Fantastik Warna

Fantastik Warna

 FANTASTIK WARNA DALAM MENDISAIN MEDIA PENYULUHAN PERTANIAN

OLEH: EKO FENDI BASKORO, SST

 

Penyuluh sebagai komunikator dalam sebuah kegiatan penyuluhan adalah orang yang tugasnya menyampaikan pesan, apakah itu pesan pembangunan pertanian secara umum ataupun pesan yang bersifat pribadi untuk mengubah perilaku {untuk meningkatkan pengetahuan (kognitif), merubah sikap, perilaku.(afektif), dan meningkatkan ketrampilan (psikomotorik) }. dari sasaran yang meliputi pelaku utama dan pelaku usaha.

Keberhasilan seorang penyuluh pertanian dalam menyampaikan materi penyuluhannya ditentukan banyak hal, salah satu diantaranya adalah penggunaan media yang efektif. Ada banyak jenis media penyuluhan yang terbukti cocok untuk penyuluhan perhatian.

Indikator keberhasilan dalam pemilihan media penyuluhan adalah penyuluh sangat nyaman dalam menyampaikan materi dan sasaran bisa menerima serta memahami materi yang disampaikan penyuluh secara jelas dan lengkap. Pemilihan media penyuluhan tergantung dari materi yang yang akan disampaikan dan kriteria sasaran yang akan disuluh.

Media penyuluhan pertanian sendiri adalah adalah suatu benda yang dikemas sedemikian rupa untuk memudahkan penyampaian materi kepada sasaran, agar sasaran dapat menyerap pesan dengan mudah dan jelas. Setiap media memiliki karakteristik yang berbeda pula. karena itu untuk setiap tujuan yang berbeda diperlukan media yang berbeda pula. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan kegiatan penyuluhan tadi sangat penting sebagai saluran, penyampai pesan.

Pada awalnya media hanya mencakup media yang menjadi konsumsi indra penglihatan (gambar diam, teks, gambar gerak slide, dan gambar gerak rekaan/animasi). Konsumsi indra pendengaran yang direspon melalui suara.

Dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Penyuluh Pertanian disebutkan bahwa unit kompetensi bagi level supervisor ini mencakup pengetahuan,   keterampilan dan sikap   kerja   Penyuluh   Pertanian   dalam   membuat   dan menggunakan media penyuluhan pertanian elektronik. Kaidah yang harus dipenuhi dalam pembuatan media elektronik meliputi; 1) isi pesan yang ingin disampaikan. 2) komposisi gambar/suara, 3) ilustrasi gambar/suara, 4) alur cerita. Dan 5) durasi. Standar teknis yang diharapkan untuk bisa dipenuhi diantaranya jenis program (untuk siaran Radio, TV), naskah (dalam bentuk sinopsis/skenario), dialog, Musik/artificial sound.

Dijelaskan juga dalam SKKNI penyuluhan pertanian bahwa standar kompetensi bagi level fasilitator ialah mencakup pengetahuan,   keterampilan dan sikap   kerja   Penyuluh   Pertanian   dalam   membuat   media penyuluhan tercetak. Media tercetak   yang dimasukan meliputi poster, leaflet, folder, peta singkap, brosur, dan lain-lain.

Kaidah yang diharapkan dapat memenuhi Isi pesan yang ingin disampaikan, komposisi gambar, warna dan isi pesan yang akan disampaikan, Ilustrasi gambar, warna dan isi pesan yang akan disampaikan, penggunaan jenis dan ukuran huruf isi pesan yang akan disampaikan. Standar teknis pada pembuatan media tercetak meliputi jenis kertas, ukuran kertas, ketebalan kertas. lipatan kertas, dan jumlah lembar.

 

Dalam membuat media penyuluhan pertanian dalam bentuk media tercetak warna merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penyajiannya di berbagai media yang dimaksudkan. Warna memegang peranan penting dalam media tercetak oleh karena itu kita harus mengerti arti warna, jangan sampai kita salah warna misalnya membuat home website untuk perbankan menggunakan warna dominan hitam, (bisa-bisa pelanggan ragu dan tidak dipercaya karena kurang pas, tema hitam cocok untuk website games, website photo gallery, dan juga photo slide).

Warna dapat diartikan sebagai sebuah spektrum tertentu yang terdapat di dalam cahaya yang sempurna/putih. Dalam dunia desain, Warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya yang dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Misalnya pencampuran pigmen magenta dan cyan dengan proporsi tepat dan disinari cahaya putih sempurna akan menghasilkan sensasi mirip warna merah.

Warna dasar dapat dibagi dalam 2 golongan, yang pertama adalah warna dasar primer yang terbagi menjadi 2 golongan, Warna dasar primer ke satu yaitu merah, kuning dan biru yang digunakan sebagai warna dasar untuk melihat benda. Warna dasar yang kedua terdiri dari warna dasar merah, hijau dan biru warna dasar ini digunakan untuk melihat cahaya (warna dasar yang terlihat saat kita menonton TV ataupun layar monitor dikomputer). Warna dasar primer menurut teori warna pigmen dari Brewster adalah warna-warna dasar. Pada awalnya, manusia mengira bahwa warna primer tersusun atas warna Merah, Kuning, dan Hijau. Namun dalam penelitian lebih lanjut, dikatakan tiga warna primer adalah: Merah (seperti darah), Biru (seperti langit atau laut), Kuning (seperti kuning telur).

Turunan warna dikenal dengan warna sekunder dan tersier, warna sekunder adalah Warna yang dihasilkan dari percampuran 2 jenis warna dasar primer dalam sebuah ruang warna. Contohnya dalam peralatan grafis, terdapat tiga warna primer cahaya:    (R = red) merah, (G = green) hijau, (B = blue) biru atau yang lebih kita kenal dengan RGB yang bila digabungkan dalam komposisi tertentu akan menghasilkan berbagai macam warna. Misalnya pencampuran 100% merah, 0% hijau, dan 100% biru akan menghasilkan interpretasi warna magenta. Di dalam komputer kita juga mengenal berbagai warna untuk kebutuhan desain Website maupun Grafis dengan kode bilangan Hexadecimal. Berikut ini campuran warna RGB yang nantinya membentuk warna baru misalnya Merah + Hijau = Kuning, Merah + Biru = Magenta, Hijau + Biru = Cyan.
Pada prinsipnya teori untuk pigmen seharusnya bisa diterapkan untuk warna cat juga, tetapi cat yang mula-mula dipakai, pencampurannya dilakukan jauh sebelum adanya ilmu pengetahuan warna modern, dan karena pigmen yang tersedia pada masa itu juga terbatas. Khususnya warna pigmen cyan dan magenta alami sulit didapat, oleh karena itu dipakai warna biru dan merah. Dengan demikian sampai saat ini secara luas diajarkan bahwa merah, kuning dan biru adalah warna primer sedangkan jingga/orange, hijau dan ungu adalah warna sekunder. Warna tersier merupakan hasil dari penggabungan warna sekunder dengan jenis warna primer,
misalnya; Oranye + Merah = Merah-Oranye.

Mengingat pentingnya warna maka mari kita mengetahui arti – arti warna yang dominan digunakan dalam mendisain media penyuluhan pertanian dalam bentuk tercetak, diantaranya warna:


KUNING        = Matahari, cahaya, kejayaan dan keluhuran budi.
MERAH         = Api, semangat dan keberanian, bahaya, keamanan, waspada.
BIRU              = Kejujuran, ketekunan, dan pandangan yang luas, kedamaian,    

                          ketenangan, kepercayaan kepada diri sendiri, keseimbangan,

                         semangat batin.
HIJAU            = Uang, keberuntungan, menarik perhatian, keindahan, menyejukkan
PUTIH            = Lambang kesucian dan kejujuran, kesopanan
ORANYE       = Optimisme dan dinamika
HITAM            = Berwibawa, elegan, maskulin

Ketika merancang sebuah karya, baik itu digunakan dalam mendisain media bentuk tercetak dan terproyeksi kita sering kesulitan menentukan warna yang cocok dengan tema atau kesan yang diinginkan. Untuk itu dalam menentukan warna alangkah baiknya jika kita sudah:1) Menyiapkan tema dan kesan yang diinginkan untuk didesain (apakah berkesan klasik, modern, natural, atau yang lain tergantung kebutuhan anda).2) Mencari ilustrasi atau foto yang sesuai dengan tema. (bisa dari sumber pribadi hasil jepretan foto anda sendiri, atau fasilitas free image seperti Stock Exchange di Internet).3) Menyeleksi ilustrasi dan dipadukan dengan warna yang sesuai.4) Menyusun desain anda menggunakan software desain yang anda miliki seperti Corel Draw, Photoshop, atau Software sejenis. 5) Memadukan warna layout desain anda, mulai dari header, headline, background. 6) Cobalah beberapa alternatif untuk komposisi warnanya yang sesuai dengan kebutuhan hasil tampilan.

Referensi:

Swasti, Wirania, A-Z Warna Interior Rumah Tinggal, Bogor; Kriya Kreasi, 2010.

Bassano, Marry, Terapi Musik dan Warna (Manfaat musik   dan Warna bagi
                           kesehatan),terjm, Susilowati dan Hafidz Hidayat, Yogyakarta; 2009.

Nugroho, Eko, Pengenalan Teori Warna, Yogyakarta: ANDI, 2008.