INSEMINASI BUATAN DAN MANAJEMEN REPRODUKSI SAPI POTONG (Bagian 1)

INSEMINASI BUATAN DAN MANAJEMEN REPRODUKSI SAPI POTONG (Bagian 1)

 

INSEMINASI BUATAN DAN MANAJEMEN REPRODUKSI SAPI POTONG (Bagian 1)

Oleh : drh.Reni Indarwati

 

 Produktiftas ternak tergantung langsung maupun tidak langsung pada kemampuan reproduksinya. Ternak dengan kecepatan reproduksi tinggi, disertai seleksi yang baik dan perkawinannya, pasti akan meningkatkan produksi hasil ternaknya.

A.    Hormon Pengendali Siklus Birahi

Hormon pengendali siklus birahi adalah :

  1. Follicle stimulating Hormon (FSH) adalah hormon dari kelenjar pituitri (hipofisa) yang berfungsi merangsang pertumbuhan folikel ovarium
  2. Luteinzing Hormon (LH) adalah hormon hipofisa yang berfungsi mempengaruhi tenunan luteal dalam merangsang pertumbuhan atau pembentukan Corpus Luteum (CL) dan proses terjadinya ovulasi
  3. Luteotropic Hormon (LTH)
  4. Estrogen yang bertanggung jawab pada proses birahi
  5. Progesteron berfungsi mempertahankan kebuntingan

B.    Pubertas

Terdapat tiga tingkatan dalam perkembangan dan pendewasaan alat kelamin betina yaitu :

  1. Periode pendewasaan hipofisa pada umur 3 – 6 bulan
  2. Periode pendewasaan hipofisa pada umur 6 – 12 bulan
  3. Periode pendewasaan hipofisa pada umur 12 bulan lebih

Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pendewasaan alat kelamin, diantaranya bangsa sapi dan manajemen pemberian pakan.

Dalam kondisi pemberian pakan yang baik atau kondisi normal, pubertas pada sapi betina terjadi pada umur 5 – 15 bulan. Sapi Yersey mengalami pubertas pada umur 8 bulan, sapi Guernsey pada umur 11 bulan, sapi FH pada umur 11 bulan dan sapi Arshyre pada umur 13 bulan.

Bobot badan ideal untuk puberas berkisar 227 – 272 pada umur rata-rata 15 bulan. Berat badan dan atau besar tubuh lebih penting daripada umur, sebab sapi yang diberi pakan rendah dua kali lebih tua daripada umur yang dicapai oleh sapi dengan tingkatan yang tinggi.

C.    Deteksi birahi

Deteksi birahi pada sapi perah sangat penting agar sapi tersebut dapat dikawinkan (Inseminasi Buatan/IB) dengan tepat sehingga cepat bunting dan menghasilkan anak yang pada gilirannya akan memperoleh produksi yang optimal. Kegagalan deteksi birahi mengakibatkan kerugian waktu, tenaga, pakan dan biaya yang tidak sedikit.

Peternak atau petugas akan mudah melakukan deteksi apabila memahami tanda-tanda birahi sapi terjadi serta kebiasaan sapi tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu pola kegiatan rutin dalam melakukan deteksi birahi, antara lain :

  1. Deteksi birahi 3 kali sehari yaitu pada pagi hari saat melakukan pemerahan pagi, pada siang hari saat sapi dalam kondisi tenang/istirahat dan pada sore hari
  2. Waktu pengamatan birahi dilakukan sesuai dengan siklus birahi yaitu setiap hari ke 19 – 23 (rata-rata pada hari ke 21) setelah birahi sebelumnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bantuan kalender IB. jika terlihat tanda-tanda birahi, segera lapor kepada petugas/Inseminator agar sapi di IB.
  3. Petugas dapat melakukan palpasi rektal untuk mengetahui kondisi ovarium:

          palpasi rektal 2 hari setelah birahi atau setelah di IB untuk mengetahui keadaan ovulasi

          palpasi rektal pada hari ke 7-10 setelah birahi untuk mengetahui CL

          palpasi rektal 40-60 setelah IB untuk pemeriksaan kebuntingan

Angka kebuntingan tertinggi atau waktu IB terbaik antara 4-20 jam sejak awal birahi

 

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550   M70-101   LX0-104   EX300   70-411   640-911   CAS-002   350-001   JN0-102   9A0-385   70-462   70-178   CISM   3002   220-902   SSCP   c2010-657   300-206   70-246   AWS-SYSOPS   70-534   640-916   ADM-201   LX0-103   74-678   210-065   300-115   642-732   1Z0-060   352-001   1Z0-061   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093