Labelisasi Pangan Hasil Ternak pada Kemasan

Share This Post:

Labelisasi Pangan Hasil Ternak pada Kemasan

label-makanan

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: Hk 00.05.55.6497 Tentang Bahan Kemasan Pangan menjelaskan bahwa kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/atau membungkus pangan baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. Pengertian pangan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indoneasia Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label Pangan dan Iklan Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman. Sesuai PP No. 69 tahun 1999, setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan Label Pangan pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan. Label Pangan diartikan setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan. Pencantuman Label Pangan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kemasannya, tidak mudah luntur atau rusak, serta terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah untuk dilihat dan dibaca. Label Pangan berisikan keterangan mengenai pangan sekurang-kurangnya :

  1. nama produk;
  2. daftar bahan yang digunakan;
  3. berat bersih atau isi bersih;
  4. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia; dan
  5. tanggal, bulan dan tahun kedaluwarsa.

Bagian utama Label Pangan sekurang-kurangnya memuat :

  1. nama produk;
  2. berat bersih atau isi bersih; dan
  3. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan atau mengedarkan pangan ke dalam wilayah Indonesia.

Ketiga bagian utama Label Pangan tersebut harus tertulis dengan teratur, tidak berdesak-desakan, jelas dan dapat mudah dibaca serta harus ditempatkan pada sisi kemasan pangan yang paling mudah dilihat, diamati dan atau dibaca oleh masyarakat pada umumnya.

Keterangan pada Label Pangan, ditulis atau dicetak dengan menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf Latin. Penggunaan bahasa, angka dan huruf selain bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf Latin diperbolehkan sepanjang tidak ada padanannya atau tidak dapat diciptakan padanannya, atau dalam rangka perdagangan pangan keluar negeri. Huruf dan angka yang tercantum pada Label Pangan harus jelas dan mudah dibaca.

Nama produk pangan harus menunjukkan sifat dan atau keadaan yang sebenarnya. Keterangan tentang bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan dicantumkan pada Label Pangan sebagai daftar bahan secara berurutan dimulai dari bagian yang terbanyak, kecuali vitamin, mineral dan zat penambah gizi lainnya. Nama yang digunakan bagi bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan adalah nama yang lazim digunakan. Air yang ditambahkan harus dicantumkan sebagai komposisi pangan, kecuali apabila air itu merupakan bagian dari bahan yang digunakan. Air atau bahan pada pangan yang mengalami penguapan seluruhnya selama proses pengolahan pangan, tidak perlu dicantumkan.

Label Pangan harus mencantumkan pernyataan bahwa pangan telah ditambah, diperkaya atau difortifikasi dengan vitamin, mineral, atau zat penambah gizi lain tidak dilarang, sepanjang hal tersebut benar dilakukan pada saat pengolahan pangan tersebut, dan tidak menyesatkan. Pangan yang mengandung Bahan Tambahan Pangan, pada Label Pangan wajib dicantumkan golongan Bahan Tambahan Pangan.

Berat bersih atau isi bersih harus dicantumkan dalam satuan metrik :

  1. dengan ukuran isi untuk makanan cair;
  2. dengan ukuran ukuran berat untuk makanan padat;
  3. dengan ukuran isi atau berat untuk makanan semi padat atau kental.

Pencantuman tanggal, bulan dan tahun kedaluwarsa dilakukan setelah pencantuman tulisan “Baik Digunakan Sebelum”, sesuai dengan jenis dan daya tahan pangan yang bersangkutan. Produk pangan yang kedaluwarsanya lebih dari 3 (tiga) bulan, diperbolehkan untuk hanya mencantumkan bulan dan tahun kedaluwarsa saja. Pangan yang sudah melampaui tanggal, bulan dan tahun kedaluwarsa sebagaimana dicantumkan pada Label Pangan dilarang diperdagangkan.

Dalam rangka peredaran pangan, bagi pangan olahan yang wajib didaftarkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik produksi dalam negeri maupun yang dimasukkan kedalam wilayah Indonesia, pada Label Pangan olahan yang bersangkutan harus dicantumkan Nomor Pendaftaran Pangan. Kode produksi pangan olahan wajib dicantumkan pada Label Pangan, wadah atau kemasan pangan, dan terletak pada bagian yang mudah untuk dilihat dan dibaca. Kode produksi, sekurang-kurangnya dapat memberikan penjelasan mengenai riwayat produksi pangan yang bersangkutan.

Pencantuman keterangan tentang kandungan gizi pangan pada Label Pangan wajib dilakukan bagi pangan yang disertai pernyataan bahwa pangan mengandung vitamin, mineral, dan atau zat gizi lainnya yang ditambahkan. Keterangan tentang kandungan gizi pangan dicantumkan dengan urutan :

  1. Jumlah keseluruhan energi, dengan perincian berdasarkan jumlah energi yang berasal dari lemak, protein dan karbohidrat.
  2. Jumlah keseluruhan lemak, lemak jenuh, kolesterol, jumlah keseluruhan karbohidrat, serat, gula, protein, vitamin, dan mineral.

Setiap orang dilarang mencantumkan pada Label tentang nama, logo atau identitas lembaga yang melakukan analisis tentang produk pangan tersebut. Jika pelabelan kandungan gizi digunakan pada suatu pangan, maka pada Label Pangan untuk pangan tersebut wajib memuat hal-hal berikut :

  1. ukuran takaran saji;
  2. jumlah sajian per kemasan;
  3. kandungan energi per takaran saji;
  4. kandungan protein per sajian (dalam gram);
  5. kandungan karbohidrat per sajian (dalam gram)
  6. kandungan lemak per sajian (dalam gram)
  7. persentase dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan.

Keterangan pada Label Pangan tentang pangan olahan yang diperuntukkan bagi bayi, anak berumur dibawah lima tahun, ibu yang sedang hamil atau menyusui, orang yang menjalani diet khusus, orang lanjut usia, dan orang yang berpenyakit tertentu, wajib memuat keterangan tentang peruntukan, cara penggunaan, dan atau keterangan lain yang perlu diketahui, termasuk mengenai dampak pangan tersebut terhadap kesehatan manusia. Dalam hal mutu suatu pangan tergantung pada cara penyimpanan atau memerlukan cara penyimpanan khusus, maka petunjuk tentang cara penyimpanan harus dicantumkan pada Label Pangan.

Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dan menyatakan bahwa pangan tersebut halal bagi umat Islam, bertanggungjawab atas kebenaran pernyataan tersebut dan wajib mencantumkan keterangan atau tulisan halal pada Label. Untuk mendukung kebenaran pernyataan halal, setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan, wajib memeriksakan terlebih dahulu pangan tersebut pada lembaga pemeriksa yang telah diakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan pedoman dan tata cara yang ditetapkan oleh Menteri Agama dengan memperhatikan pertimbangan dan saran lembaga keagamaan yang memiliki kompetensi dibidang tersebut.

Sumber:

  1. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: Hk 00.05.55.6497 Tentang Bahan Kemasan Pangan
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indoneasia Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label Pangan dan Iklan Pangan
  3. Peraturan Menteri Perindustrian RI No. 24 Tahun 2010 tentang Pencantuman Logo Tara Pangan dan Kode Daur Ulang pada Kemasan Pangan dari Plastik
    Oleh: Eko Saputro, S. Pt,  Widyaiswara Pertama BBPP Batu


Share This Post: