KAJIAN KOMPETENSI PELATIH DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERCIPTANYA SUASANA PELATIHAN DI DALAM KELAS DIKLAT KESEHATAN HEWAN BAGI PENYULUH/PETUGAS

KAJIAN KOMPETENSI PELATIH DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERCIPTANYA SUASANA PELATIHAN DI DALAM KELAS DIKLAT KESEHATAN HEWAN BAGI PENYULUH/PETUGAS

 

Oleh : Elisabeth Dudung (Widyaiswara Balai Latihan Pertanian Papua)

Kajian Kompetensi Pelatih dan Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Terciptanya Suasana Pelatihan Di dalam Kelas Diklat Kesehatan Hewan Bagi Penyuluh/Petugas bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi pelatih  pada diklat kesehatan hewan, mengetahui kondisi asrama, kelas dan ruang makan pada diklat kesehatan hewan, mengetahui perlengkapan dan fasilitas pelatihan, mengetahui suasana/atmosfir di dalam kelas dan mengetahui hubungan antara kompetensi pelatih, asrama, kelas dengan suasana/atmosfir di dalam kelas pada diklat kesehatan hewan. Pengkajian dilakukan di Balai Latihan Pertanian Papua pada diklat Kesehatan Hewan secara studi kasus terhadap peserta diklat sebanyak 30 orang peserta diklat yang sedang berlangsung pada bulan Mei 2013  pengumpulan data dilakukan diakhir diklat dengan menggunakan kuesione. Variabel yang diamati terdiri dari: Kompetensi Pelatih, Asrama, Kelas, Ruang Makan, Perlengkapan dan Fasilitas Pelatihan terhadap Suasana (atmosfir) dalam Kelas dalam Proses Latih Berlatih untuk mengetahui hubungan antara variabel yang diteliti menggunakan analisis “Korelasi Pearson” menggunakan statistik Product and Solution Service/SPSS. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kompetensi pelatih mempunyai hubungan yang positif tetapi tidak nyata (lemah) dengan suasana/atmosfir  di dalam kelas pada diklat kesehatan hewan, asrama, kelas dan ruang makan mempunyai hubungan yang positif tetapi tidak nyata (lemah) dengan suasana/atmosfir di dalam kelas pada diklat kesehatan hewan, perlengkapan dan fasilitas pelatihan mempunyai hubungan positif tetapi tidak nyata (lemah dengan suasana/atmosfir di dalam kelas diklat kesehatan hewan bagi penyuluh/petugas.

PENDAHULUAN

Sumberdaya manusia pertanian, khususnya seluruh jajaran aparatur yang mempunyai tugas dan tanggung jawab meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian maka jalur yang harus ditempuh dapat melalui pendidikan formal maupun non formal (diklat), karena dengan melalui jalur diklat diharapkan kompetensi aparatur khususnya penyuluh/petugas pertanian yang berhadapan langsung dengan masyarakat dapat meningkat pengetahuan, keterampilan dan sikapnya dalam mengembangkan tugas tersebut.
Peran Pemerintah dalam hal ini Balai Latihan Pertanian Papua trus meningkatkan kualitasnya dalam pelaksanaan diklat untuk mendidik, melatih aparatur, khususnya aparatur pertanian (Penyuluh/petugas pertanian) agar para penyuluh/petugas kompetensinya meningkat. Diklat Pertanian papua adalah satu-satunya diklat pertanian yang ada di Provinsi Papua berlokasi di Sentani walaupun kondisinya sudah semakin baik, hingga sampai saat ini penelitian tentang kegiatan berlatih-melatih belum dilakukan hingga ini sangat menarik dan penting untuk diteliti yang merupakan bahan masukan bagi Balai dalam strategi pelaksanaan diklat.
Ada berbagai masalah yang dihadapi di dalam setiap kegiatan penyelenggara diklat antara lin masalah penyususnan kurikulum diklat yang sesuai dengan kompetensi kerja, masalah peningkatan mutu diklat, masalah sistem informasi diklat, masalah pembiayaan diklat, masalah fasilitas berlatih-melatih, masalah bimbingan lanjutan bagi alumni diklat dan sebagainya.
Mengingat banyaknya permasalahan tersebut di atas dan terbatasnya sumberdaya, maka masalah ini terbatas pada kompetensi pelatih, fasilitas berlatih hubungannya dengan suasana/atmosfir di dalam kelas pada saat proses berlatih-melatih. Oleh karena itu untuk mengetahui lebih jauh tentang hal tersebut perlu ditelaah berbagai permasalahan sebagai berikut:
1.    Bagaimana tingkat kompetensi  pelatih pada diklat kesehatan hewan
2.    Bagaimana kondisi asrama, kelas dan ruang makan pada diklat kesehatan hewan
3.    Bagaimana perlengkapan dan fasilitas pelatihan pada diklat kesehatan hewan
4.    Bagaimana suasana/atmosfir di dalam kelas pada diklat kesehatan hewan
5.    Bagaimana hubungan kompetensi pelatih, asrama, kelas dan ruang makan serta perlengkapan dan fasilitas pelatihan dengan suasana/atmosfir di dalam kelas

KERANGKA BERPIKIR                                                                                                                                                                                                              
Hipotesa
Hipotesa yang dapat dirumuskan dalam penelitian/pengkajian ini adalah:
1)    Ada hubungan antara kompetensi pelatih dengan penciptaan suasana/atmosfir berlatih-melatih di kelas diklat kesehatan hewan
2)    Ada hubungan antara asrama, kelas dan ruang makan dengan penciptaan suasana berlatih-melatih di kelas diklat kesehatan hewan
3)    Ada hubungan perlengkapan dan fasilitas pelatihan dengan penciptaan suasana berlatih-melatih di kelas kesehatan hewan

METODOLOGI PENELITIAN

1.    Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di Balai Latihan Pertanian Sentani  sewaktu pelaksanaan Diklat  Kesehatan Hewan Bagi Penyuluh/Petugas Pertanian, penelitian tersebut dilaksanakan diakhir diklat terhadap 30 orang peserta yang  hadir dalam pelatihan tersebut.
2.    Metode Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara menggunakan kuesioner. Kuesioner yang digunakan antara lain untuk mengumpulkan data tentang: 1) kompetensi pelatih, 2) asrama, kelas dan ruang makan, 3) perlengkapan dan fasilitas pelatihan, 3) suasana/atmosfir di dalam kelas. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder.
3.    Metode Pengumpulan Sampel
Penelitian ini dilaksanakan dengan cara sensus yaitu melibatkan seluruh peserta diklat kesehatan hewan sebanyak 30 orang
4.    Metode Pengolahan dan Analisa  Data
Mula-mula data dikumpulkan kemudian dilakukan: 1) kodding dan tabulasi data, 2) editing data, 3) interprestasi data. Sedangkan untuk mengetahui hubungan antara variabel yang diteliti adalah dengan analisis “Korelasi Person” menggunakan statistik Product and Solution Service/SPSS.
                 SP
                  r  =
                        SSx.Ssy

Keterangan:
SP      = sum of product
SSx    = sumsquare dari X
Ssy    = sumsquare dari Y

HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk mengetahui analisa hubungan variabel penelitian (kompetensi pelatih, asrama, kelas dan ruang makan, perlengkapan dan fasilitas asrama dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas dapat dilihat pada tabel di bawah ini
Tabel.  Analisa  Hubungan  antara  Variabel  Penelitian  (Kompetensi  Pelatih, Asrama, Kelas
Dan Ruang Makan serta Perlengkapan dan Fasilitas Pelatihan) dengan Suasana/atmosfir Pelatihan di dalam kelas

1.    Kompetensi Pelatih dengan Suasana/Atmosfir Pelatihan di Dalam Kelas
Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai korelasi antara kompetensi pelatih dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas adalah 0,216 artinya bahwa kompetensi pelatih dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas mempunyai hubungan positif atau tidak berbeda nyata dengan suasana atmosfir pelatihan di dalam kelas. Hal ini juga didukung dengan angka sig (2 tailed) yang bernilai 0,375 angka tersebut ˃ 0,05 yang menunjukkan bahwa kompetensi pelatih dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas tidak berkorelasi. Semakin bagus kompetensi pelatih (13 kriteria penilaian) tercapai maka suasana dalam kelas akan semakin baik. Artinya apabila pelatih semakin berkompeten maka suasana/atmosfir di dalam kelas tercipta. Namun kenyataan bahwa akibat kurangnya kompetensi pelatih mengakibatkan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas kurang tercipta, hal ini disebabkan karena pelatih yang mengajar pada diklat kesehatan hewan sebagian besar (5 orang) tidak berstatus widyaiswara dan tidak menguasai metode dikjartih sehingga dalam proses latih-berlatih sistematika penyajian, relevansi materi dengan TIK, kualitas bahan diklat masih sangat kurang menyebabkan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas tidak tercipta.
2.    Asrama, Kelas dan Ruang makan
Nilai korelasi dari tabel di atas antara asrama, kelas dan ruang makan dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas adalah 0,192 artinya bahwa kompetensi pelatihan dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas mempunyai hubungan positif atau tidak berbeda nyata dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas. Hal ini didukung dengan angka sig (2 tailed) yang bernilai 0,413 angka tersebut ˃ 0,05 yang menunjukkan bahwa asrama, kelas dan ruang makan dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas tidak berkorelasi. Semakin bagus asrama, kelas dan ruang makan maka suasana pelatihan di dalam kelas semakin bagus. Artinya apabila asrama, kelas dan ruang makan tercukupi dengan baik maka suasana/atmosfir di dalam kelas pasti akan baik/tercipta. Namun kenyataan yang ada bahwa hal ini tidak sesuai dengan pernyataan di atas karena suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas yang ada kurang tercipta karena asrama, kelas dan ruang makan tidak memberikan kenyamanan bagi peserta, dari hasil daily mood yang dilaksanakan setiap hari peserta banyak mengeluhkan tentang air di asrama yang kurang lancar, WC yang tersumbat, kamar mandi kurang bersh, kebersihan lingkungan asrama yang kurang, perlengkapan utama di ruang makan, perlengkapan penunjang di runag makan kurang memadai, menu yang kurang bervariasi hal ini dirasa masih sangat kurang selama peserta mengikuti pelatihan, peserta yang mengikuti  pelatihan kesehan hewan sebagian besar peserta yang sudah senior dan sudah sering mengikuti diklat dan para peserta sudah sering mengutarakan bahkan mengusulkan setiap mengikuti diklat namun kurang mendapat perhatian dari pihak balai, sehingga menyebabkan keresahan bagi peserta mengakibatkan suasana belajarpun terganggu.
3.    Perlengkapan dan Fasilitas Pelatihan
Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai korelasi antara perlengkapan dan fasilitas pelatihan dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas adalah 0,027 artinya bahwa kompetensi pelatihan dengan dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas mempunyai hubungan positif atau tidak berbeda nyata dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas. Hal ini juga didukung dengan anga sig (2 tailed) yang bernilai 0,921 angka tersebut ˃ 0,05 yang menunjukkan bahwa asrama, kelas dan ruang makan dengan suasana/atmosfir pelatihan di dalam kelas tidak berkorelasi. Semakin bagus perlengkapan dan fasilitas pelatihan maka suasana pelatihan di dalam kelas semakin bagus. Artinya apabila perlengkapan dan fasilitas pelatihan baik (kualitas dan kuantitas), maka ketika proses latih-berlatih dilaksanakan seluruh peserta mendapatkan fasilitas (bahan dan alat) untuk praktek baik itu di kelas, lapangan dan laboratorium tercukupi maka dengan sendirinya suasana belajar akan bagus/tercipta. Namun kenyataan yang ada berdasarkan hasil daily mood peserta merasa kurang puas dengan ketersediaan bahan dan alat untuk praktek baik itu di kelas, terlebih di laboratorium karena peserta tidak dapat melakukan sendiri-sendiri tetapi secara berkelompok begitu pula di lapangan.

KESIMPULAN

1.    Kompetensi pelatih mempunyai hubungan yang positif tetapi tidak nyata (lemah) dengan suasana/atmosfir di dalam kelas pada Diklat Kesehatan Hewan Bagi Penyuluh/Petugas Pertanian
2.    Asrama, kelas dan ruang makan mempunyai hubungan yang positif tetapi tidak nyata (lemah) dengan suasana/atmosfir di dalam kelas pada Diklat Kesehatan Hewan Bagi Penyuluh/Petugas Pertanian
3.    Perlengkapan dan fasilitas pelatihan mempunyai hubungan positif tetapi tidak nyata (lemah) dengan suasana/atmosfir di dalam kelas Diklat Kesehatan Hewan Bagi Penyuluh/Petugas Pertanian

DAFTAR  PUSTAKA

Beebe, A.S., Materson TJ, 1982.  Communication  Small  Group, Princples dan Practise  Scot
            Foresman and Company. Printed in the USA. Illions

Lembaga Administrasi  Negara  Republik Indonesia, 2005. Pengaturan Bersama Kepala Lem-
            baga  Administrasi  Negara  dan  Kepala  badan Kepegawaian Negara Nomor 7 Tahun
            2005 dan Nomor 17 Tahun   2005 tentang   Petunjuk  Pelaksanaan Jabatan Fungsional
            Widyaiswara dan Angka Kreditnya LAN RI, Jakarta

Louisell, R, 1992. Developing A  Teaching  Style. Methods For Elementary School Teachers.
            Happer Collins, New York

Marsuki, S. 1996. Pembinaan Kelompok. Universitas Terbuka. Depdikbut, Jakarta

Soekandar, 1980. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. Bhinneka Cipta

Santoso, S, 2001. Buku Latihan SPSS Statistik Non Parametrik. PT Elex Media Komputindo,
             Jakarta

 

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550