Mengenal Docosa Hexaenoic Acids dan Arachidonic Acids (DHA dan AA) Oleh:

                 DHA dan AA adalah dua komponen utama dari long-chain polyunsaturated fatty acids (LC-PUFA). Keduanya berperan sangat penting bagi organ susunan syaraf pusat. DHA dan AA harus ditambahkan pada makanan, khususnya pada menu ibu hamil, ibu menyusui, atau bayi yang masih berumur dibawah 2 tahun. Hal ini disebabkan karena konsentrasi LC-PUFA pada janin sangat tergantung pada konsumsi LC-PUFA dari ibunya (Hornstra, 2000). Rendahnya kadar PUFA dalam plasma berakibat pada rendahnya kadar PUFA pada bayi yang baru lahir (Farquharson et al., 1992).

                Polyunsaturated fatty acids (PUFA) dan monounsaturated fatty acids (MUFA) adalah dua kelompok besar dari asam lemak tidak jenuh. PUFA dikelompokkan berdasarkan ikatan rangkap pada ikatan karbon dari gugus omega, yaitu Omega-3, Omega-6, Omega-7 dan   Omega-9. Omega-7 dan 9 adalah asam lemak non esensial (dapat disintesis dalam tubuh). Omega-3 dan 6 adalah asam lemak esensial atau harus didapatkan dari luar tubuh (Widodo, 2003).

                DHA adalah contoh asam lemak kelompok Omega-3. Linoleic acids (LA) adalah contoh Omega-6. Asam palmitoleat adalah contoh Omega-7. Asam oleat adalah contoh Omega-9. Menurut Widodo (2003), suplementasi DHA pada susu formula lebih dari 0,35% secara signifikan mampu mempengaruhi fungsi penglihatan. DHA pada tubuh terakumulasi pada otak, retina, hati, usus, testis dan   jaringan adiposa.

                DHA sebenarnya bukan asam lemak esensial karena dapat dibentuk dari asam lemak lainnya. Proses sintesis DHA dan AA difasilitasi oleh enzim denaturase dan elongase. Aktivasi kedua enzim tersebut masih sangat kurang pada bayi prematur bahkan bayi sampai usia 4-6 bulan sehingga sangat dianjurkan dilakukan penambahan DHA dan AA pada makanan bayi (Widodo, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A., R.A. Edwards, W.R. Day, G.H. Fleet dan M Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Terjemahan: H. Purnomo dan Adiono. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

deMan, J.M. 1997. Kimia Makanan. Terjemahan: K. Padmawinata. Edisi ke-2. Penerbit Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bhratara Karya Aksara, Jakarta.

Farquharson, J., F. Cocburn, W.A. Patrick, E.C. Jarnieson, and R.W. Logan. 1992. Infant cerebral cortex phospholipid fatty acids composition and diet. Lancet. 340:810-813.

Hornstra, G. 2000. Essentials fatty acids in mothers and theirneonates. Am. J. Clin. Nutr. 71:1262s-1269s.

Ketaren, S. 2005. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Syarief, R. dan A. Irawati. 1988. Pengetahuan Bahan untuk Industri Pertanian. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.

Wibowo, A. dan D. Wijayanto. 2007. Short Review Free Fat dan White Fleck (Curd). Research and Development Department PT Sari Husada, Yogyakarta.

Winarno, F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Winarno, F.G. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Wirakartakusumah, M.A., K. Abdullah, dan A.M. Syarif. 1992. Sifat Fisik Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian  Bogor, Bogor.

Oleh : Eko Saputro, S. Pt
(Widyaiswara Pertama BBPP Batu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *