BIOSECURITY PADA PETERNAKAN SAPI PERAH

BIOSECURITY PADA PETERNAKAN SAPI PERAH

 Oleh : drh.Reni Indarwati (Widyaiswara BBPP-Batu)

 Sasaran akhir tiap usaha peternakan adalah pencapaian keuntungan dari usaha tersebut. Keuntungan maksimal hanya akan dicapai bila semua ternak berada dalam keadaan sehat. Untuk berproduksi sebaik-baiknya,seekor hewan harus sehat.Selain sehat,keuntungan yang optimal akan tercapai jika ada perhatian terhadap tata laksana reproduksi, penggunaan bibit yang unggul,pengelolaan perusahaan yang baik, pengelolaan pakan yang cukup kualitatif,pengelolaan pasca panen, dan yang lebih penting lagi adalah biosekuriti.

Biosekuriti ini adalah garda terdepan untuk mengamankan ternak dari penyakit. Peternakan yang menerapkan program biosekuriti akan bisa menekan biaya kesehatan ternak menjadi lebih murah dibanding peternakan yang tidak menerapkan biosekuriti. Karena penanganan penyakit jika sudah terjadi outbreak dalam sebuah peternakan tentu akan mengahabiskan banyak biaya.

Dengan pertimbangan itulah, penerapan biosekuriti dalam sebuah peternakan menjadi sebuah keharusan guna mencapai keuntungan yang lebih di dalam usaha peternakan, disamping juga untuk mencegah terjadinya outbreak penyakit dalam sebuah wilayah.

Definisi Biosekuriti

Biosekuriti adalah semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan dengan peternakan tertular,dan mencegah penyebaran penyakit. Di dalam ilmu epidemiologi ( ilmu yang mempelajari sebaran penyakit), dikenal istilah segitiga epidemiologi, yang meliputi inang (host), lingkungan, dan agen penyakit. Keseimbangan tiga hal tersebut harus dijaga, salah satu caranya dengan biosekuriti.

Biosekuriti tidak hanya pembersihan dan desinfeksi lingkungan peternakan, tapi ada 3 (tiga) pondasi utama yang menjadi penopang keberhasilan biosekuriti, yaitu : isolasi, traffic control (pengawasan lalu lintas) dan sanitasi . Tanpa adanya ketiga hal tersebut, penerapan biosekuriti dalam peternakan tidak akan berjalan optimal sesuai dengan tujuan.

Manfaat Biosekuriti Pada Peternakan Sapi Perah

Penerapan biosekuriti pada peternakan unggas/poultry lebih sering kita dengar daripada pada peternakan sapi perah, hal ini terjadi karena biosekuriti pada peternakan unggas lebih dulu diterapkan daripada peternakan sapi perah.

Jika usaha peternakan ingin mencapai keberhasilan dan keuntungan ynag maksimal,maka penerapan biosekuriti menjadi sebuah keharusan. Ada beberapa manfaat yang diperoleh jika sebuah peternakan menerapkan biosekuriti, antara lain :

1.Biosekuriti merupakan benteng pertama dalam usaha pencegahan penyakit.

2.Biosekuriti menjaga kesehatan ternak.

3.Menjaga pertumbuhan ternak agar tetap baik dengan rasio konversi pakan yang baik pula.

4.Menekan biaya kesehatan ternak menjadi lebih murah. Karena jika ternak sudah terserang penyakit, maka biaya untuk pengobatan akan lebih besar, belum lagi kerugian yang harus ditanggung peternak misalnya karena peternak harus memperpanjang masa istirahatnya untuk memutus rantai penyakit.

5.Memperoleh hasil/produk yang bagus, karena biosekuriti menciptakan lingkungan yang kondusif bagi ternak untuk berproduksi.

6.Jika ternak dapat berproduksi dengan baik,maka keuntungan sudah pasti didapatkan.

Inti dari semua manfaat di atas, bahwa biosekuriti adalah investasi dan asuransi dalam usaha peternakan sapi perah. Bilamana sekarang dilakukan, hasilnya baru dapat dirasakan belakangan.

Gambar 1.Grafik Pengaruh biosekuriti dalam peternakan

A.ISOLASI

Salah satu diantara tiga pilar yang mendukung kesuksesan biosekuriti adalah isolasi. Yang dimaksud isolasi disini adalah usaha untuk membuat seminim mungkin terjadinya kontak antara lingkungan kandang dengan lingkungan luar kandang. Secara umum isolasi terdiri atas dua hal yang utama, yaitu bioexclusion dan biocontainment. Bioexclusion berarti upaya mencegah masuknya penyakit ke dalam farm, sedangkan biocantoinment adalah upaya mencegah penyakit menyebar ke luar farm. Upaya isolasi ini meliputi 80% dari semua kegiatan biosekuriti.

Langkah- langkah penerapan Isolasi dalam Peternakan Sapi Perah.

Ada beberapa langkah untuk melakukan isolasi, yaitu :

  1. 1. Karantina Terhadap Sapi yang Baru Masuk

Tindakan ini meliputi :

            a.Setiap ternak yang masuk dari luar wilayah ke dalam farm harus bebas dari penyakit menular. Sapi perah harus bebas dari penyakit :

          Anhtrax

          Brucellosis

          Bovine Genital Camphylobacteriosis (BGC)

          Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR)

          Enzootic Bovine Leucosis (EBL)

          Trichomonosis

          Bovine Viral Diarrhea (BVD)

          Leptospirosis

          Mastitis

          Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

          Theilleriosis

          Septichaemia Epizootica (SE)

          Tubercullosis (TBC)

          Salmonellosis

          Johne’s disease (Para Tubercullosis)

          Parasit cacing

          Parasit darah

          Orf
b.Setiap ternak yang masuk ke dalam farm harus dilakukan isolasi di kandang isolasi/karantina sekurang-kurangnya 14 hari sampai dengan 90 hari.
c.Selama ternak berada di kandang isolasi/karantina dilakukan pengamatan terhadap status kesehatannya dan pengujian di laboratorium terhadap kemungkinan adanya penyakit. Ternak yang dinyatakan sakit dilakukan pengobatan atau diafkir (bagi penyakit-penyakit tertentu) untuk meminimalisir perpindahan penyakit.
d.Ternak yang sudah keluar dari farm apabila dimasukkan kembali harus melalui prosedur perlakuan terhadap ternak yang baru masuk.

2.Pemisahan kelompok-kelompok sapi bibit, sapi dara, sapi bunting, sapi siap partus, sapi laktasi,sapi induk kosong dan pedet.|
3.Fasilitas perkandangan didesinfeksi secara rutin.
4.Mencegah hewan liar maupun hewan peliharaan lain ke dalam kandang.
5.Lokasi peternakan harus berjarak 1 km dari jalan raya, pemukiman, pasar hewan dan tempat pemotongan ternak, perlu juga membuat pagar pembatas yang permanen.
6.Vaksinasi ternak secara rutin.

B. PENGAWASAN LALU LINTAS TERNAK (TRAFFIC CONTROL)

Agen penyakit dapat ditularkan melalui hewan , pakan, manusia dan peralatan. Oleh karena itu komponen lain yang menunjang keberhasilan biosekuriti adalah traffic control atau pengawasan terhadap lalu lintas/keluar masuk ternak dalam peternakan.
Langkah-langkah Traffic Control dalam Peternakan Sapi Perah.

          Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam traffic control,antara lain :

  1. 1.Ternak yang keluar masuk dalam peternakan, dan perpindahan ternak di dalam area peternakan.

Perlu dipastikan bahwa ternak yang masuk adalah ternak yang jelas status kesehatannya dan tidak carrier (pembawa) penyakit,misalnya Brucellosis. Untuk itu masa karantina terhadap sapi yang baru masuk sangat perlu untuk memastikan bahwa sapi tersebut bebas penyakit menular. Akan lebih baik lagi jika sapi-sapi yang masuk dipeternakan sudah divaksinasi.

Perpindahan ternak di dalam area peternakan harus mempertimbangkan antara kelompok ternak karantina, pedet, laktasi, bunting dan pejantan untuk meminimalisir penyebaran agen penyakit. Pedet harus terpisah dengan sapi dewasa, karena pedet rawan terserang penyakit.

Tabel. Jenis Penyakit dan Cara penyebarannya

1.Pembersihan area peternakan sebelum sapi baru masuk.

2.Kontrol terhadap kendaraan yang keluar masuk area peternakan.

Kendaraan pengangkut pakan, pengangkut feces, pengangkut hewan mati,traktor,dll yang akan masuk area peternakan dalam kondisi bersih. Hal ini untuk menghindari kontaminasi, misalnya disediakannya bak dipping dan entry shower antiseptik untuk kendaraan pada gerbang masuk area.


Gambar 2. Desinfeksi kendaraan

 

1.Kontrol terhadap pengunjung/petugas yang keluar masuk area peternakan.

Pemasangan tanda khusus yang tidak membolehkan setiap orang masuk area peternakan kecuali yang berkepentingan perlu diterapkan.

Gambar 3. Tanda peringatan sebelum masuk area peternakan

Jika ada pengunjung, maka harus dibatasi terutama di kandang sapi, tempat pencampuran pakan dan klinik hewan. Jika ingin melihat kondisi peternakan,akan lebih baik jika disediakan mobil khusus dari peternakan yang bersangkutan dengan rute yang aman bagi ternak. Begitu juga bagi petugas rutin (dokter hewan,paramedis,petugas kandang,dll) jika akan memasuki area peternakan harus dalam kondisi bersih, baik dari pakaian, peralatan dan alas kaki. Penyediaan bak dipping alas kaki pada pintu masuk kandang dan kran pencuci tangan harus ada untuk peternakan yang menerapkan biosekuriti. Setiap petugas dilarang mempunyai tugas rangkap.

1.Tempat pembuangan atau pembakaran hewan mati ditempatkan jauh terpisah dari area pembibitan.
2.Program pengendalian hewan yang dapat menyebarkan penyakit (misal rodensia,dll). Rodensia berperan sebagai vektor/pembawa agen penyakit.

C.SANITASI
Sanitasi dalam sebuah peternakan dilakukan selain untuk mencegah terjangkitnya penyakit juga untuk meminimalkan kemungkinan penularan penyakit. Sanitasi dalam sebuah peternakan harus disiplin diterapkan demi menunjang keberhasilan program biosekuriti.
Ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam penerapan program sanitasi dalam peternakan sapi perah, yaitu :

1.Sanitasi orang dan peralatan yang keluar masuk di area Peternakan.

Setiap orang dengan pakaian dan alas kaki yang digunakan di area peternakan harus dalam kondisi bersih. Termasuk juga pengunjung wajib mematuhi tindakan sanitasi dengan ketat. Sepatu booth atau alas kaki sebelum masuk ke area perkandangan harus bersih dan disikat dari kotoran kemudian di dipping dengan didesinfektan.

 

 

 

 

Gambar 4. Menyikat dan dipping sepatu booth sebelum masuk kandang

 

   Gunakan terpisah peralatan pakan dan pembersih kandang, atau bersihkan dengan cermat bila akan digunakan lagi.

   Jangan tinggalkan alat pembersih kotoran dalam kandang kelompok ternak lain.

   Bersihkan dan disinfeksi secara rutin peralatan pakan dan peralatan handling sapi.

   Bersihkan peralatan yang tercemar sebelum digunakan pada kelompok sapi yang sehat.

   Bersihkan dan disinfeksi secara rutin peralatan medis ternak.

  Cegah kontaminasi kotoran sapi dengan pakan dan peralatan yang digunakan secara oral. Jangan menapak pada bak pakan, karena akan mencemari pakan

1.Sanitasi Kandang dan Kendaraan yang masuk area peternakan2.Sanitasi pakan.

1.Bersihkan kandang, tempat makan dan minum secara rutin dan semprotkan disinfektan secara berkala. Sisa pakan yang tidak habis segera dibersihkan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam.

2.Bersihkan dan disinfeksi kendaraan yang akan masuk ke area peternakan. Setiap peternakan yang menerapkan biosekuriti harus mempunyai bak dipping dan entry shower antiseptik untuk kendaraan pada gerbang masuk area.

3.Sanitasi terhadap pakan hewan adalah sebagai kontrol terhadap penyakit melalui oral. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sanitasi pakan, yaitu :

   Apakah sumber air/air terkontaminasi dengan feces/kotoran, sisa jaringan atau oleh rodensia.

   Penyiapan dan pemberian rumput, karena rumput dapat terkontaminasi oleh pupuk yang berpotensi menularkan penyakit.

  Penggunaan pakan konsentrat juga perlu diperhatikan proses penyimpanan dan pencampuran karena berpotensi terhadap pertumbuhan bakteri, misalnya Salmonella.

3.Sanitasi hewan/Ternak.

Sapi secara rutin dimandikan, pada sapi laktasi sebaiknya sehabis pemerahan, karena jika dimandikan sebelum pemerahan maka tubuh sapi yang basah akan mencemari susu.

4.Sanitasi pemerahan.

Sanitasi sebelum pemerahan :

     Pemerah dalam keadaan sehat,jika diperah dengan mesin pemerah, maka mesin perah dan perangkatnya dalam keadaan bersih dan sudah didesinfeksi.

       Pakaian harus bersih.

       Mencuci tangan sebelum memerah atau memerah sapi berikutnya.

       Tangan dalam keadaan kering dan bersih pada saat memerah.

Sanitasi pada saat pemerahan :

     Ambing sapi dibersihkan dengan lap yang telah dibasahi dengan air hangat atau larutan desinfektan.

    Kain lap yang kotor/sudah terpakai dimasukkan dalam ember yang lain, tidak dicampur dengan kain lap yang bersih/belum dipakai.

     Masukkan 3-4 pancaran susu dari masing-masing puting ke dalam strip cup atau paddle untuk pengamatan penyakit mastitis.

 

                     

                        Gambar 5. Uji mastitis

 

  Pemerahan dimulai dari sapi atau ambing yang sehat. Sapi yang terkena mastitis diperah terakhir.

Sanitasi setelah pemerahan :

                     –  Sapi yang selesai diperah dilakukan dipping puting atau bisa juga puting disemprot dengan larutan desinfektan, misalnya : septisol (iodine 4%)

 

Gambar 6.Dipping puting dengan iodine

5. Sanitasi ruang dan peralatan penampungan susu.

      –  Ruang penampungan susu harus terpisah/jauh dari kandang
  Ruang dan alat penampungan susu harus senantiasa bersih . Sebelum digunakan untuk menampung susu milk can harus dibersihkan dengan disikat dan disabun setelah itu dibilas dengan air bersih dan dibilas lagi dengan air panas 40⁰C atau larutan desinfektan, misalnya : kaporit dosis 200 ppm. Setelah itu milk can diletakkan terbalik di rak sampai kering.

 

DAFTAR PUSTAKA

Charles E. Gardner. 2010. Practical biosecurity in today’s dairy industry. http://www.ruminantpro.com

John Woodger. 2011. Biosecurity and Hygiene on The Dairy Farm. Farmcare GB Ltd. http://www.farcaregb.com

 John H.Kirk,DVM,MPVM. 2011. Practical Biosecurity for Dairies : Where is The Evidence and Does it Really Matter?. http://www.vetmed.UC Davis.edu

 James S. Cullor DVM,Phd. 2004. Applied Biosecurity for Dairy Farm. Veterinary Medicine Teaching and Research Center. University of California. Tulare. CA 93274

 Majalah Trobos. 2010. Biosekuriti Garda Terdepan Amankan Kesehatan. Februari. Jakarta

 ——————2007.Petunjuk Teknis Kesehatan Hewan dan Biosekuriti pada Unit Pelaksana Teknis Perbibitan. Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian

 Wisconsin Veterinary Diagnostic Laboratory. 2010. Biosecurity For Dairy Farm. http://www.wvdl.wisc.edu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

000-017   000-080   000-089   000-104   000-105   000-106   070-461   100-101   100-105  , 100-105  , 101   101-400   102-400   1V0-601   1Y0-201   1Z0-051   1Z0-060   1Z0-061   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   1z0-808   200-101   200-120   200-125  , 200-125  , 200-310   200-355   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-070   300-075   300-101   300-115   300-135   3002   300-206   300-208   300-209   300-320   350-001   350-018   350-029   350-030   350-050   350-060   350-080   352-001   400-051   400-101   400-201   500-260   640-692   640-911   640-916   642-732   642-999   700-501   70-177   70-178   70-243   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410   70-411   70-412   70-413   70-417   70-461   70-462   70-463   70-480   70-483   70-486   70-487   70-488   70-532   70-533   70-534   70-980   74-678   810-403   9A0-385   9L0-012   9L0-066   ADM-201   AWS-SYSOPS   C_TFIN52_66   c2010-652   c2010-657   CAP   CAS-002   CCA-500   CISM   CISSP   CRISC   EX200   EX300   HP0-S42   ICBB   ICGB   ITILFND   JK0-022   JN0-102   JN0-360   LX0-103   LX0-104   M70-101   MB2-704   MB2-707   MB5-705   MB6-703   N10-006   NS0-157   NSE4   OG0-091   OG0-093   PEGACPBA71V1   PMP   PR000041   SSCP   SY0-401   VCP550