Pengaruh suhu dan lama inkubasi terhadap ketahanan panas dan komposisi asam lemak membran sel Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus.

Share This Post:

Pengaruh suhu dan lama inkubasi terhadap ketahanan panas dan komposisi asam lemak membran sel Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus  bulgaricus.

Oleh: Endang Setyawati SW
Widyaiswara BBPP Batu

Abstrak

     Pengaruh dua suhu inkubasi (37 dan 420C) dan dua waktu inkubasi (akhir log dan awal stasioner) terhadap ketahanan panas S. thermophilus dan Lb. bulgaricus dipelajari berkaitan dengan viabilitas dan komposisi asam lemak membran sitoplasma. Komposisi asam lemak membran dianalisis dan dihubungkan dengan data ketahanan  terhadap panas. Ketahanan terhadap panas dinyatakan sebagai kemampuan sel untuk tetap viabel setelah mengalami proses pemanasan. Kultivasi S. thermophilus dan Lb. bulgaricus dilakukan dengan media ST dan MRS. Ketahanan terhadap panas yang terbaik untuk S. thermophilus adalah sel yang dipreinkubasi 420C; 8 jam (akhir fase log) dan Lb. bulgaricus adalah sel yang dipreinkubasi pada 420C; 18 jam (awal stasioner). Hal ini ditunjukkan dengan penurunan jumlah sel yang paling rendah. Sedangkan sel yang dipreinkubasi pada 370C ketahanan terhadap panas lebih rendah. Meningkatnya ketahanan terhadap panas pada sel yang dipreinkubasi 420C berkaitan dengan menurunnya rasio Unsaturated Fatty Acid (USFA) terhadap asam lemak jenuh Saturated Fatty Acid (SFA) pada S. thermophilus maupun Lb. bulgaricus. Peningkatan kandungan asam lemak jenuh mengakibatkan menurunnya USFA/SFA sehingga memperbaiki ketahanan sel terhadap panas.

Kata Kunci: Bakteri asam laktat, suhu, lama inkubasi, ketahanan panas, komposisi asam lemak.

Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus merupakan bakteri asam laktat (BAL) termopilik yang digunakan dalam industri produk fermentasi khususnya yoghurt. Kedua spesies bakteri tersebut telah diketahui mampu memfermentasi sebagian komponen zat gizi susu menjadi molekul yang sederhana, sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh. Kultur starter untuk pembuatan yoghurt tersedia dalam bentuk starter cair (liquid starter), kering beku (freeze-dried) dan starter beku (frozen starter). Di tingkat industri kecil di Indonesia biasanya starter yoghurt diperoleh dalam bentuk kultur starter cair dalam medium susu, karena tidak tersedianya starter kering maupun beku. Penanganan kultur cair disamping memerlukan banyak tenaga dan biaya, kemungkinan terjadinya kontaminasi sangat tinggi atau bahkan dapat terjadi mutasi mikroorganisme sehingga menyebabkan perubahan-perubahan karakter dari kultur starter dan keadaan seperti ini menimbulkan ketidakseragaman kualitas produk yang dihasilkan.
Pengawetan starter umumnya dilakukan dengan pengeringan (To dan Etzel, 1997) untuk mempertahankan viabilitas dan sifat-sifat utama bakteri seperti aktivitas membentuk asam, memproduksi aroma, membentuk tekstur dan sifat sebagai probiotik (Fonseca et al., 2003).
Beberapa strain bakteri sensitif terhadap pengeringan, sehingga performan kultur starter menjadi rendah. Sensitivitas ini berkaitan dengan kerusakan kondisi fisiologis sel yang disebabkan oleh berbagai stres yang terjadi selama produksi dan pengawetan starter. Stres panas yang terjadi selama proses pengeringan dan penyimpanan kering merupakan penyebab utama hilangnya aktivitas bakteri (Desmond et al., 2002), selain itu stres asam (DeAngelis et al., 2001), kekurangan nutrisi (Maus dan Ingham, 2003), stres osmotik dan stres oksidasi (Guerzoni et al., 2001) berpengaruh terhadap performan starter.
Respon penyesuaian dalam menghadapi stres pada BAL bervariasi tergantung spesies bakteri dan kondisi stres, dua respon utama yang diamati adalah: pertama, terjadi síntesis protein spesifik seperti yang dilakukan Broadbent et al.(1997) pada Lactococcus lactis dimana respon terhadap shock panas ditandai dengan meningkatnya síntesis heat shock proteins seperti GroEL, DnaK, DnaJ dan GrpE. Respon kedua, berkaitan dengan perubahan komposisi asam lemak membran.
Perubahan komposisi asam lemak membran memungkinkan mikroorganisme mempertahankan fungsí membran dalam menghadapi fluktuasi lingkungan terutama suhu yang menginduksi terjadinya variasi pada komposisi asam lemak. Hal ini dikaitkan dengan pengaturan suhu transisi fosfolipid dari fase gel ke liquid-kristal untuk mempertahankan kondisi fisiologis membran sel. Secara umum dilaporkan proporsi asam lemak dengan titik cair rendah meningkat dengan menurunnya suhu pertumbuhan dan sebaliknya. Mekanisme adaptasi seluler yang diinduksi oleh shock panas yaitu dengan menurunnya rasio lemak tidak jenuh dan lemak jenuh (USFA/SFA) dari fosfolipid membran sehingga menurunkan fluiditas membran, karena lipid yang mengandung asam lemak jenuh saling merapat hampir seperti kristal dan menyebabkan membran lebih kaku (Atlas, 1997). Rasio USFA/SFA berbanding terbalik dengan suhu pertumbuhan seperti yang dilaporkan oleh Annous et al. (1999) dalam penelitiannya dengan Pediococcus sp strain NRRL B-2354, yaitu dengan meningkatnya kandungan asam lemak jenuh meningkatkan D-value Pediococcus sp yang merupakan respon dari meningkatnya suhu pertumbuhan.
Ketidak aktifan bakteri akibat panas tergantung dari parameter lingkungan seperti media pertumbuhan (Annous et al.,1999), suhu inkubasi (Hazeleger et al.,1995 ; Broadbent & Lin, 1999), fase pertumbuhan (Rees et al., 1995) dan pH (Russell et al., 1995). Untuk meningkatkan ketahanan bakteri terhadap stres panas pada saat pengeringan sebelumnya dilakukan adaptasi dengan cara menumbuhkan sel pada suhu tinggi sebelum pemanasan disamping menentukan waktu inkubasinya, sehingga asam lemak membran berubah kearah rasio yang tahan terhadap pemanasan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengadaptasikan kedua spesies bakteri dengan menggunakan suhu dan waktu inkubasi yang berbeda selama proses fermentasi, sehingga dapat memperbaiki resistensinya terhadap pemanasan dan penyimpanan.

MATERI DAN METODE

Strain Bakteri, penyimpanan kultur stok, dan media pertumbuhan. Streptococcus thermophilus (FNCC 040) dan Lactobacillus bulgaricus  (FNCC 041) dari Food and Nutrition Culture Collection (FNCC), Pusat Studi Pangan dan Gizi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kultur stok disimpan dalam tabung cryoval yang berisi gliserol-skim (1:1, v/v) dan dibekukan pada -400C. Media pertumbuhan yang digunakan untuk kultivasi subkultur isolat Lactobacillus bulgaricus : MRS (de Man Rogosa and Sharpe, 1960) cair – Merck, dicairkan dengan aquades sesuai label, untuk enumerasi digunakan MRS-Agar – Merck. Media ST atau media Streptococcus Thermophilus (Dave and Shah, 1996) cair digunakan untuk subkultur isolat S.thermophilus yang diformulasi sendiri di laboratorium (tripton 10 g, sukrosa  10 g, ekstrak yeast 5 g, K2HPO4 2 g dalam 1 liter aquadest, pH diatur 6,8 ± 0,1). Untuk enumerasi digunakan ST-Agar ditambahkan bromkresol ungu 0,5% 6 ml dan agar 12 g. Semua bahan dicampur sebelum diautoclave.
Pola pertumbuhan bakteri. Kultur bakteri umur 24 jam diinokulasi 1% dalam media cair steril, diinkubasi 37°, 42° dan 45°C selama 24 jam. Pada awal inkubasi dan setiap 2 jam dilakukan pengamatan terhadap pH dengan pH meter dan jumlah sel dengan optical density (ODx) menggunakan spektrofotometer (Shimadzu).
Preparasi sampel dan pengujian ketahanan sel terhadap panas. Biomassa sel basah dari berbagai suhu inkubasi (37° dan 42°) dan waktu inkubasi (fase log dan stasioner) berdasarkan pengamatan pola pertumbuhan, diresuspensi dengan aquades steril sebanyak volume semula. Masing-masing suspensi bakteri dipanaskan dalam waterbath suhu 60°C selama 5 menit. Setelah pemanasan, sampel didinginkan dalam air es 5 menit dilanjutkan dengan penanaman pada media agar dan diinkubasi 37°C selama 24-48 jam (Annous et al., 1999).
Viabilitas bakteri. Pengujian viabilitas bakteri dilakukan dengan pengenceran berseri terhadap suspensi bakteri dengan menggunakan larutan pepton steril 0,1% (Merck) dan dilakukan penanaman menggunakan metode tuang dengan media STA dan MRSA, selanjutnya diinkubasi 370C selama 24-48 jam. Viabilitas dihitung menggunakan bacterial colony counter dan densitas sel dilaporkan sebagai cfu (colony forming unit) per ml sampel.
Analisis asam lemak bakteri. Komposisi asam lemak bakteri ditentukan menggunakan gas chromatography mass spectra (GCMS-QP2010S Shimadzu, kolom : Rtx-5MS, panjang : 30 meter, ID : 0,25mm). Total asam lemak yang diekstrak dan diesterifikasi berasal dari konsentrasi biomassa 2 bakteri: sel bakteri yang telah dikultivasi pada media cair pada suhu 37 dan 42°C sampai mencapai fase log dan stationer pertumbuhan, disentrifuse 3500 x g 15 menit pada 4°C, dicuci 2 kali menggunakan larutan buffer potasium fosfat 50 mM. Selanjutnya biomassa sel basah dalam tabung disimpan dalam 4°C sebelum dianalisis kandungan asam lemaknya. Saponifikasi biomassa bakteri menggunakan basic methanol (NaOH 3,7M dalam methanol : aquades deionisasi = 1:1). Methylasi asam lemak (sebagai garam sodium) menggunakan reagen methylasi {HCl 6M : methanol = 13 : 11 (v/v)}. Ekstraksi menggunakan solven ekstraksi (hexane : methyl t-butyl ether = 1:1) (Microbial ID, 1992 dalam Kankaanpa et al., 2004).
Rancangan penelitian dan analisis data, ketahanan terhadap panas, penelitian disusun dalam RAK pola faktorial 3 x 2, sehingga terdapat 6 kombinasi perlakuan dan masing-masing kombinasi diulang 3 kali. Asam lemak bakteri, dilakukan untuk membandingkan komposisi asam lemak dari bakteri yang diinkubasi pada suhu yang berbeda dengan fase panen yang sama (menghasilkan viabilitas tertinggi) dari masing-masing spesies. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam, apabila hasil analisis menyebabkan perbedaan yang nyata, maka analisis data dilanjutkan menggunakan uji pembandingan berganda.

HASIL

Pengaruh suhu inkubasi terhadap pola pertumbuhan S. thermophilus dan Lb. bulgaricus. dan pH medium.
Pengaruh suhu inkubasi terhadap pola pertumbuhan bakteri ditentukan dengan mengukur tingkat kekeruhan pada awal inkubasi dan setiap 2 jam dari proses fermentasi selama 24 jam. Pada suhu inkubasi  37, 40, 420C peningkatan kekeruhan dan penurunan pH yang tajam pada sampel S. thermophilus terjadi mulai jam ke 2 sampai jam ke 8. Peningkatan densitas sel terjadi sampai jam ke 10 dan selanjutnya tidak terjadi peningkatan. Densitas sel pada suhu inkubasi 37 dan 400C tidak berbeda nyata, sedang pada suhu inkubasi 450C peningkatan kekeruhan dan penurunan pH terjadi mulai jam ke 4. Diantara suhu inkubasi yang digunakan, suhu 450C sel yang dihasilkan paling rendah (Gbr. 1a dan 1b), sehingga untuk produksi sel diperlukan suhu inkubasi yang dapat menghasilkan sel terbanyak yaitu suhu 37 dan 420C. Dari grafik pola pertumbuhan dan pH dapat disimpulkan bahwa akhir fase log atau awal  stasioner dicapai setelah inkubasi berjalan 8 jam dan fase stasioner pada jam ke 10.

Gambar 1aGb. 1a. Pola Pertumbuhan S. thermophilus  berdasarkan tingkat kekeruhan

Gambar 1bGb. 1b. Pola Pertumbuhan S. thermophilus berdasarkan pH medium

Peningkatan kekeruhan dan penurunan pH medium Lb. bulgaricus pada suhu inkubasi 37 dan 40 0C mulai terjadi jam ke 4, sedang pada  suhu 42 dan 450C  mulai terjadi berturut-turut jam ke 2 dan jam ke 6. Berikutnya masih terjadi sedikit peningkatan kekeruhan dan penurunan pH medium sampai jam ke 16,  jam ke 18 dan selanjutnya tidak terjadi peningkatan maupun penurunan pH medium. Dari grafik pola pertumbuhan dan pH medium dapat disimpulkan bahwa akhir fase log dicapai setelah lama inkubasi berjalan 16 jam dan fase stasioner pada jam ke 18. Jumlah sel yang dihasilkan pada suhu inkubasi 45 0C paling sedikit, sedangkan jumlah sel yang dihasilkan antara suhu 37 dan 400C hampir sama dan jumlah sel yang dihasilkan pada suhu inkubasi 420C tertinggi (Gbr. 2a dan 2b),  pada penelitian ini selanjutnya dipilih suhu inkubasi untuk memproduksi sel pada 370 dan 420C.

Gambar 2aGb. 2a. Pola Pertumbuhan Lb.bulgaricus berdasarkan tingkat kekeruhan

Gambar 2bGb. 2b. Pola Pertumbuhan Lb. bulgaricus berdasarkan pH medium

Pengaruh suhu dan lama inkubasi terhadap ketahanan panas.

Pengaruh suhu inkubasi terhadap ketahanan panas bakteri ditentukan dengan mengukur jumlah sel awal setelah proses fermentasi dan setelah perlakuan pemanasan sehingga dapat diketahui tingkat penurunan jumlah sel. Pada S. thermophilus suhu  inkubasi (370C dan 420C) berbeda nyata (α=5%) terhadap ketahanan panas bakteri, ini dilihat dari penurunan jumlah sel pada sel yang diinkubasi 370C lebih besar dibanding yang diinkubasi 420C, demikian juga dengan lama inkubasi (6, 8 dan 10 jam) berbeda sangat nyata (α=1%) terhadap ketahanan panas. Penurunan jumlah sel pada sel yang diinkubasi selama 6 dan 10 jam lebih besar dibanding yang diinkubasi 8 jam (Gbr 3).

Gbr.3. Penurunan log Σ sel S. thermophilus akibat pemanasanGbr.3. Penurunan log Σ sel S. thermophilus  akibat pemanasan

Pada lama inkubasi 8 dan 10 jam, suhu inkubasi tidak berbeda nyata terhadap ketahanan panas S. thermophilus, tetapi terlihat kecenderungan penurunan jumlah sel hasil inkubasi suhu 370C lebih besar dibanding inkubasi suhu 420C (Gbr. 3).
Pada Lb. bulgaricus suhu dan lama inkubasi menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (α=1%) terhadap ketahanan panas bakteri. Penurunan jumlah sel yang diinkubasi  suhu 370C lebih besar dari pada 420C, demikian juga dengan lama inkubasi 14 dan 16 jam penurunan jumlah sel lebih besar dibanding  inkubasi 18 jam. Pada lama inkubasi 16 dan 18 jam, suhu inkubasi tidak berbeda nyata terhadap ketahanan panas Lb. bulgaricus,  tetapi terlihat kecenderungan penurunan jumlah sel hasil inkubasi suhu 370C lebih besar dibanding inkubasi suhu 420C (Gbr.4).

Gbr.3. Penurunan log Σ sel S. thermophilus akibat pemanasanGbr. 4. Penurunan log Σ sel Lb. bulgaricus akibat pemanasan

Pengaruh suhu dan lama inkubasi terhadap komposisi asam lemak membran.

Pengaruh suhu inkubasi terhadap komposisi asam lemak membran bakteri tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Persentase relatif asam lemak S. thermophilus dan Lb. bulgaricus berdasarkan suhu inkubasi.

Tabel 1. Persentase relatif asam lemak S. thermophilus dan Lb. bulgaricus berdasarkanTabel 1. Persentase relatif asam lemak S. thermophilus dan Lb. bulgaricus berdasarkan suhu inkubasi.

Total asam lemak jenuh (SFA), total asam lemak tidak jenuh (USFA) dan asam lemak siklik (CFA) digunakan untuk melihat perbedaan komposisi diantara asam lemak membran dari masing-masing bakteri yang ditumbuhkan pada kondisi berbeda. S. thermophilus ditumbuhkan sampai akhir fase log/awal stasioner (lama inkubasi 8 jam) dan Lb. bulgaricus ditumbuhkan sampai fase stasioner (lama inkubasi 18 jam) pada suhu 37 dan 420C. S. thermophilus yang ditumbuhkan pada 420C menunjukkan meningkatnya total asam lemak jenuh (dari 42,53% menjadi 44,42%), menurunnya total asam lemak tidak jenuh (dari 30,20% menjadi 28,39%) dan asam lemak siklik (dari 8,83 menjadi 7,71%) dibanding sel yang diinkubasikan pada suhu 370C, demikian juga pada Lb. bulgaricus dimana sel yang diinkubasi pada 420C menunjukkan meningkatnya total asam lemak jenuh (dari 12,90% menjadi 17,39%) dan asam lemak siklik (dari 13,84% menjadi 15,57%) serta menurunnya total asam lemak tidak jenuh (dari 65,09% menjadi 60,12%) dibanding sel yang diinkubasi pada suhu 370C.

PEMBAHASAN

Lebih kecilnya penurunan jumlah sel pada sel yang diinkubasi suhu 420C dibanding 370C menunjukkan bahwa suhu fermentasi yang lebih tinggi dapat memperbaiki resistensi seluler terhadap panas. Resistensi seluler antara lain berkaitan dengan perubahan komposisi asam lemak membran yang merupakan fenomena adaptasi homeostasis (Sinensky, 1974). Suhu inkubasi mempengaruhi konsentrasi asam lemak membran dari kedua bakteri. S. thermophilus dan Lb. bulgaricus yang diinkubasi suhu 420C menunjukkan profil asam lemak yang sama dengan sel yang diinkubasi 370C dengan sedikit meningkatnya SFA. Peningkatan SFA (menurunnya rasio U/S) mengakibatkan menurunnya fluiditas membran dalam merespon meningkatnya suhu pertumbuhan, sehingga dapat meningkatkan ketahanan bakteri terhadap panas, hal ini juga dibuktikan oleh Rowan dan Anderson (1998) pada Listeria monocytogenes dan Annous et al. (1999) pada Pediococcus sp. Strain NRRL B-2354.
Lama inkubasi berpengaruh nyata terhadap ketahanan panas bakteri dimana pada S. thermophilus yang dipanen pada akhir fase log /awal stasioner penurunan jumlah sel lebih kecil dari pada yang dipanen pada fase stasioner. Hal ini didukung oleh Cronan (1968) dalam Zambrano dan Kolter (1995) yang menyatakan bahwa permulaan stasioner juga merupakan pemicu terjadinya perubahan pada komposisi asam lemak membran, sedangkan menurut Mäyrä-Mäkinen dan Bigret (1998) lactococci sebaiknya dipanen pada akhir fase log dan akan kehilangan aktivitasnya apabila umur panen ditunda sampai fase stasioner. Pada Lb. bulgaricus yang dipanen pada fase stasioner penurunan jumlah sel akibat pemanasan lebih kecil dibanding sel dari fase log. Menurut Annous et al. (1999) ; Suutari dan Laakso 1992 dalam Beal et al. (2001) dengan bertambahnya lama inkubasi terjadi perubahan komposisi asam lemak membran, asam oleat yang terbentuk pada fase log sebagian berubah menjadi asam dihidrosterkulat begitu sel memasuki fase stasioner. Sifat dari asam dihidrosterkulat kurang dapat berotasi bebas dibanding asam lemak tidak jenuh sehingga meningkatkan rigiditas membran sitoplasma (Dufoure et al.,1984 dalam Annous et al., 1999) dan akhirnya meningkatkan resistensi sel terhadap panas.

Kesimpulan
Meningkatnya resistensi terhadap panas pada S. thermophilus berkaitan dengan meningkatnya kandungan SFA dan menurunnya USFA, sedang pada L. bulgaricus berkaitan dengan meningkatnya SFA dan CFA serta menurunnya USFA.
Adaptasi sel S. thermophilus dan L. bulgaricus pada suhu 420C dapat meningkatkan resistensi sel terhadap panas.
Untuk proses pengeringan sel S. thermophilus dapat ditumbuhkan pada suhu 420C selama 8 jam sedangkan L. bulgaricus setelah 18 jam.

Daftar Pustaka

Annous, B.A., M.F. Kozempel and M.J. Kurantz. 1999. Changes in Membrane Fatty Acid Composition of Pediococcus sp. Strain NRRL B-2354 in Response to Growth Conditions and Its Effect on Thermal Resistance. Applied and Environmental Microbiology. 65 (7): 2857-2962

Atlas, R.M.1997. Principles of Microbiology. 2ndEd. Univ.of Louisville.Louisville

Beal, C., F. Fonseca. and G. Corrleu. 2001. Resistance to Freezing and Frozen Storage of S.  thermophilus is Related to Membrane Fatty Acid Composition. J. Dairy Sci., 84: 2347-2356

Broadbent, J.R., C.J. Oberg, H. Wang dan L. Wei. 1997. Attributes of The Heat Shock Response in Three Species of Dairy Lactobacillus. Syst.Appl.Microbiol., 20:12-19.

Corcoran, B.M., R.P. Ross, G. Fitzgerald dan C. Stanton. 2004. Effect of Growth Phase and Use of Prebiotics for Spray Drying of Probiotic Lactobacilli. In : Ahonen R. The Food, GI-tract Functionality and Human Health Cluster. VTT Biotechnology, Finland.

Dave, R.I. and N.P. Shah. 1996. Evaluation of Media for Selective Enumeration of Streptococcus thermophilus, Lactobacillus delbrueckii ssp. Bulgaricus, Lactobacillus acidophilus and Bifidobacteria. J. Dairy Sci. 79: 1529-1536

De Angelis, M., L. Bini, V. Pallini, P.S. Conconseli dan M. Gobbeti. 2001. The acid-stress response in Lactobacillus san fransciscessis CB1 Microbiology, 147: 1863-1873.

Desmond, C., C. Stanton, G.F. Fitzgerald, K. Collins dan R. Ross. 2002. Environmental Adaptation of Probiotic Lactobacilli Towards Improvement of Performance During Spray Drying. Int. Dairy J., 12:183-190.

Fonseca, F., C. Beal, F. Mihoub, M. Marin dan G.Corrieu. 2003. Improvement of Cryopreservation of Lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus CFL1 with Additives Displaying Different Protective Effects. Int.J. Food Microbiol., 87:1-8.

Guerzoni, M.E., R. Lanciotti and P.S. Cocconcelli. 2001. Alteration in Cellular Fatty Acid Composition as a Response to Salt, Acid, Oxidative and Thermal Stresses in Lactobacillus helveticus. Microbiology, 147: 2255-2264

Harrigan, W.F. 1998. Laboratory Methods in Food Microbiology. Academic Press Limited, London.

Hazeleger, W.C., Janse, J.D., Koenraad, P.M.F.J., Beumer, R.R., Rombouts, F.M. and Abee, T., 1995. Temperature-dependent Membrane Fatty Acid and Physiology Changes in Cocoid Forms of Campylobacter jejuni. Applied and Environmental Microbiology, 61 7:2713-2719.

Joji, O., T. Goto. and S. Okonogi. 1992. Metabolism and Propagation Rates in LacticAcid Bacteria In : Nakazawa Y. and A. Hosono. Functions of Fermented Milk. Elsevier Applied Scie Published., London. P:165-190.

Kankaanpää, P., B. Yang, H. Kallio, E. Isolauri and S. Salminen. 2004. Effects of Polyunsaturated Fatty Acids in Growth Medium on Lipid Composition and on Physicochemical Surface Properties of Lacctobacilli. Applied and Environmental Microbiology, 70. (1) :  129-136

Mäyrä, M.A and M. Bigret. 1998. Industrial Use and Production of Lactic Acid Bacteria. In: Salminen S. Lactic Acid Bacteria. Microbiology and Functional Aspects. Second Ed. Revised and Expanded. Marcel Dekker. New York

Maus, J.E., and S.C. Ingham. 2003. Employment of stressful conditions during culture production to enhance subsequent cold and acid tolerance of bifidobacteria. J. Appl. Microbiol., 95:146-154

Ray, B. 1996. Fundamental Food Microbiology. CRC Press. New York.

Rees, C.E.D., Dodd, C.E.R., Gibson, P.T. Booth and G.S.A.B. Steward. 1995. The significance of bacteria in stationary phase to food microbiology. International J. of Food Microbiol., 28:263-275.

Rowan, N.J., and J.G. Anderson. 1998. Effect Above-Optimum Growth Temperature and Cell Morphology on Thermotolerance of Listeria monocytogenes Cells Suspended in Bovine Milk. Appl. Environ. Microbiol., 64, (6): 2065-2071.

Russel, N.J., Evans, R.I., ter Steeg, P.F., Hellemons, J., Verheul, A. and Abee, T., 1995. Membranes as a Target For Stress Adaotation. International Journal Of Food Microbiology, 28:255-261.

Sinensky, M., 1974. Homeoviscous Adaptation: a Homeostatic Process that Regulates The Viscosity of Membrane Lipids in Escherichia coli. Proc Natl Acad Sci USA. 71:522-525.

Suutari, M., and S. Laakso. 1992. Temperature adaptation in Lactobacillus fermentum: Interconversion of oleic, vaccenic and dihydrosterculic acids. J. Gen.  Microbiol., 138:445-450.

Swanson, K.M.J., F.F. Busta., E.H. Peterson and M.G. Johnson. 1992. Colony Count Methods. In : C. Vanderzant (Ed) Compendium of Methods for The Microbiological Examination of Foods. American Public Health Association.

Tamime, A.Y. 1985 Microbiology of Starter Cultures. In: Robinson R.K. Dairy Microbiology. Volume 2. The Microbiology of Milk Product. Elsevier Applied Science Publishers. London

To, C.S.B., dan M.R. Etzel. 1997. Spray drying, freeze drying or freezing of three different lactic acid bacteria species. J. Food Sci., 62:576-578, 585.

Zambrano, M.M and R. Kolter. 1995. Changes in Bacterial Cell Properties in Going from Exponential Growth to Stationary Phase. In : M.R.W. Brown (Ed) Microbiological Quality Assurance. A Guide Toward Relevance and Reproducibility of Inoculum. CRC Press LLC. New York.

Share This Post: