Madu dan Kandungan Gizinya

Madu dan Kandungan Gizinya

 

Menurut Codex Standard for Honey (1981), madu merupakan pemanis alami yang dihasilkan oleh lebah madu dari nektar bunga yang sedang mekar atau dari sekresi bagian tanaman selain bunga atau sekresi bagian tanaman selain bunga yang diisap oleh serangga, yang dikumpulkan lebah, diubah dan dicampur dengan zat-zat tertentu dari tubuh lebah sendiri, disimpan dan dibiarkan dalam sisiran madu hingga matang. Madu adalah bahan yang rasanya manis yang dihasilkan oleh lebah madu (Apis mellifera) dan berasal dari sari bunga atau dari cairan yang berasal dari bagian-bagian tanaman hidup yang dikumpulkan, diubah dan diikat dengan senyawa-senyawa tertentu oleh lebah dan disimpan dalam sarangnya.

Komponen-komponen Madu

                    Menurut Codex Standard for Honey (1981), komponen utama madu adalah glukosa dan fruktosa. Senyawa-senyawa lain yang terkandung dalam madu ialah protein, asam amino, enzim, asam-asam organik, mineral, tepung sari bunga, sukrosa, maltosa, melezitosa dan   oligosakarida lainnya termasuk dekstrin. Warna madu bervariasi dari hampir tidak berwarna sampai coklat gelap. Konsistensinya dapat encer, kental, atau berkristal. Citarasa dan aromanya berbeda-beda, tergantung dari sumber asalnya, tetapi tidak mengandung bahan-bahan tambahan. Sihombing (1997) menyatakan, bahwa madu yang sudah matang kadar airnya rendah dan kandungan fruktosa (gula buah) tinggi. Kandungan air yang rendah akan menjaga madu dari kerusakan untuk jangka waktu relatif lama.

Komposisi Madu

                    Rataan komposisi madu di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1. Persentase gula dalam madu berkisar antara 95-99% dari bahan kering madu. Sebagian besar dari gula dalam madu adalah gula sederhana fruktosa dan galaktosa yang mencapai 85-95% dari total gula. Persentase yang besar dari gula sederhana ini berpengaruh terhadap karakteristik sifat fisik dan nutrisi madu. Kadar air dalam madu mempengaruhi umur simpan madu, hanya madu dengan kandungan air kurang dari 18% yang dapat disimpan dengan sedikit resiko terhadap fermentasi. Asam organik dalam madu mempengaruhi keasaman dan karakteristik rasa madu. Mineral dalam madu terdapat dalam jumlah yang sedikit. Senyawa nitrogen termasuk enzim berperan penting dalam pembentukan madu. Enzim-enzim utama dalam madu adalah invertase, diastase dan   glukosa oksidase. Hidroksimetilfulfural (HMF) merupakan hasil sampingan dari kerusakan fruktosa. Keberadaan HMF menjadi indikator kerusakan madu (Krell, 1996).

Tabel 1. Persentase Rataan Komposisi Madu di Indonesia


Keterangan: * = tidak dianalisis
Sumber: Achmadi, 1991

Manfaat Madu

Menurut Saragih et al. (1981), pemberian madu pada anak-anak dapat meningkatkan kadar haemoglobin. Sebagai perbandingan anak yang tidak diberi madu kandungan haemoglobinnya hanya naik 4% selama 40 hari sedangkan yang mengkonsumsi madu di samping makanan yang normal, kandungan haemoglobin naik 23% pada waktu yang sama. Madu bagi menu bayi sangat baik terutama bila dicampur dengan susu. Hal ini mungkin disebabkan madu banyak mengandung besi, sementara susu ibu dan susu sapi hanya mengandung sedikit saja. Madu dengan kadar gula dan levulosanya yang tinggi mudah diserap oleh usus bersama zat-zat organik lain sehingga dapat bertindak sebagai stimulan bagi pencernaan dan memperbaiki nafsu makan. Peranan madu bagi anak-anak yang sedang tumbuh sangat penting karena di dalam madu terdapat asam folat, yaitu suatu asam yang banyak pengaruhnya terhadap makhluk yang sedang tumbuh. Asam folat dapat memperbaiki susunan darah, jumlah eritrosit meningkat dan kandungan haemoglobin.

Menurut Saragih et al. (1981), sejak zaman dulu madu telah digunakan sebagai obat masuk angin, tidak saj dalam bentuk madu tanpa campuran maupun campuran dengan bahan lain, misalnya dengan kombinasi susu hangat atau dengan lemon juice (jus lemon). Berbagai literatur menunjukkan, bahwa madu ternyata dapat membantu pencernaan, mungkin hal ini disebabkan kandungan madu akan Mn dan Fe yang dapat membantu proses pencernaan dan penyerapan bahan pangan. Madu telah dicoba untuk pengobatan radang usus kecil serta lambung dan memberikan hasil yang baik, terbukti madu dapat membantu mengurangi derajat keasaman dan membantu mencegah terjadinya pendarahan lambung.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, S. 1991. Analisis kimia produk lebah madu dan pelatihan staf laboratorium pusat perlebahan nasional Parung Panjang. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Buckle, K.A., R.A. Edwards, W.R. Day, G.H. Fleet dan M Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Terjemahan: H. Purnomo dan Adiono. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Codex Alimentarius Commission. 1981. Codex European Regional Standard for Honey.

deMan, J.M. 1997. Kimia Makanan. Terjemahan: K. Padmawinata. Edisi ke-2. Penerbit Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bhratara Karya Aksara, Jakarta.

Krell, R. 1996. Value-added Products from Beekeeping. Food and Agriculture of Organization Agriculture Services Bulletin 124, Rome.

Rais, H.A. 1996. Madu Lebah Obat yang Menyembuhkan. Media Da’wah, Jakarta.

Saragih, Y.P., I.L. Ikram, dan N.N. Effendi. 1981. Madu, Teknologi, Khasiat, dan Analisa. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Sihombing, D. T. H 1997. Ilmu Ternak Lebah Madu. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Syarief, R. dan A. Irawati. 1988. Pengetahuan Bahan untuk Industri Pertanian. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.

Winarno, F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Winarno, F.G. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Wirakartakusumah, M.A., K. Abdullah, dan A.M. Syarif. 1992. Sifat Fisik Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Oleh:
Eko Saputro, S. Pt
(Widyaiswara Pertama BBPP Batu)

 

 

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550   M70-101   LX0-104   EX300   70-411   640-911   CAS-002   350-001   JN0-102   9A0-385   70-462   70-178   CISM   3002   220-902   SSCP   c2010-657   300-206   70-246   AWS-SYSOPS   70-534   640-916   ADM-201   LX0-103   74-678   210-065   300-115   642-732   1Z0-060   352-001   1Z0-061   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093