Circadian A Clock Regulation Pada Fisiologi Reproduksi

Circadian A Clock Regulation Pada Fisiologi Reproduksi

 

Oleh :
drh. Widya Ayu Prasdini – BBPP Batu

Circadian a clock regulation adalah waktu penentu sekresi melatonin (Dengan makna lain adalah pengaturan jam tidur). Sekresi melatonin telah dimulai sejak umur bayi kurang dari 3 bulan (sekeresinya sangat sedikt), kemudian pada bayi yang lebih besar sekresinya meningkat dan pada usia 1-3 tahun dimulailah ritme sirkadian dimana produksi mencapai puncak (325 pg/ml). Pada saat tersebut, dimulai juga perbedaan waktu dalam mempengaruhi melatonin yang disekresikan, dimana pada siang hari sekresi lebih sedikit dibandingkan pada malam hari. Dan pada usia 3 tahun, sekresi melatonin akan menurun secara bertahap sampai dewasa muda (10-60 pg/ml). Peningkatan sekresi melatonin saat gelap dan mencapai puncak pada tengah malam (jam 2 – jam 4) kemudian akan menurun (Brzesinki, 1997).

Melatonin merupakan hormon peptida golongan endokrin yang disintesa oleh kelenjar pineal, dan ovarium merupakan reseptornya. Produksi melatonin akan berefek langsung terhadap aktivasi produksi estrogen, dengan cara :

a.Menurunkan sintesa estradiol di kelenjar gonad (down regulation) yang mengakibatkan rendahnya estrogen di sirkulasi darah. Melatonin merupakan anti estrogenik.

b.Menurunkan aktivitas enzim aromatase yang berfungsi dalam sintesa estrogen dari androgen (Selective estrogen enzym modulator)

Dengan tingginya melatonin dalam tubuh dapat berfungsi sebagai antikanker karena melatonin dapat berperan sebagai radikal bebas dan beberapa kanker payudara disebabkan tingginya estrogen dalam darah. Selain itu melatonin terkait dengan peningkatan efek endorphin yang dihasilkan tubuh dalam mengatasi stress dan rasa sakit serta menghambat kerja enzin 5 alfa reduktase dalam penguraian hormon testosteron pada pria. Endorfin merupakan penenang alami yang dapat mengendalikan dorongan seks dan pemicu hormon prolaktin dan oksitosin dalam produksi ASI. (Sandra Y. 2011)

Sumber :

Brzezinski, A. 1997. Melatonin in Human. New England Journal of Medicine, 336 (3). pp. 186- 195

Sandra Y. 2011. Melatonin dan Kanker Payudara. Majalah Kesehatan Pharma Medika. Vol. 3. No.2

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550