan.

Tabel 1. perbedaan nutrisi asam amino pada bulu ayam

tabel 1Sumber: Hasil penelitian Rasyaf, 1990. B.K. = Bahan Kering

Tepung bulu ini mempunyai energi metabolis (M.E) sebesar 2.354 kalori/ kg dan asam amino tersedia sebesar 95 %. Jadi 35 % asam amino yang terdapat dalam tepung bulu tidak tersedia untuk unggas dan terbuang keluar lagi. Inilah sebabnya tepung bulu tidak bisa terlalu banyak dimasukkan dalam formula ransum. Walaupun mengandung protein cukup tinggi dan kaya asam amino esensial, tepung bulu mempuyai faktor penghambat seperti kandungan keratin yang digolongkan kepada protein serat. Kandungan protein kasar yang tinggi dalam tepung bulu ayam tersebut tidak diikuti oleh nilai biologis yang tinggi. Hal ini menyebabkan nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik pada tepung bulu ayam rendah. (Tillman , 1982).

Ternak ruminansia memerlukan nutrisi untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, reproduksi, laktasi, gerak dan kerja. Dengan demikian pemberian protein dan nutrisi lainnya hendaknya diperhitungkan sesuai kebutuhan tersebut, atau dengan kata lain , pemberian pakan disesuaikan dengan proporsi kebutuhan ternak. Penambahan tepung bulu ayam pada sapi, kambing dan domba (ruminansia) bertujuan untuk meningkatkan nilai pakan dan menambah energi. Tingginya pemberian pakan berenergi menyebabkan peningkatan konsumsi dan daya cerna sumber pakan rumput atau hijauan yang rendah kualitas. Selain itu pemberian konsentrat tertentu dapat menghasilkan asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Penambahan tepung bulu ayam dapat juga bertujuan agar zat makanan dapat langsung diserap di usus tanpa terfermentasi di dalam tubuh.

Pada ternak ruminansia nilai protein yang tidak dicerna oleh rumen dari bulu ayam yang dihidrolisis dapat meningkat  53,6% hingga 87,9%. Hijauan rumput yang biasa dijadikan pakan ternak seperti rumput alam, rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput setaria (Setaria sphacelata), rumput benggala, rumput raja (Pennisetum purpureophoides). Sedangkan jenis leguminosa seperti lamtoro (Leucaena leucocephala), kaliandra (Calliandra calothyrsus Meissn), gamal (Gliricidia sepium), turi (Sesbania grandiflora), albesia. Sisa hasil pertanian yang dapat dijadikan sumber hijauan pakan ternak seperti jerami padi, daun dan tongkol jagung, jerami kacang tanah. Jerami padi mempunyai kadar serat yang tinggi dan kadar energi rendah sehingga nilai cernanya rendah. Untuk itu diperlukan suatu perlakuan agar mudah dicerna yaitu dengan proses fermentasi. Produktivitas ternak ruminansia dapat diperbaiki dengan memanfaatkan mikroorganisme/probiotik dalam pakan guna meningkatkan kualitas pakan dan memperbaiki kondisi rumen.

            Berapa takaran pemberian tepung bulu ayam pada ternak ruminansia? Berikut pengalaman dari penelitian peternakan.litbang.deptan

Tabel 2. Kebutuhan tepung bulu bagi ruminansia

             tabel 2

Sumber: peternakan.litbang.deptan.go.id/fullteks/wartazoa/wazo141-5.doc

Penggunakan tepung bulu ayam sebagai pengganti sumber protein pakan konvensional (bungkil kedelai) hingga 40% dari total protein ransum memberikan respon biologis yang baik. Penggunaan tepung bulu unggas dapat pula meningkatkan konsumsi bahan kering, hal tersebut mengindikasikan bahwa ransum dengan tepung bulu unggas mempunyai palatabilitas (kemampuan untuk merasa, mencicipi, mengecap makanan dsb) yang tinggi.

Peningkatan konsumsi protein yang diiringi dengan peningkatan pertambahan bobot hidup harian, merupakan harapan peningkatan protein tubuh, karena protein yang di konsumsi, sebagian besar merupakan protein yang mempunyai tingkat kecernaan dalam rumen yang rendah (RUP), namum tingkat protein by pass yang tinggi. Jadi protein yang dimasukkan ke dalam rumen hanya sebagian kecil saja yang mengalami perombakan menjadi NH3, tetapi cukup mendukung pertumbuhan mikroba dalam rumen. Sebagian besar protein akan masuk ke saluran pencernaan pascarumen dan mampu memasok asam amino yang cukup untuk kebutuhan ternak. Dengan perkataan lain, pemberian tepung bulu sebagai sumber protein tidak tercerna dalam rumen mampu meningkatkan suplai total asam amino dalam usus halus sekaligus dapat memperbaiki profil asam amino.

Keunggulan penggunaan tepung bulu ayam untuk ternak ruminansia adalah tepung mengandung protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (rumen undegradable protein / RUP), tetapi mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pasca rumen. Nilai RUP tersebut berkisar 53-88 %, sementara nilai kecernaan tepung bulu ayam dalam rumen hanya 12-46 %. Menurut pengalaman  Thomas dan Beeson penggunaan tepung bulu ayam dalam ransum harus/sebaiknya dikombinasikan dengan urea (1977) . Selanjutnya tepung bulu dapat digunakan pada level tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum tanpa membuat produktivitas unggas merosot. Semakin baik pengolahannya, akan semakin baik pula hasilnya. Semakin banyak digunakan tepung ini justru akan menekan prestasi unggas, produksi telur berkurang dan pertambahan berat badan juga merosot (Rasyaf, 1992).

Limbah bulu ayam basah tanpa diproses telah diperjual belikan dengan harga rata-rata Rp.200/kg, sedangkan bila sudah diproses menjadi tepung bulu kering harganya mencapai Rp. 2.500/kg. Mengacu pada nilai tersebut banyaknya ayam yang dipotong per hari akan berpeluang memberikan tambahan penghasilan sampingan dari penjualan bulu ayam yang cukup menjanjikan.

*Nur khasanah, Pengawas Mutu Pakan Pelaksana Pemula, BBIB Singosari 

**Uki Prastowo Adi, Pengawas Mutu Pakan Pelaksana Pemula,  BBPTU HPT Baturraden

***Budi Santoso, Pengawas Mutu Pakan Pelaksana Pemula,  BBPTU HPT Baturraden

Share This Post: